Monday, 4 May 2015

PELLENG MAKANAN RITUAL PAKPAK

PELLENG MAKANAN RITUAL PAKPAK
Oleh: Edward Simanungkalit




Pada masa lampau, Pelleng merupakan makanan bagi mereka yang hendak berangkat berperang. Sebelum berangkat ke medan perang, maka mereka menyantap Pelleng sebagai makanan yang berfungsi untuk membangkitkan semangat dan keberanian. Pelleng berbentuk nasi kuning (pakai kunyit), pedas, dan agak lembek (seperti bubur, tapi bukan bubur). Biasanya Pelleng disajikan bersama ayam panggang atau ayam gulai ditambah lagi cabe rawit atau cabe merah (Si Ncina Mbara).  Pada masa sekarang, Pelleng merupakan makanan yang dihidangkan dalam acara khusus seperti hajatan, syukuran, mau berangkat merantau, menyambut tamu, mau ujian, dan lain-lain. 
http://sopopanisioan.blogspot.com
Pelleng bagi masyarakat Pakpak ada dua jenis, yaitu pelleng khas Simsim, Kelasen dan Boang serta pelleng khas Keppas dan Pegagan. Fungsi dan maknanya sama, yang membedakan hanya pengolahannya. Berikut ini bahan dan cara pengolahan dalam memasak pelleng khas Simsim sebagaimana dikemukakan oleh Mediawati Solin (2011:1-2) berikut ini:

Bahan-bahan:
1. Beras 1.5 kg
2. Ayam Kampung 1.5 kg
3. Bumbu: kunyit, jahe, kemiri, bawang merah, bawang putih, cabai, asam cikala, daun salam, serai, kelapa 2 buah, garam dan air secukupnya.

Cara Pengolahan:
Beras ditanak seperti biasa dengan  jumlah air untuk menanak lebih banyak  agar nasi lebih lunak. Pada saat akan menanak nasinya dicampurkan sedikit dengan kunyit yang telah dihaluskan agar warna kuning pada nasi tersebut merata nantinya. 
http://sopopanisioan.blogspot.com
Sementara itu bumbu lain dimasak  untuk dicampur nantinya dengan nasi lunak yang telah ditanak. Bumbu tersebut terdiri dari air hasil perahan asam cikala yang sudah dihaluskan, cabai, kunyit, jahe, bawang merah dan bawang putih yang telah dihaluskan, serai dan daun salam. Semua bumbu ini ditumis beserta air asam cikala, kemudian diberi garam secukupnya. Setelah tumisan dan air cikala matang, maka kemudian dicampur dengan nasi yang telah ditanak tadi lalu ditumbuk sampai halus hingga semua bumbunya bercampur secara merata. Setelah itu barulah dapat disebut Pelleng. 

Ayam kampung dimasak gulai. Sajian Pelleng harus dilengkapi dengan menyertakan tektek (tktk). Tektek itu terdiri dari ceker ayam dan sayap dari ayam kampung yang telah digulai dan kemudian digoreng lalu dibumbui dengan cabai, kunyit, jahe, dan kelapa  serta diberi garam secukupnya. 

Selanjutnya pelleng yang sudah masak berupa campuran nasi lunak dengan bumbu dan air asam cikala dibentuk dalam piring dengan bentuk bulat mirip nasi tumpeng. Kemudian di atas bulatan tersebut diletakkan Tektek yang akan dimakan bersamaan dengan Pelleng. Akhirnya, Pelleng pun siap dinikmati bersama gulai ayam kampung tadi (http://mediawatisolin.blogspot.com).
Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, Pelleng bukan lagi disantap saat mau berperang, tetapi berkembang kepada acara-acara lain. Sebutan pada makanan ini biasa disebut dengan ungkapan Pelleng Si Ncina Mbara. Dalam konteks masa sekarang inilah Sariaman Sinamo mengabadikannya dengan menciptakan sebuah lagu berjudul “PELLENG NCINA MBARA” berikut ini:

Kupeberkat ngo ko Lepa mi pengeranton i
Kulepaskan engkau pergi ke tanah perantauanmu anakku
Asa tulusi mo nggeluhmu i segennep ari i
Biarlah engkau mencari kehidupanmu sehari-hari
Kini ndorta ngo makin sa Ko laus mi ladang deba
Rasanya terlalu cepat engkau pergi ke tanah yang jauh di sana
Enget kami pertuamu Sitading i kuta en
Ingatlah kami orangtuamu yang engkau tinggalkan di kampung ini

Pulung mo kita Sempanganen alepa Mangan pelleng Si ncina mbara
Berkumpullah kita makan bersama anakku makan pelleng yang pedas membara
Rebbak mersodip Mendahi Tuhan i I perbincar mata ni ari i
Bersama berdoa memohon kepada Tuhan di saat fajar menyingsing
Imo tanda perberkatmu 
Itulah tanda keberangkatanmu
Asa burjuken alepa ha ...
Agar engkau baik-baik anakku tersayang

Langkah ken mo lepa Dalani hanjar-anjar
Langkahkanlah kakimu anakku berjalanlah perlahan
Karina angan-anganta Merbua janah merandal
Semua impian kita kiranya dapat tercapai
Bage mo ate rezeki Bage mo tennah mo sodip
Begitulah rezeki permintaan hati, Begitulah nasihatlah doa
Enget kami pertuamu Sitading i kuta en
Ingatlah kami orangtuamu yang engkau tinggalkan di kampung ini 
http://sopopanisioan.blogspot.com
Demikianlah makanan ritual Pakpak yang disebut Pelleng Si Ncina Mbara. Bila berkunjung ke Tanah Pakpak jangan lupa dengan makanan yang satu ini. ***

http://sopopanisioan.blogspot.com                                                                                                                     

SISA PENINGGALAN HINDU DI TAPANULI

SISA PENINGGALAN HINDU DI TAPANULI

Oleh: Edward Simanungkalit


 

Di kawasan Padang Lawas banyak ditemukan candi yang dikenal dengan nama Candi Portibi yang diperkirakan berasal dari abad ke-11 Masehi. Candi Portibi tersebut merupakan peninggalan Buddha yang mirip seperti candi di Muara Takus, Jambi. Sementara di tempat lain di Simangambat, Madina  masih ditemukan candi  dan situs peninggalan Hindu masa lampau yang akan menjadi pembahasan pada kesempatan ini.

 

1.    Candi Simangambat

 

Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan maritim dan perdagangan yang banyak berhubungan dengan kerajaan-kerajaan di daerah lain hingga jauh ke berbagai kawasan di Asia Selatan, Tenggara dan Timur. Kerajaan ini juga mengembangkan ajaran Buddha dan dikenal sebagai pusat pengajaran Buddha, khususnya Buddha Mahayana. Hal ini tampak dari berbagai peninggalan masa lalu yang banyak bercirikan Buddha. Meskipun demikian, kehidupan beragama dari masyarakat di wilayah kerajaan Sriwijaya bukan hanya agama Buddha Mahayana saja, tetapi ajaran dan agama lainpun juga ada berkembang. Bukti-bukti arkeologis yang ditemukan berupa arca batu ada yang bercirikan agama Hindu, Tantri dan Wajrayana. Arca Hindu ditemukan juga di Palembang berupa arca Ganesha (abad ke-9 M) dan arca Syiwa yang membuktikan bahwa di Sriwijaya terdapat kelompok masyarakat pemeluk agama Hindu  (Taim, 2010:1-4). Dapat disimpulkan bahwa penganut agama Buddha dan agama Hindu hidup berdampingan di dalam masyarakat kerajaan Sriwijaya walaupun penganut agama Buddha lebih dominan.

  http://sopopanisioan.blogspot.com

Selain Candi Portibi di Padang Lawas yang bercirikan Buddha, maka masih ada ditemukan Candi di Simangambat yang pertama kali dilaporkan Schnitger pada tahun 1937. Dikatakannya bahwa candi ini berupa candi batu bata yang sudah runtuh terdiri dari bangunan induk dan beberapa perwara (Schnitger, 1937). Tim Puslitbang Arkenas melakukan penggalian pertama kalinya pada tahun 2008 di mana ditemukannya pintu masuk candi yang berada di sisi timur dan lain-lain. Penelitian ini dilanjutkan pada tahun 2009 oleh tim Puslitbang Arkenas bersama tim dari Balai Arkeologi Medan hingga 80% bagian dari candi berhasil ditampakkan (Taim, 2010:2-3). Penelitian yang dilakukan oleh tim Puslitbang Arkenas dan tim Balai Arkeologi Medan ini banyak diberitakan oleh media-massa pada saat itu.

