Showing posts with label Nasional. Show all posts
Showing posts with label Nasional. Show all posts

Saturday, 4 July 2015

MENGENANG PAHLAWAN NASIONAL: Raja Singamangaraja XII Maharaja di Negeri Toba

MENGENANG PAHLAWAN NASIONAL
Raja Singamangaraja XII Maharaja di Negeri Toba
Oleh: Edward Simanungkalit


Rabu, 17 Juni 2015, genaplah 108 tahun gugurnya Raja Singamangaraja XII di Aek Sibulbulon, Pea Raja, daerah Sionomhudon. Di sanalah Raja Singamangaraja XII gugur bersama dua orang puteranya, Patuan Nagari dan Patuan Anggi, serta putrinya, Lopian. Beberapa pejuang lain termasuk pejuang Aceh turut gugur dalam pertempuran tersebut. Kemudian hari, setelah Indonesia merdeka, Raja Singamangaraja XII digelari Pahlawan Kemerdekaan Nasional dengan Surat Keputusan Pemerintah Republik Indonesia No. 590 tertanggal 19 Nopember 1961. Sungguh pahlawan gagah perkasa yang tetap teguh dan konsisten di dalam sikapnya bahwa Belanda harus angkat kaki!


Perang Toba (1878 dan 1883)
            Raja Sisingamangaraja XII adalah Maharaja di Negeri Toba dari Bangkara. Namanya Patuan Bosar dengan gelar Ompu Pulo Batu dan naik tahta pada tahun 1976 menggantikan ayahnya Singamangaraja XI yang telah meninggal. Sementara itu LI Nommensen sudah berada di Silindung sejak masa pemerintahan Raja Singamangaraja XI, karena Nommensen masuk ke Silindung pada tahun 1864.
          Masyarakat Toba adalah masyarakat yang sudah memiliki tatanan yang mengatur hidupnya di mana mereka hidup di dalam Huta-Horja-Bius. Huta-Horja-Bius merupakan elemen dasar daripada sistim kelembagaan masyarakat Toba. Singamangaraja  merupakan lembaga pemersatu masyarakat Toba secara keseluruhan. Singamangaraja dipahami sebagai inkarnasi Batara Guru, sehingga menempatkan Singamangaraja sebagai Dewa-raja. Singamangaraja bukan Pendeta-raja atau Raja-imam seperti yang biasa disebut-sebut oleh para misionaris Jerman dan hal ini merupakan usaha mereduksi makna dan status lembaga Singamangaraja. Dalam kaitan dengan pemahaman bahwa Singamangaraja adalah inkarnasi Batara Guru, maka dalam konteks inilah Singamangaraja dipanggil ‘Ompu i’,  sehingga Singamangaraja lah satu-satunya yang dipanggil ‘Ompu i”. Itulah sebabnya, menjadi aneh kalau LI Nommensen dipanggil ‘Ompu i’ juga selain daripada hanya untuk membangun kultus individu/pengkultusan.
         Para misionaris Jerman memandang masyarakat Toba sebagai bangsa kafir yang berjalan dalam kegelapan dan hasipelebeguon, barbar, tak berbudaya, kanibal, dlsb. Sementara misionaris Burton dan Ward dari Inggris menyebut masyarakat Toba sebagai masyarakat yang ramah menyambut mereka dengan pesta dan totor  pada tahun 1824. Meskipun pemberitaan Injil yang mereka sampaikan ditolak, tetapi mereka masih tetap tinggal di sana beberapa waktu dan perpisahan untuk mereka dilakukan meriah dengan pesta dan tortor sebagaimana mereka tulis sendiri di dalam memoarnya. Berbeda dengan sebuah buku riwayat pelayanan LI Nommensen dalam bahasa Toba ejaan lama yang mengatakan bahwa Burton dan Ward diusir. Mungkin penulis buku tersebut “salah mendengar informasi”, karena perhatiannya terlalu terfokus hanya kepada Nommensen dalam rangka pengkultusan.
          Dengan cara pandang misionaris Jerman yang demikian, maka dapat dibayangkan mengenai pendekatan yang mereka lakukan di dalam pemberitaan Injil. Larangan margondang dan manortor yang diganti alat musik tiup Jerman serta mengijinkan perkawinan satu marga adalah keputusan yang fatal dan ekstrim  (Kozok, 2010). Dapat dibayangkan bahwa sikap ini akan menimbulkan gejolak di dalam masyarakat Toba yang hidup di dalam sistim Huta-Horja-Bius. Apalagi Nommensen memiliki pandangan ekstrim bahwa 3-H (Hamoraon-Hagabeon-Hasangapon) adalah dosa besar.
          Sebenarnya, sejak dari awal sudah ada permasalahan yang dilakukan oleh misionaris Jerman itu, karena tindakan misionaris mengundang Gubernur Pantai Barat Sumatra Arriens menjelang Natal 1868 yang jelas-jelas melanggar kedaulatan Raja Singamangaraja XII (Kozok, 2010:20-21):
Kehadiran para zendeling di Tanah Batak tentu tidak disetujui oleh Singamangaraja XII yang menggantikan ayahnya pada tahun 1867 apalagi setelah mereka mengundang Gubernur Pantai Barat Sumatra Arriens menjelang Natal 1868. Pada kesempatan itu para misionaris menekankan kepada gubernur bahwa mereka akan menyambut baik aneksasi Tanah Batak demi adanya pemerintah yang menjalankan hukum dan keadilan (Recht und Gerechtigkeit) (BRMG 1869:300, BRMG 1871:142-3). Misionaris Johannsen malah menganggap Arriens sebagai “sungguh-sungguh wakil Allah yang untuk membawa kesenangan bagi Silindung”. Tentu Singamangaraja merasa kedaulatannya diingkari dengan kedatangan pembesar Belanda ke dalam wilayah kekuasaan Singamangaraja tetapi ternyata tidak ada reaksi apa-apa mungkin karena beliau masih muda dan belum cukup berpengalaman.
Gelagat para misionaris Jerman itu sudah terlihat dari awal akan meminta bantuan Belanda meskipun secara militer dan ekonomis tidaklah menguntungkan bagi Belanda untuk menganeksasi Negeri Toba. Baru 4 tahun (1864-1868) Nommensen di Silindung sudah memperlihatkan sikap membangkang terhadap Raja Singamangaraja XII di wilayah kekuasaannya. Kemudian mereka malah bertindak lebih jauh lagi dengan meminta bantuan kepada kolonial Belanda sekaligus untuk menaklukkan Negeri Toba:
Karena kehadiran para misionaris tidak disetujui oleh sebagian raja, terutama oleh mereka yang berpihak pada Si Singamangaraja XII, maka pada bulan Januari 1878, Singamangaraja sebagai raja yang, menurut pengakuannya sendiri, memiliki kedaulatan atas Silindung, memberi ultimatum kepada para zendeling RMG untuk segera meninggalkan Silindung.[4] Pada akhir Januari, Nommensen meminta kepada pemerintah kolonial Belanda untuk mengirim tentara untuk segera menaklukkan Tanah Batak yang pada saat itu masih merdeka (wikipedia).
Pada tahun 1877 para misionaris di Silindung dan Bahal Batu meminta bantuan kepada pemerintah kolonial Belanda dari ancaman diusir oleh Singamangaraja XII. Kemudian pemerintah Belanda dan para penginjil sepakat untuk tidak hanya menyerang markas Si Singamangaraja XII di Bakara tetapi sekaligus menaklukkan seluruh Toba.
Pada tanggal 6 Februari 1878 pasukan Belanda sampai di Pearaja, tempat kediaman penginjil Ingwer Ludwig Nommensen. Kemudian beserta penginjil Nommensen dan Simoneit sebagai penerjemah pasukan Belanda terus menuju ke Bahal Batu untuk menyusun benteng pertahanan. Namun kehadiran tentara kolonial ini telah memprovokasi Sisingamangaraja XII, yang kemudian mengumumkan pulas (perang) pada tanggal 16 Februari 1878 dan penyerangan ke pos Belanda di Bahal Batu mulai dilakukan. ... (wikipedia)
