Showing posts with label Kristen. Show all posts
Showing posts with label Kristen. Show all posts

Friday, 25 March 2016

MAAF, ETNIS TOBA MEMANG BUKAN ISRAEL YANG HILANG!


MAAF, ETNIS TOBA MEMANG BUKAN ISRAEL YANG HILANG!
Oleh: Edward Simanungkalit *

        Tahun 2015 lalu, penulis sudah pernah menulis tanggapan mengenai upaya “meyakinkan” bahwa Etnis Toba adalah keturunan dari suku Israel yang hilang dengan judul: “Sungguh, Orang Toba Bukan Israel Yang Hilang” (2015). Belakangan ini ada lagi upaya untuk meyakinkan dengan mengutip-ngutip kata  Ibrani, karena mungkin mereka menganggap di sorga itu berbahasa Ibrani, dan menyebut DNA Etnis Toba termasuk dalam Haplogroup R1 dan seterusnya. Ada kelompok yang bernyanyi lagu berbahasa Ibrani di Pusuk Buhit dengan berpakaian ala Jahudi yang diposting di youtube. Ada rasa malu melihat ada Orang Toba yang mengaku-ngaku sebagai “Bani Manasseh” kepada bangsa Israel di website mereka: www.israelnationalnews.com. Hebatnya, Orang Toba tersebut dicuekin! Itu makanya, penulis merasa perlu kembali menulis sehubungan dengan upaya kelompok tertentu untuk mengembangkan issu tersebut demi kepentingan tertentu.

The HUGO Pan-Asian SNP Consortium (2009)
       Kali ini dimulai dari hasil penelitian DNA yang dipetakan dalam  Mapping Human Genetic Diversity in Asia, The HUGO Pan-Asian SNP Consortium (2009) berikut: 

The HUGO Pan-Asian Consortium, 2009 (Sumber: www.lahistoriaconmapas.com)
HUGO adalah singkatan dari Human Genome Organization dan merupakan organisasi genom sedunia. DNA Toba terlihat jelas didominasi oleh unsur Austronesia pada urutan pertama dan unsur Austroasiatik pada urutan kedua. Kedua unsur ini saja sudah mencapai sekitar 80%, kemudian selebihnya disusul oleh Dravidian, Indo-European, Papuan, Sino-Tibetan, dan Hmong-Mien. Penutur Austronesia, Austroasiatik, Sino-Tibetan, dan Hmong-Mien merupakan ras Mongoloid semuanya.

Tatiana M. Karafet dan kawan-kawan (2010)
          Disebutkan, bahwa menurut Tatiana M. Karafet (Karafet et al. 2010), dari Universitas Arizona – Amerika Serikat, ditampilkan seperti berikut:

It looks like 5/38 = 13.2% K2*-M526 in their "Sumatra" sample and 1/177 = 0.6% K2*-M526 in their "Sulawesi" sample.

The "Sumatra" sample of the present study has the same sample size (n=38) as the sample of Batak Toba from Sumatra that previously has been analyzed by Karafet et al. (2010). In their 2010 paper, they have indicated that this sample contains the following haplogroups:

5/38 = 13.2% K2*-M526

21/38 O3a2-P201 (xO3a2b-M7, O3a2c1-M134)
4/38 O1a*-M119 (xO1a1-P203, O1a2-M110)
1/38 O1a1-P203
6/38 O2a1*-M95 (xO2a1a-M111)
32/38 = 84.2% O-M175 total

1/38 = 2.6% R2a-M124

These figures are entirely consistent with the figures of the present study: 5/38 = 13.16% K-M526*, 32/38 = 84.2% NO-M124, 1/38 = 2.6% R-M207.