 

Candi Simangambat ini berada di Simangambat, Kecamatan Siabu, Kabupaten Mandailing Natal. Candi ini letaknya sekitar 100 meter di sebelah timur dari jalan raya antara Simangambat – Penyabungan. Penggalian yang dilakukan di situs itu menghasilkan beberapa artefak sebagai temuan. Candi ini berukuran 4 x 4 m dengan pintu candi berada di  sisi timur. Bahan bangunan terdiri dari bata dan batu pasiran, umumnya bahan bata berada pada bagian dalam. Pada penggalian tahun 2009, di bawah makara candi ditemukan arca Nandi, sehingga dengan adaya temuan ini, maka dapat dipastikan bahwa Candi Simangambat merupakan candi berunsur agama Hindu (Taim, 2010:3-4). Banyak lagi uraian secara teknis tentang candi ini, tetapi untuk menyerdehanakannya dlakukan dengan meringkas seperti ini.

 Embedded image permalink

Di antara peninggalan Tantrayāna atau Wajrayāna di Candi Portibi, Padang Lawasmaka ada jugapeninggalan Hindu, seperti peninggalan di Simangambat, Bonan Dolok, Porlak Dolok (Schnitger, 1937: 14--15, 17). Dengan ditemukannya arca Ganesha di Porlak Dolok sekitar 2 km dari Candi Simangambat, maka dapat dikatakan bahwa gugusan candi Hindu lebih terkosentrasi pada wilayah Mandailing Natal dan sekitarnya. Arca Ganeśa yang ditemukan di Porlak Dolok pada bagian tubuhnya terdapat prasasti dan angka tahun 25 Oktober 1213 Masehi (Schnitger, 1937: 17; Damais, 1952: 100--101).

  http://sopopanisioan.blogspot.com

Meskipun pada arca Ganesha di Porlak Dolok terdapat angka tahun 1213 M, tetapi belum dapat dipastikan apakah arca tersebut adalah semasa dengan CandiSimangambatTeknologi dalam konstruksi candi menggunakan  sistem batu isian adalah sama seperti yang ditemukan pada candi-candi tua di Batu Jaya, Jawa Barat dan Kedulan, Jawa Tengah  abad ke- 9 Masehi. Gaya seni yang terdapat pada relief makara dan kala berbeda dengan yang ada di candi-candi Padang Lawas pada umumnya, sehinggamemberikan kemungkinan bahwa Candi Simangambat berasal dari masa yang berbeda dengan candi-candi Padang Lawas itu. Keberadaan  Candi Simangambat bercorak Hindu di wilayah Mandailing Natal membuat semakin terbuka khasanah keagamaan Hindu di Sumatera Utara (Taim, 2010:4-5). Sementara Eri Sudewo dari Balai Arkeologi Medan mengatakan bahwa jejak situs Candi Simangambat ini lebih tua daripada Candi Bahal di Padang Lawas dan kemungkinan ada sejak abad ke-9 sampai ke-10 Masehi (Kompas, 25/06-2009).

 

Candi Simangambat yang telah dibicarakan di atas terletak di Kabupaten Mandailing Natal. Candi ini merupakan candi peninggalan Hindu kuno.  Candi Simangambat berbeda dari Candi Portibi di Padang Lawas. Candi Portibi merupapan candi Buddha yang berasal dari abad ke-11 Masehi. Sedang Candi Simangambat diperkirakan berasal dari abad ke-9 Masehi. Keberadaan candi ini menunjukkan kepada kita sekarang ini bahwa sudah  kehidupan masyarakat yang teratur dan tertata rapi di masa lalu. Masyarakat yang teratur dan tertata rapi inilah yang membangun candi Simangambat dengan penguasaan teknologi sebagaimana ditunjukkan melalui bangunan candi tersebut. Jelas, bahwa pada abad ke-9 Masehi sudah ada masyarakat dengan penguasaan teknologi yang memadai di Tapanuli.