Ketika Negeri Toba dianeksi dalam Perang Toba I pada tahun 1878, ada enam penginjil di Silindung, yaitu: Johansen, Metzler, Mohri, Nommensen, Püse, dan Simoneit. Yang paling tua di antara mereka ialah LI Nommensen. Keenam misionaris Jerman inilah yang betanggungjawab atas penaklukan Negeri Toba sekaligus menjadi dijajah oleh kolonial Belanda.
          Semua tindakan mereka tersebut adalah atas sepengetahuan dan tentunya persetujuan dari Kantor Pusat RMG di Jerman meskipun kemudian tindakan tersebut mendapat kecaman. Hal ini dapat terlihat dari laporan Nommensen yang dipublisir oleh RMG di dalam majalah BRMG (Kozok, 2010) sebagai berikut:
Kalau Belanda sekarang hendak menyelenggarakan pemerintahan maka hal ini tentu membawa berkat. [..] Apakah hal itu juga menguntungkan zending, apakah dengan pemerintahan Belanda agama Islam akan masuk adalah pertanyaan yang lain lagi. Oleh sebab itu maka para misionaris belum pernah meminta agar Silindung dianeksasi. Kalau hal itu sekarang diminta [...] jelas pemerintahan Belanda juga sangat bermanfaat bagi zending kita, dan bila kelak kita harus bersaing dengan agama Islam maka sekarang agama Kristen di Silindung sudah memiliki kemajuan yang susah terkejar? (BRMG 1878:118)
BRMG, majalah RMG, membuat berita dengan memasukkan laporan LI Nommesen, sehingga diketahui bagaimana sebenarnya gambaran Raja Singamangaraja XII dalam pandangan LI Nommensen sebagai berikut:
Ceritanya begini: Di Toba, tepatnya di daerah Bangkara di pantai Danau Toba, berdiam seorang tokoh yang bergelar Singamangaraja, yang berarti, bila diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman, raja singa. Namun orang itu bukan seorang raja melainkan seorang raja-imam. Raja imam yang pertama diangkat oleh Melayu Muslim (Padri) yang datang ke sini 40 tahun yang lalu. Jadi raja imam yang awalnya Islam kini menjadi kafir. Kekuasaan, atau, lebih tepat, kewibawaan Singamangaraja – yang diperolehnya berkat adanya cerita-cerita yang tolol, misalnya bahwa lidahnya berbulu – dahulu kala terasa sampai di Silindung. Tata acara serta waktu pelaksanaan sajian yang setiap tahun harus diberi kepada rohroh juga dituruti di Silindung. Dengan masuknya injil ke Silindung maka pengaruh Singamangaraja tentu merosot, hal mana juga disadarinya sehingga berulang kali ia mencoba untuk mengusir atau membunuh para misionaris (Kozok, 2010:57).        
Dalam kaitan dengan masalah-masalah ini semuanya, misionaris Metzler menulis di dalam suratnya yang diterbitkan juga oleh BRMG (Kozok, 2010) sebagai berikut:
Memang benar bahwa penginjil kita menghancurkan dasar wibawa Singamangaraja dengan menyebarkan ajaran injil sehingga ia marah dan memusuhi kita. Dari segi itu penginjil kita memang memikul tanggung jawab atas perang itu. Selain itu diberitakan bahwa pasukan bantuan Kristen [1] bertindak secara bengis dan keji yang menunjukkan bahwa tidak ada pun nilai Kristen pada orang-orang Silindung itu. Dalam hal itu perlu kita jawab bahwa memang benar bahwa orang Silindung yang Kristen adalah teman setia Belanda, dan bahwa pasukan bantuan mereka berperang bersama pasukan Belanda. Memang benar bahwa mereka diperintahkan Belanda untuk membakar beberapa kampung. [195]. ...
Kebanyakan musuh berasal dari daerah di sekitar Danau Toba, dari Butar dan Lobu Siregar, digerakkan oleh Singamangaraja, seorang demagog yang menghasut dan mencelakakan rakyatnya. (Kozok, 2010).
Fakta-fakta yang sengaja dikutip di atas adalah untuk membeberkan bagaimana permasalahan sebelum Perang Toba dan sebagian daripada saat Perang Toba I. Melalui fakta-fakta di atas dapat disimpulkan bahwa jelas-jelas pihak misionaris Jerman itulah yang bermasalah dengan Orang Toba dan Maharaja di Negeri Toba. Sebagai solusinya, mereka meminta bantuan Belanda untuk menaklukkan Negeri Toba untuk dikuasai oleh kolonial Belanda.
          Selanjutnya, dari surat Nommensen dan Metzler diketahui bahwa para misionaris Jerman tersebut menjadi juru bahasa melakukan penyerangan ke berbagai daerah dan kampung dan membakari rumah-rumah rakyat. Seratus lebih kampung dibakar dalam rangka bumi hangus, sehinggga membuat banyak rakyat menderita terutama ibu-ibu dan anak-anaknya yang harus tidur di hutan. Tidak terhitung yang tewas, luka, dan disiksa. Mereka dipaksa membayar pampasan perang dan dipaksa bersumpah-setia kepada Belanda. Di dalam surat tersebut, berulang-ulang LI Nommensen menyebut  rakyat yang dibakari kampungnya adalah “musuh (Kozok, 2010), padahal mereka adalah bangsa Indonesia. Ketika LI Nommensen menyebut anak-anak bangsa Indonesia adalah musuhnya, maka LI Nommensen memposisikan dirinya sebagai musuh bangsa Indonesia.  Beginilah penderitaan bangsa Indonesia yang diakibatkan oleh ulah para misionaris Jerman dalam Batakmission itu. Atas jasa-jasa Nommensen terhadap Belanda ini, maka Belanda memberikan hadiah berupa uang sebesar 1.000 Gulden di atas penderitaan bangsa Indonesia.
          Hasil akhir dari Perang Toba ini ialah hancurnya kekayaan budaya Toba baik seperti huta-horja-bius dan hilangnya benda-benda budaya dibawa ke Jerman dan Belanda. Banyaknya korban jiwa dan berbagai penderitaan fisik yang dialami bangsa Indonesia di Negeri Toba yang kemudian dijajah kolonial Belanda. Gugurnya Raja Singamangaraja XII bersama dua orang putranya dan seorang putrinya disertai pejuang-pejuang lainnya pada 17 Juni 1907. LI Nommensen telah melawan ketetapan Allah di dalam Alkitab (Roma 13:1-13; 1 Petrus 2:13-14, 17).  Meskipun demikian, ada satu hal yang masih tersisa dari Perang Toba, yaitu semangat juang dan kegigihan Raja Singamangaraja XII yang konsisten sampai akhir yang patut diwarisi dan diteladani masyarakat Toba di abad ke-21 ini. Jayalah Indonesia!

(*) Pemerhati Sejarah Alternatif Peradaban


Buku ini dapat dibaca di http://nommensen.wordpress.com






Monday, 4 May 2015

Wanita Luar Biasa Dalam Lintasan Sejarah Indonesia

Wanita Luar Biasa Dalam Lintasan Sejarah Indonesia

Oleh: EDWARD SIMANUNGKALIT


INDONESIA memiliki banyak wanita luar biasa di sepanjang lintasan sejarahnya. Para wanita luar biasa itu bukan sekedar memperjuangkan harkat dan martabat kaumnya, tapi -- sadar tidak sadar -- sudah menjabarkannya dalam kenyataan hidup mereka sehari-hari. Dalam konteks ini, kita akan melihat di mana seharusnya tempat RA. Kartini, yang tanggal lahirnya (21 April) seolah sudah “dilantik” sebagai harinya kaum wanita Indonesia.