Therefore, I conclude that the present study's "Sumatra" sample, in which 5/6 of the K2*-M526 Y-chromosomes have been found, is specifically a sample of Batak Toba, an ethnic group that lives in (who's afraid of living on an island caused by volcanic uplift?) and around Lake Toba in northern Sumatra. Judging from the presence of Y-DNA haplogroup R2a-M124, this population probably has experienced some South Asian influence.
(http://www.anthrogenica.com/showthread.php?2573-New-DNA-Papers-General-Discussion-Thread/page49)

Kemudian  lebih lengkap lagi  mengenai Y-DNA Toba ini digambarkan seperti di bawah ini:


Sumber: www.forgottenmotherland.com

Pada gambar tampak bahwa O-P201*, O-P203, O-M95*, dan O-M110 yang kesemuanya sebesar 83,79%. Oleh karena jumlahnya dominan, maka dapat disimpulkan bahwa DNA Orang Toba termasuk Haplogroup O yang pada dasarnya adalah ras Mongoloid. O-P203  adalah  Austronesia, sedang O-M95 adalah Austroasiatik, dan O-M110 adalah Tai Kadai. Khusus O-P201* sering diasosiasikan dengan populasi Sino-Tibetan, Hmong-Mien, atau Han Chinese. Adapun K-M526*: 13,52% ini merupakan DNA Negrito.  R-M124: 2,7% berasal dari India Selatan.

Tatiana M. Karafet (et al. 2010) dalam papernya: Taiwan Y-chromosomal DNA variation and its relationship with Island Southeast Asia” menyampaikan: “Judging from the presence of Y-DNA haplogroup R2a-M124, this population probably has experienced some South Asian influence.” Pengaruh Asia Selatan atau India ini patut dicacat, sehingga tidak begitu saja mengklaim bahwa Batak Toba (baca: Toba) yang DNAnya memiliki R-M124  sebesar 2,7% adalah Israel yang hilang. Ini disebabkan adanya anggapan bahwa R-M124 adalah DNA Israel.


Mark Lipson dan kawan-kawan (2014)
Senada dengan penelitian Tatiana M. Karafet (et al. 2010) tadi, maka Mark Lipson et al.  (2014), dari MIT – Massachusetts Institute of TechnologyAmerika Serikat, dalam jurnalnya: "New  statistical  genetic methods for elucidating the history and evolution of human populations”, melakukan analisa terhadap DNA Toba dan lain-lain untuk menelusuri asal-usulnya sebagai berikut:

 

Lipson et al.  (2014): http://www.nature.com/ncomms/2014/140819/ncomms5689/fig_tab/ncomms5689_F2.html

 

Mark Lipson et al. (2014), yang pengelompokannya berdasarkan rumpun bahasa, menjelaskan bahwa  garis besar komposisi Y-DNA Toba: Austronesia, Austroasiatik, dan Negrito. Mereka bermigrasi dan memasuki pulau Sumatera dari pantai Timur. Penutur Austroasiatik yang sampai ke Sumatera adalah keturunan suku H’Tin dari Thailand kemudian bercampur dengan penutur Austronesia di Asia Daratan. Baru campurannya bermigrasi ke Asia Tenggara bagian Barat dan mereka berbahasa Austronesia (Lipson, 2014:85-86).

 

Lian Deng dan kawan-kawan (2015)

Lian Deng et al. (2015), dalam papernya: “Dissecting the genetic structure and admixture of four geographical Malay”, populationsmelakukan analisa DNA lagi dengan menggunakan teknologi yang lebih maju seperti Mark Lipson (2014) di atas. Adapun hasil penelitian mereka yang dilakukan tahun 2015 lalu dapat dilihat hasilnya sebagai berikut:


 Deng et al. (2015): http://www.nature.com/articles/srep14375/figures/3

Berdasarkan hasil penelitian Lian Deng et al. (2015) di atas tampak lebih jelas gambaran DNA Toba dengan kode ID-TB yang terdiri dari: Oceanian, East Asian, Southeast Asian 1, Southeast Asian 2, Negrito, South Asian, Central Asian, European, dan African. Di sini Lian Deng et al. (2015) terlihat membagi DNA tersebut berdasarkan wilayah geografis. Dari gambar tersebut terlihat bahwa DNA Toba dominan dari Asia terutama ras Mongoloid.