 

2.    Situs Hopong

  http://sopopanisioan.blogspot.com

Di dusun Hopong, kecamatan Simangumban, Pahae, Tapanuli Utara ada ditemukan situs sejarah yang berciri Hindu. Tempat situs ini agak jauh ke dalam, sehingga agak sulit menjangkau tempat tersebut. Benda-benda sejarah banyak ditemukan di sana seperti patung, situs batu, dan gua. Benda-benda tersebut sudah banyak yang rusak maupun yang hilang. Meskipun demikian, ada lebih dari sepuluh patung yang masih utuh, tetapi ada juga yang disimpan oleh penduduk setempat.  Akan tetapi, sampai sekarang belum pernah ada dilakukan penelitian di sana. Entah kenapa situs ini dibiarkan saja begitu dan tidak dijamah melalui penelitian ilmiah.

 

Benda -benda bersejarah di situs Hopong ini membutuhkan keterlibatan pemerintah dan masyarakat di sekitar kawasan Dusun Hopong untuk menjaga, merawat dan melestarikannya. Situs sejarah di Dusun Hopong itu merupakan bukti adanya kehidupan di kawasan tersebut sejak zaman Hindu kuno. Benda-benda dan situs bersejarah itu membutkikan bahwa sejak dahulu kala sudah ada kehidupan yang tertata dengan sangat baik. Ini merupakan salah satu kekayaan kita. Di sana masih tersisa beberapa peninggalan Hindu yang sangat berharga berupa patung (Waspada, 16/05-2011).

 

Bila kita menghubungkan situs Hopong ini dengan Candi Simangambat sebelumnya, maka mungkin saja ada hubungannya yang sama-sama berciri Hindu dan berasal dari zaman yang sama. Jarak situs Hopong dengan Candi Simangambat tersebut dapat dikatakan tidak terlalu jauh. Oleh karena itu, menarik untuk mencermati kedua situs ini dan hubungannya. Untuk itulah diperlukan penelitian yang lebih mendalam terhadap situs Hopong ini dengan melibatkan arkeolog dan para ilmuwan lainnya. Di sinilah perlunya Pemerintah Daerah Kabupaten Tapanuli Utara memprakarsai usaha penelitian ilmiah atas situs tersebut di samping menjaganya dari pencurian dan perusakan. ***

 

 

Telah dimuat di:
Harian BATAK POS
Edisi Sabtu, 23 Februari 2013 

 http://sopopanisioan.blogspot.com

 



CANDI PORTIBI DI PADANG LAWAS TANDA KEBESARAN MASA LALU

CANDI PORTIBI DI PADANG LAWAS TANDA KEBESARAN MASA LALU
Oleh: Edward Simanungkalit



Candi Portibi merupakan sekumpulan candi yang terdapat di Padang Lawas dan Padang Lawas Utara. Candi-candi tersebut tersebar di sepanjang aliran Sungai Batang Pane, Sirumambe, dan Sungai Barumun, terdiri dari setidaknya enambelas kompleks percandian atau dalam bahasa setempat lebih dikenal sebagai biaro atau biara yang merupakan adopsi dari kata dalam bahasa Sansekerta, vihara yang berarti tempat belajar mengajar dan ibadah khususnya bagi penganut agama Buddha.

Sebagian pihak menyebutkan Candi Portibi ini merupakan peninggalan kerajaan Pannai dan sebagian lagi menyebutnya sebagai peninggalan kerajaan Portibi. Kerajaan Portibi berarti kerajaan dunia atau bumi dalam bahasa Batak. Julkifli Marbun (2006:1-4) mengatakan bahwa Kerajaan Portibi ini merupakan aliansi dari Kerajaan Pane. Beberapa ahli yang sudah melakukan riset penting di Candi Bahal antara lain Franz Junghun (1846), Von Rosenberg (1854), Kerkhoff (1887), Stein Callenfels (1920 dan 1925), De Haan (1926), Krom (1923), dan F.M. Schinitger yang dikenal berjasa mengungkap sejarah kepurbakalaan di Sumatera.