Ratu Shima (674-732), Ratu Tribhuwanatunggadewi (1328-1350), Ratu Kusuma Wardhani (1389-1426),Ratu Suhita (1426-1447), dan Ratu Kalinyamat (1508-1579)  adalah para wanita yang menjadi ratu di dalam lingkungan budaya Jawa. Sedang Puteri Lindung Bulan (1353-1389),  Ratu Nahrasiyah (1405-1428),Ratu Safiatuddin Syah (1641-1675), Ratu Nurul Alam Naqiatuddin Syah (1765-1678)Ratu Inayat Zakiatuddin Syah (1678-1688), Ratu Kamalat Zainatuddin Syah (1688-1699),  Nyi Ageng Serang(1752-1828), dan Siti Aisyah We Tenriolle (1855-1910) adalah para wanita yang menjadi ratu/pemimpin di dalam lingkungan masyarakat tertentu. Secara khusus, Siti Aisyah adalah ratu dari Tanette, Sulawesi Selatan telah membuat karya sastra sebanyak 7.000 halaman dan mendirikan sekolah yang muridnya anak laki-laki dan perempuan. Marta Christina Tiahahu (1800-1818),  Cut Nyak Dhien (1848-1908), Teungku Fakinah(1856-1938),  Cut Meutiah (1870-1910), Cutpo Fatimah (18..-1912), Pocut Meurah Intan (1873-1937), dan Pocut Baren (18..-1928) adalah para wanita yang turut berperang bahkan pemimpin dalam perang. Mereka adalah para pemimpin dalam kerajaan maupun dalam perang yang tidak kalah dengan para lelaki.

Laksamana Malahayati (hidup diakhir abad XVI-XVI) menjadi Panglima angkatan perang Kerajaan Aceh Darussalam pada masa pemerintahan Sultan Alauddin Riayat Syah Al Mukammil (1589-1604) setelah keberhasilannya memimpin pasukan wanita. Ini berawal dari pertempuran pasukan Aceh menyerang armada Portugis hingga hancur, tapi banyak pasukan Aceh yang gugur termasuk suaminya juga, Laksamana Mahmuddin bin Said Al Latief. Setelah itulah timbul ide Malahayati, Komandan Protokol Istana Kerajaan Aceh Darussalam (1585-1604), untuk membentuk pasukan wanita Inong Bale dari janda-janda pahlawan tadi, agar dapat membalaskan kematian suaminya. Malahayati memimpin 2.000 orang pasukan Inong Bale berperang melawan kapal-kapal dan benteng-benteng Belanda pada 21 Juni 1599.  Dia berhasil menewaskan Cornelis de Houtman dalam pertempuran satu lawan satu di geladak kapal dan menawan Federick de Houtman  (van Zeggelen, 1935:157). Setelah pertempuran ini Malahayati diangkat menjadi Laksamana. Selain armada laut yang kuat ini masih ada lagi pasukan gajah di darat. Banyak lagi catatan orang asing tentang Malahayati yang kehebatannya memimpin angkatan perang itu diakui oleh negara-negara asing. Laksamana Malahayati juga seorang diplomat ulung, sehingga sering menjadi delegasi dalam perundingan-perundingan dengan pihak luar. Laksamana Malahayati meninggal pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636).

Maria Walanda Maramis (1872-1924), adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia yang turut berjuang  meningkatkan keadaan wanita di Indonesia. Maria diasuh oleh pamannya di Maumbi sejak yatim-piatu di usia 6 tahun dan dimasukkan ke Sekolah Melayu di sana. Setelah menikah pada tahun 1890, Maria pun mengikuti suaminya ke Manado. Pada awalnya Maria sering menulis opini di surat kabar setempat bernama Tjahaja Siang. Ia menulis pentingnya peranan ibu dalam keluarga di mana adalah kewajiban ibu untuk mengasuh dan menjaga kesehatan anggota-anggota keluarganya sertamemberi pendidikan awal kepada anak-anaknya. Pada 8 Juli 1917, Maria dibantu oleh suami dan teman-temannya mendirikan organisasi PIKAT (Percintaan Ibu Kepada Anak Turunannya) yang bertujuan untuk memberi pendidikan pada kaum perempuan tentang rumah tangga, misalnya memasak, menjahit, merawat bayi, dan sebagainya. Pembentukan organisasi ini didasari pikiran Maria yang percaya bahwa perempuan adalah tiang keluarga di mana pada merekalah masa depan anak-anak bergantung.  Pada tanggal 2 Juli 1918 di Manado didirikan sekolah rumah tangga untuk perempuan-perempuan muda, yaitu Huishound School PIKAT. Kemudian tumbuh cabang-cabang  PIKAT di beberapa tempat di Minahasa,Bolaang Mongondow, Sangir Talaud, Gorontalo, Poso, Donggala dan Motoling. Cabang PIKAT juga terdapat di Jawa dan Kalimantan, yaitu di Batavia, Bandung, Bogor, Cimahi, Surabaya, Balikpapan, Sangu-sangu Dalam, Makassar, Magelang dan Kotaraja. Pada tahun 1932, PIKAT mendirikan Opieiding School Var Vak Onderwijs Zeressen atau Sekolah Kejuruan Putri.  Maria juga aktif mewujudkan cita-citanya supaya kaum perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki. Selain itu, Maria juga berjuang supaya perempuan diberi tempat dalam urusan politik, misalnya hak untuk memilih dan duduk dalam keanggotaan Dewan Kota atau Volksraad dan ini berhasil. Tanggal 1 Desember, tanggal kelahiran Maria, diperingati masyarakat Minahasa sebagai 'Hari Ibu Maria Walanda Maramis'. Patung Walanda Maramis dibangun juga di Komo, Manado.

Raden Ajeng Kartini (1879-1905) adalah anak bupati Jepara. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School), tetapi setelah itu dia dipingit di rumah saja. Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensiyang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon  yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi. Dia juga banyak membaca koran Semarang serta paket majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan.  Kartini menikah dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri  pada tanggal 12 November 1903. Kartini meninggal pada tahun 1904 setelah 4 hari melahirkan anaknya yang pertama.  Setelah Kartini wafat, Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada teman-temannya di Eropa. Abendanon saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya "Dari Kegelapan Menuju Cahaya". Buku kumpulan surat Kartini ini diterbitkan pada 1911. Pada 1912, Sekolah Wanita didirikan oleh Yayasan Kartini di Semarang dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon, dan daerah lainnya. Sekolah tersebut diberi nama Sekolah Kartini di bawah naungan Yayasan Kartini yang didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh politik Etis.