Menyingkap DNA Toba Lebih Jauh
            Y-DNA Toba dapat dibagi ke dalam 3 macam ras sesuai dengan periode migrasi yang terjadi ke Negeri Toba/Toba Na Sae, yaitu: (1) K-M526*; (2) O-P201*, O-P203, O-M95*, dan O-M110; (3) R-M124.

(1)        K-M526*

          Tatiana M. Karafet et al. (2010) menjelaskan sebelumnya bahwa K-M526* ditemukan di Sumatera dan Sulawesi . K-M526* ditemukan pada Etnis Toba dan Suku Mandar. Karena ada ditemukan pada etnis Toba, sehingga perlu juga hal ini dibicarakan secara khusus. Phylogeny tree yang disusun berdasarkan penelitian Tatiana M. Karafet et al. (2014), dalam papernya: Improved phylogenetic resolution and rapid diversification of Y-chromosome haplogroup K-M526 in Southeast Asia”, membantu memberikan penjelasan tentang K-M526* yang  berawal dari K2.

Phylogenetic tree berdasarkan Karafet et al., 2014:
Sumber: https://motherlanders.wordpress.com

Karafet et al. (2014) menjelaskan bahwa struktur filogenetik dari haplogroup K-M526* sekarang dibagi dalam 4 subclade utama (K2a-d). Adapun yang terbesar ialah K2b, yang dibagi menjadi dua kelompok: K2b1 dan K2b2. K2b1 menggabungkan haplogroup sebelumnya yang dikenal sebagai haplogroup M, S, K-P60 dan K-P79, sedang K2b2 terdiri dari haplogroup P dan sub-haplogroup yang Q dan R, yang  mayoritas membentuk garis keturunan ayah/pria (paternal) di Eropa, Eurasia dan Amerika, dan merupakan satu-satunya subclade K2b yang berada di luar geografi Asia Tenggara (Sundaland) dan Oseania. Itu sebabnya, disimpulkan bahwa haplogroup P, yang merupakan leluhur bangsa Eropa, bermigrasi dari Sundaland sebagaimana pernah dikemukakan sebelumnya oleh Stephen Oppenheimer. Sementara itu K2-M526* ditemukan pada populasi Sumatra & Sulawesi, dan jika perpisahan ini terjadi 50.000 tahun yang lalu, maka lokasi paling ideal adalah di antara keduanya, yaitu Sundaland. Berdasarkan mtDNA populasi Etnis Toba dengan macrohaplogroup M yang sebanding dengan frekuensi K-M526, maka diperkirakan K-M526 berasal dari populasi Sundaland. 

Sumber: www.geneticdisorders.info

(2)        O-P201*, O-P203, O-M95*, dan O-M110
         O-P201*, O-P203, O-M95*, dan O-M110, kesemuanya merupakan ras Mongoloid. O-P203 adalah Austronesia. O-M95* adalah Austroasiatik dan O-M110 adalah Tai-Kadai. Khusus O-P201* berasal dari Yunnan dan di Toba berbahasa Austronesia. Melalui Phylogeny tree berdasarkan Karafet et al. (2014) di atas tadi dapat terlihat O-P203, O-M95*, dan O-M110 yang berasal dari turunan K2a. K2a menurunkan NO dan NO menurunkan O-M175. Kemudian O-M175 adalah yang menurunkan Austronesia, Austroasiatik, Tai-Kadai, Sino Tibetan, dan Hmong-Mien, yang kesemuanya adalah ras Mongoloid, sehingga ras Mongoloid ini berasal dari Sundaland juga. O-M95* masuknya ke Indonesia bagian barat lebih awal berupa gelombang pra-Austronesia dari Asia Tenggara (Karafet et al. 2010 merujuk kepada Kumar et al. 2007)Hasil perhitungan jarak genetik menggunakan STR yang berasosiasi dengan P-201 menunjukan bahwa hubungann genetik yang sangat dekat antara aborigin Taiwan dan Filipina; Indonesia Barat, Indonesia Timur dan Oceania dibandingkan dengan Asia Tenggara. Hasil ini memberikan indikasi haplogroup ini diasosiasikan dengan Ekspansi Austronesia bersama dengan Haplogroup O-M110 dan O-P203 yang menyebar dari arah utara menuju ke barat dan timur Garis Wallacea.” (Karafet et al, 2010, dalam papernya: “Major East–West Division Underlies Y Chromosome Stratification across Indonesia”).