   
Catatan tertua mengenai kapan ditemukan kompleks biaro di Padanglawas diperoleh dari Franz Junghun, seorang ahli geologi dan Komisaris  Hindia Timur pada tahun 1846. Setelah Junghun, kemudian berturut-turut dikunjungi oleh von Rosenberg pada tahun 1854 dan Kerkhoff pada tahun 1887. von Rosenberg dari Padanglawas membawa beberapa fragmen arca untuk ditempatkan di Museum Batavia. Arca yang dibawa antara lain sebuah arca Buddha. Kerkhoff, seorang Kontrolir di Tapanuli, dalam tulisannya menyebutkan "biara", Si Pamutung, dan "kuburan di Gunung Tua". Selain itu ia juga mempublikasikan secara rinci mengenai temuan-temuan hasil pengumpulan Franz Junghun di Padanglawas (Utomo, 2006:1-4)                                                                                                   http://sopopanisioan.blogspot.com
Dari sekian banyak laporan dan tulisan mengenai percandian di Padanglawas, tulisan Schnitgerlah  yang terlengkap, karena ia adalah seorang kurator di Museum Palembang dan pelopor ekspedisi arkeologi di Sumatra pada tahun 1935 dan 1936. Menurut Schnitger, biaro-biaro di Padanglawas dibangun bersamaan dengan stupa-stupa di Muara Takus, yaitu pada sekitar abad ke-12. Lebih lanjut ia menambahkan bahwa biaro-biaro di Padanglawas dibangun pada abad ke-11-14 Masehi (Suleiman 1985: 25). Pendapatnya ini didasarkan atas pembacaan dari tulisan-tulisan singkat yang ditemukan di situs tersebut (Harahap, 2011:5).        
Seorang peneliti Belanda bernama Krom menulis tentang Padanglawas pada tahun 1923. Dia menyebutkan bahwa peninggalan-peninggalan di Padanglawas disebut "on Javaansch" yang berarti "gaya seni pahat bangunan-bangunan di Padanglawas tidak mirip dengan gaya seni pada bangunan-bangunan di Jawa".  Dalam telaahnya ia melihat banyak persamaan dengan pahatan di India Selatan atau Asia Tenggara daratan dan Krom menghubungkan peninggalan di Padanglawas dengan Śrīwijaya. Sedang pada tahun 1930, Bosch mengajukan suatu teori bahwa masyarakat pendukung biaro di Padanglawas adalah pemeluk agama Buddha aliran Wajrayāna. Anggapannya ini didasarkan pada indikator artefak yang ditemukannya berupa arca dan relief yang menggambarkan wajah-wajah yang menyeramkan dan prasasti singkat yang bertuliskan mantra-mantra aliran Tantris (Utomo, 2006:7).

Candi-candi di desa Bahal, yaitu Candi Bahal I, Candi Bahal II dan Candi Bahal III, adalah tiga di antara 26 reruntuhan candi yang tersebar di atas tanah seluas 1.500 km2 di kawasan Padang Lawas. Ada dugaan bahwa Candi Bahal ini tidak dibangun umat Buddha, karena tiada situs patung Buddha ditemukan di sana. Satu-satunya ornamen yang tertinggal sebagai simbol pemujaan adalah patung singa dan pahatan-pahatan aneh di dinding candi. Dari temuan sejumlah artefak, analisa konstruksi bangunan beserta materialnya yang dominan bata merah dengan ukuran beragam, batuan tuff (batuan sungai) untuk arca dan batuan kapur, memunculkan dugaan kuat bahwa candi ini berkaitan dengan agama Buddha beraliran Wajrayana (Khairulid, 2007:3).
    

Adapun nama-nama Candi di kawasan Padang Lawas ini (Nasution, 2012:2), antara lain yaitu:


1. Candi Bahal I
2. Candi Bahal II
3. Candi Bahal III
4. Candi Sitopayan
5. Candi Bara
6. Candi Pulo
7. Candi Sipamutung
8. Candi Tandihat I
9. Candi Tandihat II
10. Candi Sisangkilon
11. Candi Manggis