Dewi Sartika (1884-1947) dilahirkan di Cicalengka, Bandung. Orangtuanya menyekolahkannya di sekolah Belanda. Setelah ayahnya wafat, Dewi Sartika diasuh pamannya dari ibu di Cicalengka. Dari pamannya, dia memperoleh pengetahuan tentang kebudayaan Sunda, sedang wawasan kebudayaan Barat diperolehnya dari seorang nyonya Asisten Residen berkebangsaan Belanda. Sejak 1902, Dewi Sartika sudah merintis pendidikan bagi kaum perempuan. Di sebuah ruangan kecil, di belakang rumah ibunya di Bandung, Dewi Sartika mengajar di hadapan anggota keluarganya yang perempuan. Merenda, memasak, jahit-menjahit, membaca, menulis dan sebagainya, menjadi materi pelajaran saat itu. Dengan bantuan Bupati R.A. Martenagara, kakeknya, dan Den Hamer yang menjabat inspektur Kantor Pengajaran ketika itu, maka pada 16 Januari 1904 Dewi Sartika berhasil membuka Sakola Istri (Sekolah Perempuan) pertama se-Hindia-Belanda. Adapun tenaga pengajarnya yaitu: Dewi Sartika sendiri dibantu dua saudara misannya, Ny. Poerwa dan Nyi Oewid. Murid-murid angkatan pertamanya terdiri dari 20 orang menggunakan ruangan pendopo kabupaten Bandung. Pada tahun-tahun berikutnya di beberapa wilayah Pasundan bermunculan beberapa Sakola Istri, terutama yang dikelola oleh perempuan-perempuan Sunda yang memiliki cita-cita yang sama dengan Dewi Sartika. Tahun 1906, Dewi Sartika menikah dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata, seseorang yang memiliki visi dan cita-cita yang sama, guru di Sekolah Karang Pamulang, yang pada waktu itu merupakan Sekolah Latihan Guru. Pada tahun 1912 sudah berdiri sembilan Sakola Istri di kota-kota kabupaten. Pada  tahun 1914, nama sekolahnya diganti menjadi  Sakola Kautamaan Istri (Sekolah Keutamaan Perempuan). Semangat ini menyeberang ke Bukittinggi, di mana Sakola Kautamaan Istri didirikan oleh Encik Rama Saleh. Seluruh wilayah Pasundan lengkap memiliki Sakola Kautamaan Istri di tiap kota kabupatennya pada tahun 1920 ditambah beberapa yang berdiri di kota kewedanaan. Pada September 1929, Dewi Sartika mengadakan peringatan pendirian sekolahnya yang telah berumur 25 tahun, yang kemudian berganti nama menjadi "Sakola Raden Déwi". Atas jasanya dalam bidang ini, Dewi Sartika dianugerahi bintang jasa oleh pemerintah Hindia-Belanda. Dewi Sartika meninggal di Tasikmalaya pada 11 September 1947.

Rohana Kudus (1884-1972) yang lahir di Koto Gadang adalah pendiri surat kabar perempuan pertama di Indonesia. Sewaktu ayahnya bertugas di Alahan Panjang, mereka bertetangga dengan pejabat Belanda atasan ayahnya. Walaupun Rohana tidak bisa mendapat pendidikan secara formal namun ia rajin belajar dengan ayahnya, seorang pegawai pemerintah Belanda yang selalu membawakan Rohana bahan bacaan dari kantor. Dari isteri pejabat Belanda tetangganya, dia belajar menjahit, menyulam, merenda, dan merajut. Darinya juga dia  banyak membaca majalah terbitan Belanda yang memuat berbagai berita politik, gaya hidup, dan pendidikan di Eropa yang sangat digemarinya. Setelah menikah dengan Abdul Kudus, seorang notaris, dengan berbekal semangat dan pengetahuan yang dimilikinya, Rohana mendirikan sekolah keterampilan khusus perempuan pada 11 Februari 1911 yang diberi nama Sekolah Kerajinan Amai Setia. Di sekolah ini diajarkan berbagai keterampilan untuk perempuan, keterampilan mengelola keuangan, tulis-baca, budi pekerti, pendidikan agama dan bahasa Belanda. Ini menjadikan sekolah Rohana berbasis industri rumah tangga serta koperasi simpan-pinjam dan jual-beli pertama yang anggotanya semua perempuan di Minangkabau. Rohana juga menulis puisi dan artikel serta fasih berbahasa Belanda, sehingga kiprah Rohana menjadi topik pembicaraan di Belanda. Berita perjuangannya ditulis di surat kabar terkemuka dan disebut sebagai perintis pendidikan perempuan pertama di Sumatera Barat.  Keinginan untuk berbagi cerita tentang perjuangan memajukan pendidikan kaum perempuan di kampungnya ditunjang kebiasaannya menulis berujung dengan diterbitkannya surat kabar perempuan yang diberi nama Sunting Melayu pada 10 Juli 1912. Sunting Melayu merupakan surat kabar perempuan pertama di Indonesia yang pemimpin redaksi, redaktur dan penulisnya adalah perempuan. Di Bukittinggi, kemudian hari Rohana mendirikan sekolah dengan nama “Rohana School”pada tahun1916. Di kota ini dia memperkaya keterampilannya dengan belajar membordir pada orang Cina menggunakan mesin jahit Singer. Karena jiwa bisnisnya juga kuat, selain belajar membordir Rohana juga menjadi agen mesin jahit untuk murid-murid di sekolahnya sendiri. Rohana adalah perempuan pertama di Bukittinggi yang menjadi agen mesin jahit Singer yang sebelumnya hanya dikuasai orang Tionghoa. Rohana tidak hanya pintar mengajar menjahit dan menyulam melainkan juga mengajar mata pelajaran agama, budi pekerti, bahasa Belanda, politik,  sastra, dan teknik menulis jurnalistik.Pada masa revolusi fisik, saat Belanda meningkatkan tekanan dan serangannya terhadap kaum pribumi, Rohana bahkan turut membantu pergerakan politik dengan tulisannya yang membakar semangat juang para pemuda. Rohana pun mempelopori berdirinya dapur umum dan badan sosial untuk membantu para gerilyawan. Dia juga mencetuskan ide bernas dalam penyelundupan senjata dari Kotogadang ke Bukittinggi melalui Ngarai Sianok dengan cara menyembunyikannya dalam sayuran dan buah-buahan yang kemudian dibawa ke  Payakumbuh dengan kereta api. Kemudian hari Rohana merantau ke Lubuk Pakam dan Medan, tetapi di sana dia tetap mengajar dan memimpin surat kabar Perempuan Bergerak. Ketika Rohana kembali lagi ke Padang sekitar 3 tahun kemudian, dia menjadi redaktur surat kabar Radioyang diterbitkan Tionghow-Melayu dan surat kabar Cahaya Sumatera. Demikianlah Rohana Kudus menjalani 88 tahun hidupnya dengan beragam kegiatan yang berorientasi pada pendidikan, jurnalistik, bisnis dan bahkan politik. Dia menerima penghargaan sebagai Wartawati Pertama Indonesia (1974) dan pada Hari Pers Nasional ke-3 tanggal 9 Februari 1987, Menteri Penerangan Harmoko menganugerahinya sebagai Perintis Pers Indonesia. Pada tahun 2008, pemerintah Indonesia menganugerahkan Bintang Jasa Utama meskipun dia telah wafat pada 17 Agustus 1972 di Jakarta (dari Berbagai Sumber).

Penutup
Semuanya yang telah dipaparkan tadi mengangkat bahwa ternyata bukan hanya R.A. Kartini memperjuangkan kaumnya dan bukan hanya berwacana-wacana melainkan telah mempratekkannya di dalam kehidupan mereka. Oleh karena itu, bukan hanya Kartini yang menjadi pahlawan wanita, tetapi masih banyak wanita lain menjadi pahlawan wanita yang membela kaumnya melalui praktek bahkan ada yang sudah menempatkan dirinya sebagai teladan dalam emansipasi wanita. Dengan demikian, bukan hanya Hari Kartini pada 21 April yang patut dirayakan, tetapi Hari Shima, Hari Malahayati, Hari Siti Aisyah, Hari Maria Christina, Hari Maria Walanda, Hari Rohana, dan Hari Dewi Sartika patut juga dirayakan seperti merayakan Hari Kartini. Akan tetapi, untuk menghindari banyak hari perayaan dan mengindari pengkultusan pribadi, maka cukuplah perayaan Hari Ibu pada 22 Desember itu yang dirayakan untuk mengenang perjuangan mereka semuanya. Tiba-tiba, entah kenapa, penulis teringat kepada Angelina Sondakh, Wa Ode Nurhayati, Miranda Gultom, Atut Chosiyah, dan Siti Fadilah Supari; ada apa sebetulnya dengan wanita Indonesia sekarang ini?