     (3) R-M124
Sesuai dengan Phylogenetic tree berdasarkan Karafet et al., 2014 di atas tadi tampak juga R2a-M124 atau R-M124 yang merupakan turunan dari K2b2 hingga sampai kepada R-M124. R-M124 ini ditemukan di India, Srilanka, dan suku terasing di Pakistan Utara.

Etnis Toba di Negeri Toba/Toba Na Sae dengan DNA-nya
            Pada awalnya, sebagai populasi yang jauh lebih tua dari Sundaland, maka Negeri Toba/Toba Na Sae sudah lebih dulu berdiam K-M526*. Seperti dikemukakan di atas bahwa Y-DNA Toba sebagian besar terdiri dari: O-P201*, O-P203O-M95*, dan O-M110 sebesar 83,79% yang merupakan ras Mongoloid. Dari pantai Timur, mereka sebagian masuk ke Negeri Toba/Toba Na Sae (Tapanuli Utara Lama) dan bertemu dengan K-M526* di sana, sehingga terjadilah percampuran. Menurut hasil penelitian Trejaut et al. (2014), mereka ada yang datang dari Taiwan dan ada juga dari Asia Daratan, sehingga mereka datang secara bergelombang dari  waktu berbeda-beda. Mereka ini kemudian menggunakan bahasa Toba, yang termasuk ke dalam rumpun bahasa Austronesia. Belakangan datang lagi R-M124 dan terjadilah percampuran, sehingga seperti yang dikemukakan oleh Tatiana M. Karafet et al. (2010), maka keseluruhannya Y-DNA Haplogroups Etnis Toba terdiri dari: K-M526*, O-P201, O-P203, O-M95*, O-M110, dan R-M124.

Benarkah Etnis Toba itu Israel yang Hilang?
          Tatiana M. Karafet et al. (2010) mengemukakan di atas bahwa pupolasi Toba sudah mengalami pengaruh dari India Selatan. Sejarah memang mencatat bahwa penutur Dravida dari India Selatan sudah masuk ke Sumatera Utara sejak abad ke-3. Prasasti Lobu Tua, Barus dari abad ke-11 menceritakan tentang keberadaan 500 perusahaan dagang Tamil dari India Selatan yang beroperasi di kawasan Barus. Sementara hubungan masyarakat Toba dengan Barus sudah sejak lama, sehingga pengaruh Hindu juga sudah terjadi berabad-abad sebelumnya. Turiturian dan sejarah di Toba memang tidak pernah mengungkapkan kedatangan penutur Dravida ini, tetapi jejaknya ada ditemukan seperti dalam mitologi penciptaan yang mirip dengan Hindu Sivaisme (Harry Parkin, 1978). Pengaruh India terhadap masyarakat Toba dikemukakan oleh Robin Hanbury dan Tenison (1975:28) sebagai berikut: “Sejak awal abad ke-16, Batak Toba telah mengalami kemajuan dalam bidang pertanian. Terutama atas keberhasilan mereka mengadopsi teknik pertanian yang diperkenalkan oleh orang-orang India, yakni pengolahan sawah dengan menggunakan sistim irigasi. Sehingga pada masa itu masyarakat Batak Toba secara relatif pernah mengalami kehidupan yang makmur.” Dapat dibayangkan bahwa  Orang Toba telah  mengalami percampuran dengan penutur Dravida dari India Selatan, sehingga membawa haplogroup R-M124 ke dalam Y-DNA Toba.
       R-M124 ini, atau lengkapnya R2a-M124, dijelaskan sebagai berikut: “Menurut Project Genographic yang dilakukan oleh National Geographic Society, sebuah organisasi yang didanai oleh keluarga Rothschild, Haplogroup R-M124 muncul sekitar 25.000 tahun yang lalu di Asia Tengah dan anggotanya bermigrasi ke selatan sebagai bagian dari gelombang besar kedua migrasi manusia ke India.” Sengupta et al. (2006) menemukan bahwa R2a-M124 tersebut pada penutur Dravidian dan India lainnya (http://www.gutenberg.us/articles/haplogroup_r-m124). Sementara dalam Y-DNA of Ashkenazi Jews ada haplogroup R-M17 (R1a) dan R-P25 (R1b) dalam frekwensi kecil sbb.: “Because haplogroups R-M17 (R1a) and R-P25 (R1b) are present in non-Ashkenazi Jewish populations (e.g., at 4% and 10%, respectively) and in non-Jewish Near Eastern populations (e.g., at 7% and 11%, respectively; Hammer et al. 2000; Nebel et al. 2001), it is likely that they were also present at low frequency in the AJ (Ashkenazi Jewish) founding population. …” (https://en.wikipedia.org/wiki/Genetic_studies_of_Jewish_origins). Jelas, bahwa Y-DNA Ashkenazi Jews adalah R1a dan R1b. Dengan demikian, maka R1a dan R1b yang dimiliki oleh Jahudi Ashkenazi BERBEDA dengan R2a yang dimiliki oleh Etnis Toba dan penutur Dravidian dari India Selatan. Apalagi mengaku Bani Manasseh, oleh karena keduabelas suku Israel memiliki garis paternal dengan Y-DNA Haplogroup J1, sehingga terlalu jauh hubungannya R2a dan juga dengan Etnis Toba. Maaf, ternyata Etnis Toba memang bukan keturunan suku Israel yang hilang!