Di desa Bahal, terdapat tiga situs candi yang saat ini sudah dipugar. Selanjutnya ketiga candi itu diberi nama candi Bahal 1, Bahal 2, dan Bahal 3. Tempat-tempat ibadah tersebut berdiri di tepian sungai Batang Pane. Dari berbagai teori yang berkembang, kemungkinan sungai Batang Pane pernah menjadi lalu lintas perdagangan. Candi Bahal I  merupakan candi terbesar yang telah dipugar dan diberi kawat berduri pemagar komplek candi seluas 2.744 meter persegi. Dengan begitu, Bahal I merupakan candi terluas yang telah selesai dipugar bersama empat perwara-nya, yakni candi kecil di samping kiri dan depannya berbentuk bujur sangkar, menyerupai altar. Candi Bahal II dipugar pada tahun 1995 dan Candi Bahal III dipugar pada tahun 1996. Beberapa kilometer dari Candi Bahal terdapat kompleks Candi Pulo atau Barumun dan juga Candi Bara serta Candi Sitopayan.
     
Candi Sipamutung berada di Desa Siparau, Kecamatan Barumun Tengah. Lokasi candi ini berjarak sekitar 40 km dari ibukota Kabupaten Padanglawas, Sibuhuan. Komplek candi berjarak 250 meter dari pinggir aliran Sungai Barumun. Candi ini terdiri dari sebuah biaro induk dan 6 Candi perwara yang saat ini sudah dipugar. Di daerah Joreng Belangah terdapat dua situs yakni candi Tandihat-I dan Tandihat-II. Di Desa Sangkilon, Kecamatan Barumun terdapat candi yang dikenal sebagai Biaro Si Sangkilon. Jarak lokasi dengan ibukota kabupaten (Sibuhuan) sekitar 9 km. Runtuhan biaro Si Sangkilon berupa beberapa gundukan tanah yang terletak di tengah areal persawahan. Sekitar 20-30 meter menuju arah utara terbentang Sungai Sangkilon (anak Sungai Barumun di daerah hulu). 
Di kompleks percandian Padang Lawas ditemukan juga beberapa prasasti dengan berbagai jenis, sehingga bukan hanya di Jawa ditemukan prasasti. Prasasti-prasasti tersebut memiliki berbagai variasi mulai dari prasasti berbahan batu, emas, beraksara palawa maupun beraksara pasca-palawa dan apabila dilihat dari isinya terdapat berbagai hal yang berbeda dalam interpretasinya. Prasasti yang ditemukan di kompleks percandian Padang Lawas di antaranya: Prasasti Aek Sangkilon, Prasasti Tandihat 1, Prasasti Tandihat 2,  Prasasti Batu Gana 1, Prasasti Batu Gana 2, Prasasti Sitopayan 1, Prasasti Sitopayan 2, Prasasti Lobu Dolok 1, Prasasti Lobu Dolok 2, Prasasti Lobu Dolok 3, Prasasti Raja Soritaon, Prasasti Candi manggis, Prasasti Gunung Tua, dll. Prasasti-prasasti ini disimpan di Museum Nasinal Jakarta maupun Museum Negeri Sumatera Utara.
http://sopopanisioan.blogspot.com
Selain candi dan prasasti, ditemukan juga bendungan kuno raksasa yang terdapat di desa Aloban (rura Sitobu). Bendungan ini berukuran panjang hempangan sekitar 150 meter dan ada juga bendungan ukuran sedang di Sihaborgoan. Kedua bendungan tersebut tidak lagi diketahui oleh masyarakat sejarahnya, karena diperkirakan seumur dengan candi-candi tersebut. Diduga bendungan yang dibangun masyarakat tambang Batak tersebut dihancurkan oleh Rajendra Cola saat akan menjajah wilayah tersebut. Perusakan tersebut ditujukan untuk memonopoli sistem pertambangan (Marbun, 2006:2).
     
Namun sangat disayangkan bahwa kebesaran peninggalan sejarah yang masih dapat terlihat sampai sekarang semakin hari semakin mengalami kerusakan baik oleh alam dan juga dirusak para pencari harta karun. Banyak bekas peninggalan purbakala tersebut hanya menjadi puing-puing berserakan yang terabaikan dan terlupakan (Berbagai sumber). ***


Telah dimuat di:
Harian BATAK POS
Edisi Sabtu, 16 Februari 2013 

http://sopopanisioan.blogspot.com