  
Tulisan ini telah dimuat dalam
WAHANA NEWS
Edisi VI/TAHUN II: SENIN, 28 April - 09 Mei 2014



Monday, 2 March 2015

KARTINI DI ANTARA WANITA-WANITA LUAR BIASA DALAM LINTASAN SEJARAH INDONESIA

KARTINI DI ANTARA WANITA-WANITA LUAR BIASA 
DALAM LINTASAN SEJARAH INDONESIA
Oleh: Edward Simanungkalit


INDONESIA memiliki banyak wanita luar biasa di sepanjang lintasan sejarahnya. Para wanita luar biasa ini perlu dikenal untuk dikenang dan dihargai. Mereka bukan sekedar memperjuangkan harkat dan martabat kaumnya, tapi -- sadar tidak sadar -- sudah menjabarkannya dalam kenyataan hidup mereka sehari-hari. Dalam konteks ini, kita akan melihat di mana seharusnya tempat RA. Kartini, yang tanggal lahirnya (21 April) seolah sudah “dilantik” sebagai harinya kaum wanita Indonesia.

Ratu Shima (memerintah sekitar 674-732 M) adalah penguasa Kerajaan Kalingga yang terletak di Pantai Utara Jawa Tengah. Ia menerapkan hukum yang keras dan tegas untuk memberantas pencurian dan kejahatan, serta mendorong agar rakyatnya senantiasa jujur. Berdasarkan Naskah Wangsakerta, Ratu Shima berbesan dengan penguasa terakhir Tarumanegara.

Ratu Tribhuwanatunggadewi (memerintah pada 1328-1350), adalah puteri dari Gayatri Rajapatni, salah satu isteri dari Raden Wijaya. Tribhuwanatunggadewi naik tahta menggantikan Jayanegara yang meninggal pada 1328. Tribhuwana mengangkat Gajah Mada menjadi Mahapatih pada 1336, dan selama kekuasaannya Majapahit berkembang semakin besar dan luas. Ia digantikan putranya, Hayam Wuruk, setelah ibunya, Gayatri, meninggal pada 1350.

Puteri Lindung Bulan yang juga disebut Puteri Sri Kandee Negeri adalah puteri Raja Muda Sedia yang memerintah Negeri Benua Tamieng (negara bagian dari Kerajaan Islam Perlak) dalam tahun 1353-1389 M. Sekalipun tidak memegang salah satu jabatan dalam pemerintahan, namun Puteri Lindung Bulan telah membantu ayahnya dalam berbagai urusan kerajaan, sebagaimana layaknya seorang Perdana Menteri.

Ratu Kusuma Wardhani (memerintah pada 1389-1426), adalah puteri  mahkota dari Hayam Wuruk yang meninggal pada 1389. Dia menikah dengan sepupunya pangeran Wikramawardhana dan bersama-sama menghadapi konflik perebutan kekuasaan dengan Wirabhumi. Dalam Perang Paregreg (1405-1405), Wirabhumi dikalahkan, tetapi setelah itu Majapahit semakin melemah.

Ratu Nahrasiyah (memerintah sekitar 1405-1428), seorang ratu dari Kerajaan Samudera Pasai. Ratu Nahrasiyah adalah puteri dari Sultan Abidin putera Sultan Ahmad putra Sultan Muhammad putra Sultan Al Malikul Salih. Makam ratu ini sangat indah dan istimewa  terbuat dari batu pualam yang menunjukkan kebesarannya di situs purbakala Kerajaan Samudera Pasai dekat Lhok Seumawe. Dari literatur Tiongkok kuno diberitakan bahwa pada  Laksamana Cheng Ho mengunjungi Samudera Pasai pada tahun 1415. Diceritakan juga Sekandar, kemenakan suami kedua ratu ini, bersama pengikutnya merampok Cheng Ho, sehingga pasukan Cheng Ho dengan bantuan Ratu Samudera Pasai dapat mengalahkan Sekandar dan dibawa ke Tiongkok.

Ratu Suhita (memerintah pada 1426-1447), adalah puteri Wikramawardhana dari selirnya yang juga putri kedua Wirabhumi. Majapahit sudah sedemikian merosot kejayaannya pada masa kekuasaan Ratu Suhita hingga dia meninggal pada tahun 1447 dan digantikan olek adik lelakinya.

Ratu Kalinyamat (memerintah sekitar 1508-1579) dengan nama asli Retna Kencana adalah puteri dari raja Demak Trenggana (1521-1546) yang menjadi bupati di Jepara. Ia terkenal di kalangan Portugis sebagai sosok wanita pemberani. Meninggal sekitar tahun 1579 M.

Laksamana Malahayati (hidup diakhir abad XVI-XVI) menjadi Panglima angkatan perang Kerajaan Aceh Darussalam pada masa pemerintahan Sultan Alauddin Riayat Syah Al Mukammil (1589-1604) setelah keberhasilannya memimpin pasukan wanita. Ini berawal dari pertempuran pasukan Aceh menyerang armada Portugis hingga hancur, tapi banyak pasukan Aceh yang gugur termasuk suaminya juga, Laksamana Mahmuddin bin Said Al Latief. Setelah itulah timbul ide Malahayati, Komandan Protokol Istana Kerajaan Aceh Darussalam (1585-1604), untuk membentuk pasukan wanita Inong Bale dari janda-janda pahlawan tadi, agar dapat membalaskan kematian suaminya. Sisa-sisa pangkalan Inong Bale ini masih ditemukan di  desa Lamreh, Teluk Krueng Raya. Malahayati memimpin 2.000 orang pasukan Inong Bale berperang melawan kapal-kapal dan benteng-benteng Belanda pada 21 Juni 1599.  Dia berhasil menewaskan Cornelis de Houtman dalam pertempuran satu lawan satu di geladak kapal dan menawan Federick de Houtman  (van Zeggelen, 1935:157). Setelah pertempuran ini Malahayati diangkat menjadi Laksamana. John Davids, nakhoda kapal Belanda berkebangsaan Inggris yang datang berkunjung pada masa Malahayati menjadi Laksamana, melaporkan bahwa Kerajaan Aceh Darussalam memiliki 100 kapal perang, di antaranya dapat memuat 400-500 penumpang. Selain armada laut yang kuat ini masih ada lagi pasukan gajah di darat. Banyak lagi catatan orang asing tentang Malahayati yang kehebatannya memimpin angkatan perang itu diakui oleh negara Eropa, Arab, Cina, dan India. Laksamana Malahayati juga seorang diplomat ulung, sehingga sering menjadi delegasi dalam perundingan-perundingan dengan pihak luar. Laksamana Malahayati berperanan penting dalam menurunkan Sultan Ali Riayat Syah (1604-1607) dari tahta kekuasaan  hingga naiknya Sultan Iskandar Muda di tahta kekuasaan (Lombard, 1986:128-129). Tidak jelas kapan Laksamana Malahayati meninggal, tetapi yang pasti itu terjadi pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636).

Ratu Safiatuddin Syah (memerintah pada 1641-1675), yang memerintah selama 35 tahun, adalah puteri dari Sultan Iskandar Muda dari Kerajaan Aceh Darussalam. Dalam urusan pemerintahan, dia membentuk dua lembaga pemerintahan, yaitu Balai Laksamana (angkatan perang yang dikomandoi seorang laksamana) dan Balai Fardah (lembaga yang mengatur keuangan kerajaan serta pemungutan cukai dan pengeluaran mata uang). Selain menyelenggarakan pemerintahan, sultanah membentuk tempat bermusyawarah, yaitu Balai Rungsari (lembaga terdiri dari 4 uleebalang besar Aceh), Balai Gadeng (beranggotakan 22 ulama besar Aceh), Balai Mejelis Mahkamah Rakyat (semacam DPR beranggotakan 73 orang mewakili daerah pemukiman dan sangat menarik oleh karena terdapat sejumlah wanita). Dia adalah seorang ratu besar yang sangat dihormati oleh rakyatnya dan disegani oleh negari asing: Belanda, Portugis, Inggris, India, dan Arab. Dia wafat pada 23 Oktober 1675.