(*) Pemerhati Sejarah Alternatif Peradaban


Thursday, 20 August 2015

SUNGGUH, ORANG TOBA BUKAN ISRAEL YANG HILANG

SUNGGUH, ORANG TOBA BUKAN ISRAEL YANG HILANG
Oleh: Edward Simanungkalit


          Pada tahun 2007 untuk pertama kalinya saya mendengar isu tentang Orang Toba adalah Israel yang hilang. Setelah membaca pemaparan yang disampaikan di dalam tulisan tersebut, penulis merasa tidak ada sesuatu yang mendasar di sana. Itu makanya ketika penulis menjadi host dari group FKB (Forum Komunikasi Batak) di Facebook pada tahun 2010-2011 tidak pernah menyuguhkan isu Israel yang hilang tersebut. Ketika seorang teman penulis serumah pada tahun 1978-1980 dipinjamkan oleh pihak Universitas Leiden untuk meneliti sastra Toba di bawah bimbingan Prof. Dr. Robson, maka buku-buku tersebut dibawanya ke rumah dan penulis berkesempatan membacanya. Salah satu buku tersebut ada yang memaparkan tentang beberapa tradisi Israel yang diadopsi oleh Orang Toba. Hal tersebut dimungkinkan oleh masuknya agama Kristen di Barus sejak dahulu kala karena agama Kristen sudah ada di Barus sejak abad ke-7 Masehi. Kemudian hari penulis juga memperoleh kesempatan mengikuti kuliah di bidang teologi beberapa tahun, sehingga pemaparan isu soal Orang Toba adalah Israel yang hilang hanyalah sesuatu yang berlalu begitu saja tanpa bekas. Ada yang harus dipahami mengenai Bangsa Israel yaitu sejarah, budaya, tradisi, dan kepercayaan Israel terkait perjanjian Allah dengan bangsa Israel ketika Allah membuat perjanjian dengan Abraham, Ishak, dan Yakub.
          Belakangan ini, entah kenapa, isu tersebut muncul lagi ketika penulis menulis tentang Orang Toba dalam kaitannya dengan DNA/genetika. Berdasarkan DNA Orang Toba, maka penghuni awal Sianjur Mula-mula merupakan penutur Austronesia yang berasal dari suku Amis dan suku Atayal dari suku asli Taiwan, yang merupakan keturunan suku H’Tin dari Thailand (Austroasiatik). Isu tersebut gencar beredar di media sosial. Isu tersebut dapat beredar gencar, karena disebarkan kesana - kemari dengan melupakan bahwa Orang Jahudi itu sangat cerdas. Rupanya lupa kalau orang Jahudi itu sangat cerdas, maka isu isapan jempol tersebut ditelan begitu saja. Kalau orang Jahudi itu dipandang cerdas, bahkan sangat cerdas, maka isu tersebut hanya hilang begitu saja tak berbekas. Jika menganggap Jahudi itu sangat cerdas, maka tentulah orang Jahudi tidak akan membiarkan info dan data seperti yang dipaparkan di dalam tulisan tersebut. Kemudian, jangan dikira hanya Orang Toba yang mengaku-ngaku Israel yang hilang, tetapi di Indonesia ini orang Maluku dan orang Alor juga mengklaim seperti itu. Komunitas-komunitas Jahudi juga ada berusaha mencari Israel yang hilang dengan membuka banyak website, sehingga informasi tentulah banyak mereka peroleh.