Ratu Nurul Alam Naqiatuddin Syah (memerintah pada 1765-1678) tidak lama memerintah menggantikan Ratu Safiatuddin Syah oleh karena cepat meninggal. Meskipun singkat, dia melakukan perubahan terhadap Undang-Undang Dasar Kerajaan Aceh dan Adat Meukuta Alam. Desentralisasi dilakukan dengan membentuk Aceh menjadi 3 federasi yang disebut Tiga Sagi (lhee sagoe) yang dipimpin oleh Panglima Sagi, sehingga terjadi otonomi daerah. Adat Meukuta Alam yang dirancang oleh Sultan iskandar Muda disempurnakan dan mata uang emas juga dikeluarkan.

Ratu Inayat Zakiatuddin Syah (memerintah pada 1678-1688) memerintah menggatikan Ratu Nurul Alam Naqiatuddin Syah hingga dia meninggal pada 3 Oktober 1688. Pada masa ini ratu menolak rencana Inggris yang hendak mendirikan benteng. Ratu juga menerima kedatangan tamu utusan Raja Syarif Barakat bernama El Hajj Yusuf E. Qodri. Utusan itu melaporkan kepada Raja Syarif Barakat bahwa betapa baik dan sempurnanya pemerintahan Ratu Kerajaan Aceh yang rakyatnya taat memeluk Islam sama halnya dengan dua ratu sebelumnya. Ratu ini juga mengeluarkan mata uang sendiri.

Ratu Kamalat Zainatuddin Syah (memerintah pada 1688-1699) naik tahta menggantikan Ratu Inayat Zakiatuddin Syah yang meninggal. Pada masa pemerintahannya keadaan kerajaan terpecah diakibatkan oleh timbulnya perbedaan pendapat antara yang menginginkan pria duduk menjadi raja dan yang tetap menyetujui wanita duduk menjadi ratu. Sebelum dia turun tahta pada tahun 1699, ratu ini sempat menerima tamu dari persatuan dagang Perancis dan serikat dagang Inggris serta sempat mengeluarkan uang emas.

Nyi Ageng Serang bernama asli Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi (1752-1828) adalah Pahlawan Nasional Indonesia, anak dari Pangeran Natapraja yang menguasai wilayah di Serang perbatasan Grobogan-Sragen. Dia menggantikan kedudukan ayahnya setelah meninggal, yang keturunan Sunan Kalijaga, sedang Ki Hajar Dewantara adalah keturunannya.  Nyi Ageng Serang sudah pernah berperang melawan Belanda sebelum perang Diponegoro (1825-1830), sehingga kemudian hari dia menjadi penasehat perang dari Pangeran Diponegoro. Dia meninggal pada 1828 di usia 76 tahun dan dimakamkan di Kalibawang. Patungnya yang sedang menaiki kuda dengan gagah berani membawa tombak didirikan di kota Wates.

Siti Aisyah We Tenriolle (memerintah pada 1855-1910) adalah ratu dari Tanette, Sulawesi Selatan yang ahli dalam pemerintahan dan mahir juga dalam kesusasteraan. B.F. Matthes, ahli sejarah Sulawesi Selatan dari Belanda, mengaku mendapat manfaat besar dari sebuah epos La-Galigo, yang mencakup lebih dari 7.000 halaman folio yang merupakan karya ratu Tanette ini. Pada tahun 1908, wanita ini mendirikan sekolah pertama di Tanette, tempat pendidikan modern pertama yang dibuka untuk anak laki-laki dan perempuan.

Marta Christina Tiahahu (1800-1818) adalah putri Kapitan Paulus Tiahahu dari Desa Abubu di Pulau Nusa Laut. Di usianya yang ke- 17 tahun mengangkat senjata bersama ayahnya membantu Thomas Matulessy dalam perang Pattimura tahun 1817 melawan Belanda. Dalam pertempuran sengit di Desa Ouw – Ullath Pulau Saparua, ayahnya berhasil ditawan Belanda dan menjalani hukuman tembak mati. Dia terus  bergerilya di hutan, namun berhasil tertangkap dalam keadaan kesehatannya terganggu. Dalam perjalanan ke pembuangan di Pulau Jawa, dia meninggal di kapal perang oleh karena tidak mau berobat dan tidak mau makan dalam keadaan sakit. Jasadnya dilepaskan dengan penghormatan militer (2/1-1818).

Cut Nyak Dhien (1848-1908), adalah isteri dari Teuku Umar yang memilih untuk melanjutkan perjuangan bersenjata setelah suaminya meninggal. Di masa tuanya yang sudah rabun dia tetap di dalam hutan bergerilya dalam kejaran pasukan Belanda. Dalam kondisi tubuh sudah tua dan sakit serta rabun akhirnya Cut Nyak Dhien tertangkap oleh Belanda dan dibuang ke Sumedang pada tahun 1906. Di sana dia meninggal pada tahun 1908.

Teungku Fakinah (1856-1938) adalah seorang wanita ulama besar yang menjadi pahlawan memimpin sebuah kesatuan dalam perang Aceh dan setelah perang usai dia mendirikan Pusat Pendidikan Islam yang bernama Dayah Lam Biran. Teungku Fakinah telah menjadi janda setelah suaminya gugur di medan perang. Sejak itulah dia membentuk badan sosial dengan menggerakkan janda-janda dan wanita-wanita untuk mengumpulkan sumbangan rakyat berupa padi dan uang sebagai perbekalan peperangan. Sedang bagi anggota yang tinggal di tempat, maka kerjanya mempersiapkan makanan bagi orang-orang yang datang untuk membantu perang dan menuangkan timah untuk peluru senapan. Semuanya pekerjaan itu di bawah pimpinan Teungku Fakinah, sedang dia sendiri mendatangi rumah-rumah orang besar dan kaya untuk meminta zakat dalam rangka membantu peperangan Aceh yang sedang berkecamuk. Sementara itu di Lam Krak didirikan 4 buah benteng di bawah komando Teungku Fakinah. Dia kenal baik dengan Cut Nyak Dhien dan Cutpo Fatimah. Sejak hancurnya benteng pertahanan yang berada di bawah komandonya disertai gugurnya suami keduanya, maka dia bergerilya bersama ibu dari Panglima Polim. Atas permintaan Panglima Polim supaya Teungku Fakinah pulang kenbali ke kampung halaman untuk membuka kembali pesantren di Lam Krak. Pada tahun 1911, Teungku Fakinah pulang ke Lam Krak dan membuka kembali pesantren. Dalam pembangunan kembali pesantren ini banyak masyarakat yang memberikan sumbangannya, sehingga pembangunan berjalan lancar. Banyak janda-janda dan gadis-gadis berdatangan dari berbagai penjuru Aceh untuk belajar mengaji ke sana. Dalam usianya yang ke 75 tahun, Teungku Fakinah menghembuskan nafasnya yang terakhir pada tahun 1938.

Cut Meutiah (1870-1910), anak Teuku Ben Daud, uleebalang Pirak yang setia terhadap Sultan Aceh, Muhammad Daud Syah. Bersama ayahnya dan suaminya, dia berperang melawan Belanda. Sampai akhirnya dia ditemukan Belanda, tetapi tetap tidak mau menyerah hingga akhirnya dia gugur dengan peluru Belanda di kepala dan tubuhnya pada 25 Oktober 1910.

Cutpo Fatimah (18..-1912), teman seperjuangan Cut Meutia dan puteri ulama besar Teungku Chik Mata Ie. Cutpo Fatimah juga merupakan rekan dari Teungku Fakinah sewaktu bersama-sama membangun benteng pertahanan di Lam Krak. Bersama suaminya, Teungku Di Barat, melanjutkan perang setelah Cut Meutiah gugur pada tahun 1910. Dalam pertempuran pada tanggal 22 Pebruari 1912, Cutpo Fatimah gugur bersama suaminya dengan bertindih.

Pocut Meurah Intan (1873-1937) adalah puteri keturunan keluarga bangsawan dari kalangan kesultanan Aceh. Suaminya juga merupakan anggota keluarga Sultan Aceh dan memperolah 3 orang putera. Kemudian hari suaminya menyerah kepada Belanda, dia bercerai dari suaminya dan mengajak ketiga anaknya untuk terus berperang, sehingga anak pertama dan bungsunya dikenal sebagai pemimpin utama pergerakan. Pada tahun 1900, putra tertuanya tertangkap oleh Belanda dan dibuang ke Tondano, Sulut. Sedang Pocut Meurah berhasil ditangkap Belanda pada tahun 1902 dan keadaan terluka parah. Setelah sembuh dia dimasukkan ke dalam penjara bersama putra keduanya. Pada tahun 1905 putra bungsunya berhasil ditangkap Belanda dan pada tahun itu juga mereka bertiga dibuang ke Blora, Jawa. Pocut Meurah Intan meninggal pada 19 September 1937.

Pocut Baren (18..-1928) adalah seorang pahlawan dan ulama wanita dari Aceh. Selain menjadi panglima perang menggantikan suaminya yang gugur di medan pertempuran, ia pun menjadi uleebalang daerah Gume menggantikan suaminya juga. Sejak muda ia terjun ke kancah pertempuran dan ikut bergerilya bersama pasukan yang dipimpin Cut Nyak Dhien. Pocut Baren telah melakukan perlawanan terhadap Belanda sejak tahun 1903 hingga tahun 1910 dan terus melanjutkan perjuangan meskipun Cut Nyak Dhien sudah tertangkap. Dia tertangkap dalam pengepungan terhadap gua di Gunong Mancang, karena kakinya terluka tembak. Dia dibawa Belanda ke Kutaraja dan kakinya membusuk, sehingga diamputasi dan kemudian hari dikembalikan ke kampung halamannya di Tungkop. Meskipun demikian, dia tetap menyemangati para pengikutnya melalui syair dan pantunnya, agar tetap bersemangat melakukan perlawanan terhadap Belanda. Sebagai uleebalang, dia menggerakkan rakyatnya untuk menghidupkan kembali lahan-lahan untuk digarap dan menanaminya dengan berbagai tumbuhan yang menghasilkan. Saluran irigasi pun dibangun untuk mengairi sawah-sawah penduduk. Saat panen daerah Tungkop mengalami surplus pertanian, sehingga sebagian hasilnya dapat dikirim ke daerah lain. Pocut Baren bukan hanya pandai berperang, tetapi dia juga adalah ulama wanita dan berhasil membangun perekenomian rakyatnya. Dalam kecacatannya dia tetap bersemangat untuk terus berjuang hingga akhir hayatnya. Pocut Baren meninggal 12 Maret 1928.

Maria Walanda Maramis (1872-1924), adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia yang turut berjuang  meningkatkan keadaan wanita di Indonesia. Maria lahir di Kema, dekat Airmadidi  dari suami-isteri Maramis dan Sarah Rotinsulu. Mereka 3 bersaudara dan dia saudara kandung dari Andries Maramis. Maria sudah yatim-piatu di usia 6 tahuh, sehingga mereka diasuh oleh pamannya di Maumbi dan dimasukkan ke Sekolah Melayu di sana. Setelah menikah pada tahun 1890, Maria pun pindah dari Maumbi mengikuti suaminya ke Manado. Pada awalnya Maria sering menulis opini di surat kabar setempat bernama Tjahaja Siang. Ia menulis pentingnya peranan ibu dalam keluarga di mana adalah kewajiban ibu untuk mengasuh dan menjaga kesehatan anggota-anggota keluarganya dan memberi pendidikan awal kepada anak-anaknya. Pada 8 Juli 1917, Maria dibantu oleh suami dan teman-temannya mendirikan organisasi PIKAT (Percintaan Ibu Kepada Anak Turunannya) yang bertujuan untuk memberi pendidikan pada kaum perempuan tentang rumah tangga, misalnya memasak, menjahit, merawat bayi, dan sebagainya. Pembentukan organisasi ini didasari pikiran Maria yang percaya bahwa perempuan adalah tiang keluarga di mana pada merekalah masa depan anak-anak bergantung.  Pada tanggal 2 Juli 1918 di Manado didirikan sekolah rumah tangga untuk perempuan-perempuan muda, yaitu Huishound School PIKAT. Kemudian tumbuh cabang-cabang  PIKAT di Minahasa, seperti di Maumbi, Tondano, Airmadidi, Amurang, Pandano, Tomohon, Bolaang Mongondow, Sangir Talaud, Gorontalo, Poso, Donggala dan Motoling. Cabang PIKAT juga terdapat di Jawa dan Kalimantan, yaitu di Batavia, Bandung, Bogor, Cimahi, Surabaya, Balikpapan, Sangu-sangu Dalam, Makassar, Magelang dan Kotaraja. Pada tahun 1932, PIKAT mendirikan Opieiding School Var Vak Onderwijs Zeressen atau Sekolah Kejuruan Putri.  Maria juga aktif mewujudkan cita-citanya supaya kaum perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki. Selain itu, Maria juga berjuang supaya perempuan diberi tempat dalam urusan politik, misalnya hak untuk memilih dan duduk dalam keanggotaan Dewan Kota atau Volksraad dan ini berhasil. Tanggal 1 Desember, tanggal kelahiran Maria, diperingati masyarakat Minahasa sebagai 'Hari Ibu Maria Walanda Maramis'. Patung Walanda Maramis dibangun juga di Komo, Manado.

Raden Ajeng Kartini (1879-1905) adalah anak ke-5 dari 11 anak bupati Jepara. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School), tetapi setelah itu dia dipingit di rumah saja. Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon  yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi. Dia juga banyak membaca koran Semarang dan paket majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan.  Kartini menikah dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri  pada tanggal 12 November 1903. Kartini meninggal pada tahun 1904 setelah 4 hari melahirkan anaknya yang pertama.  Setelah Kartini wafat, Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada teman-temannya di Eropa. Abendanon saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya "Dari Kegelapan Menuju Cahaya". Buku kumpulan surat Kartini ini diterbitkan pada 1911. Pada 1912, Sekolah Wanita didirikan oleh Yayasan kartini di Semarang dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon, dan daerah lainnya. Sekolah tersebut diberi nama Sekolah Kartini di bawah naungan Yayasan Kartini yang didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh politik Etis.

Dewi Sartika (1884-1947) dilahirkan di Cicalengka, Bandung. Orangtuanya menyekolahkannya di sekolah Belanda. Setelah ayahnya wafat, Dewi Sartika diasuh pamannya dari ibu di Cicalengka. Dari pamannya, dia memperoleh pengetahuan tentang kebudayaan Sunda, sedang wawasan kebudayaan Barat diperolehnya dari seorang nyonya Asisten Residen berkebangsaan Belanda. Sejak 1902, Dewi Sartika sudah merintis pendidikan bagi kaum perempuan. Di sebuah ruangan kecil, di belakang rumah ibunya di Bandung, Dewi Sartika mengajar di hadapan anggota keluarganya yang perempuan. Merenda, memasak, jahit-menjahit, membaca, menulis dan sebagainya, menjadi materi pelajaran saat itu. Dengan bantuan Bupati R.A. Martenagara, kakeknya, dan Den Hamer yang menjabat inspektur Kantor Pengajaran ketika itu, maka pada 16 Januari 1904 Dewi Sartika berhasil membuka Sakola Istri (Sekolah Perempuan) pertama se-Hindia-Belanda. Adapun tenaga pengajarnya yaitu: Dewi Sartika sendiri dibantu dua saudara misannya, Ny. Poerwa dan Nyi Oewid. Murid-murid angkatan pertamanya terdiri dari 20 orang menggunakan ruangan pendopo kabupaten Bandung. Pada tahun-tahun berikutnya di beberapa wilayah Pasundan bermunculan beberapa Sakola Istri, terutama yang dikelola oleh perempuan-perempuan Sunda yang memiliki cita-cita yang sama dengan Dewi Sartika. Tahun 1906, Dewi Sartika menikah dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata, seseorang yang memiliki visi dan cita-cita yang sama, guru di Sekolah Karang Pamulang, yang pada waktu itu merupakan Sekolah Latihan Guru. Pada tahun 1912 sudah berdiri sembilan Sakola Istri di kota-kota kabupaten (setengah dari seluruh kota kabupaten se-Pasundan).  Pada  tahun 1914, nama sekolahnya diganti menjadi  Sakola Kautamaan Istri (Sekolah Keutamaan Perempuan). Semangat ini menyeberang ke Bukittinggi, di mana Sakola Kautamaan Istri didirikan oleh Encik Rama Saleh. Seluruh wilayah Pasundan lengkap memiliki Sakola Kautamaan Istri di tiap kota kabupatennya pada tahun 1920 ditambah beberapa yang berdiri di kota kewedanaan. Pada September 1929, Dewi Sartika mengadakan peringatan pendirian sekolahnya yang telah berumur 25 tahun, yang kemudian berganti nama menjadi "Sakola Raden Déwi". Atas jasanya dalam bidang ini, Dewi Sartika dianugerahi bintang jasa oleh pemerintah Hindia-Belanda. Dewi Sartika meninggal  di Tasikmalaya pada 11 September 1947.

Rohana Kudus (1884-1972) yang lahir di Koto Gadang adalah pendiri surat kabar perempuan pertama di Indonesia. Dia adalah saudara tiri dari Sutan Syahrir dan maktuo dari Khairil Anwar serta saudara sepupu dari H. Agus Salim. Sewaktu ayahnya bertugas di Alahan Panjang, mereka bertetangga dengan pejabat Belanda atasan ayahnya. Walaupun Rohana tidak bisa mendapat pendidikan secara formal namun ia rajin belajar dengan ayahnya, seorang pegawai pemerintah Belanda yang selalu membawakan Rohana bahan bacaan dari kantor. Dari isteri pejabat Belanda tetangganya, dia belajar menjahit, menyulam, merenda, dan merajut. Darinya juga dia  banyak membaca majalah terbitan Belanda yang memuat berbagai berita politik, gaya hidup, dan pendidikan di Eropa yang sangat digemarinya. Setelah menikah dengan Abdul Kudus, seorang notaris, dengan berbekal semangat dan pengetahuan yang dimilikinya, Rohana mendirikan sekolah keterampilan khusus perempuan pada 11 Februari 1911 yang diberi nama Sekolah Kerajinan Amai Setia. Di sekolah ini diajarkan berbagai keterampilan untuk perempuan, keterampilan mengelola keuangan, tulis-baca, budi pekerti, pendidikan agama dan Bahasa Belanda. Rohana juga menulis puisi dan artikel serta fasih berbahasa Belanda serta menjadi perantara untuk memasarkan hasil kerajinan muridnya ke Eropa yang memang memenuhi syarat ekspor. Ini menjadikan sekolah Rohana berbasis industri rumah tangga serta koperasi simpan-pinjam dan jual-beli pertama yang anggotanya semua perempuan di Minangkabau.Rohana juga menulis puisi dan artikel serta fasih berbahasa Belanda, sehingga kiprah Rohana menjadi topik pembicaraan di Belanda. Berita perjuangannya ditulis di surat kabar terkemuka dan disebut sebagai perintis pendidikan perempuan pertama di Sumatera Barat.  Keinginan untuk berbagi cerita tentang perjuangan memajukan pendidikan kaum perempuan di kampungnya ditunjang kebiasaannya menulis berujung dengan diterbitkannya surat kabar perempuan yang diberi nama Sunting Melayu pada tanggal 10 Juli 1912. Sunting Melayu merupakan surat kabar perempuan pertama di Indonesia yang pemimpin redaksi, redaktur dan penulisnya adalah perempuan. Di Bukittinggi, kemudian hari Rohana mendirikan sekolah dengan nama “Rohana School” pada tahun1916. Di kota ini dia memperkaya keterampilannya dengan belajar membordir pada orang Cina menggunakan mesin jahit Singer. Karena jiwa bisnisnya juga kuat, selain belajar membordir Rohana juga menjadi agen mesin jahit untuk murid-murid di sekolahnya sendiri. Rohana adalah perempuan pertama di Bukittinggi yang menjadi agen mesin jahit Singer yang sebelumnya hanya dikuasai orang Tionghoa. Rohana tidak hanya pintar mengajar menjahit dan menyulam melainkan juga mengajar mata pelajaran agama, budi pekerti, Bahasa Belanda, politik,  sastra, dan teknik menulis jurnalistik.Pada masa revolusi fisik, saat Belanda meningkatkan tekanan dan serangannya terhadap kaum pribumi, Rohana bahkan turut membantu pergerakan politik dengan tulisannya yang membakar semangat juang para pemuda. Rohana pun mempelopori berdirinya dapur umum dan badan sosial untuk membantu para gerilyawan. Dia juga mencetuskan ide bernas dalam penyelundupan senjata dari Kotogadang ke Bukittinggi melalui Ngarai Sianok dengan cara menyembunyikannya dalam sayuran dan buah-buahan yang kemudian dibawa ke  Payakumbuh dengan kereta api.Kemudian hari Rohana merantau ke Lubuk Pakam dan Medan, tetapi di sana dia tetap mengajar dan memimpin surat kabar Perempuan Bergerak. Ketika Rohana kembali lagi ke Padang sekitar 3 tahun kemudian, dia menjadi redaktur surat kabar Radio yang diterbitkan Tionghow-Melayu dan surat kabar Cahaya Sumatera. Demikianlah Rohana Kudus menjalani 88 tahun hidupnya dengan beragam kegiatan yang berorientasi pada pendidikan, jurnalistik, bisnis dan bahkan politik. Dia menerima penghargaan sebagai Wartawati Pertama Indonesia (1974) dan pada Hari Pers Nasional ke-3 tanggal 9 Februari 1987, Menteri Penerangan Harmoko menganugerahinya sebagai Perintis Pers Indonesia. Pada tahun 2008, pemerintah Indonesia menganugerahkan Bintang Jasa Utama meskipun dia telah wafat pada 17 Agustus 1972 di Jakarta.

Penutup
Semuanya yang telah dipaparkan tadi mengangkat bahwa ternyata bukan hanya R.A. Kartini memperjuangkan kaumnya dan bukan hanya berwacana-wacana melainkan telah mempratekkannya di dalam kehidupan mereka. Oleh karena itu, bukan hanya Kartini yang menjadi pahlawan wanita, tetapi masih banyak wanita lain menjadi pahlawan wanita yang membela kaumnya melalui praktek bahkan ada yang sudah menempatkan dirinya sebagai teladan dalam emansipasi wanita. Dengan demikian, bukan hanya Hari Kartini pada 21 April yang patut dirayakan, tetapi Hari Shima, Hari Malahayati, Hari Siti Aisyah, Hari Maria Christina, Hari Maria Walanda, Hari Rohana, dan Hari Dewi Sartika patut juga dirayakan seperti merayakan Hari Kartini. Akan tetapi, untuk menghindari banyak hari perayaan dan mengindari pengkultusan pribadi, maka cukuplah perayaan Hari Ibu pada 22 Desember itu yang dirayakan untuk mengenang perjuangan mereka semuanya. ***


Jakarta, Akhir Maret 2014