          HUGO (Human Genome Organization) merupakan organisasi dunia yang memiliki bank data DNA manusia di dunia ini. Negara-negara di dunia memiliki lembaga biologi molekuler yang meneliti dan mengumpulkan DNA dari suku-suku di negaranya yang kemudian bergabung di dalam HUGO tadi. Di Indonesia, lembaga yang bertugas untuk meneliti DNA Orang Indonesia adalah Lembaga Biologi Molekuler Eijkman yang dipimpin oleh Prof. Dr. Sangkot Marzuki. HUGO memiliki bank data DNA manusia dari negara-negara anggotanya dan kemudian memetakan DNA tersebut, sehingga terbentuklah DNA Family Tree yang disusun mirip tarombo (silsilah). DNA Orang Toba sudah ada masuk di bank bank data DNA tersebut, karena DNA Orang Toba sudah diteliti di samping DNA Orang Karo. Sedang DNA Orang Mandailing, Orang Pakpak, dan Orang Simalungun belum masuk di bank data DNA tersebut, karena DNA ketiganya belum diteliti oleh Lembaga Eijkman tadi. Hanya DNA dari kelompok suku yang belum masuk ke bank data tersebut yang masih harus dicari data DNA-nya, terutama suku-suku terasing atau kelompok kecil yang masih belum sempat diteliti. Masing-masing rumpun disebut Haplogroup dan Orang Toba masuk ke dalam Haplogroup O, yang mana Orang Toba merupakan penutur bahasa Austronesia.
          Untuk melihat Family Tree dari DNA di dunia hingga sampai pada Haplogroup O, yang merupakan DNA Orang Toba sebagai berikut:

Y-Chromosome berawal dari seorang laki-laki yang disebut Y-Chromosome Adam. Haplogroup O, sebagai DNA Orang Toba, menempati urutan yang sudah demikian panjang dari Y-Chromosome Adam. Dengan demikian, Orang Toba jelas data DNAnya di bank data HUGO, sehingga semua pihak dapat melihat dan menelitinya lebih dalam lagi. Oleh karena itu, apabila Orang Jahudi merasa ada kedekatan dengan Orang Toba, maka pastilah mereka akan menelitinya lebih dalam lagi tanpa jauh-jauh datang lagi, karena datanya sudah tersedia. Kita tahu bahwa Orang Jahudi sangat cerdas dan mereka memang sedang mencari 10 suku Israel yang hilang itu.
          DNA Orang Jahudi jelas juga bagi dunia ini dan banyak dipublisir, sehingga setiap orang dapat melihat dan dapat membandingkannya dengan DNA-nya sendiri. Adapun DNA Orang Jahudi dapat dilihat salah satunya di “Genetics studies of Jewish origins”, dalam Wikipedia. Kemudian ada lagi “Jews with Haplogroup G”, dalam Wikipedia. Grafik DNA Orang Jahudi dapat dilihat dalam “Jewish DNA Project – Y-DNA Classic Chart” (www.familytreedna.com). Setelah melihatnya, maka jelas terlihat bahwa DNA Orang Jahudi tidak ada memiliki Haplogroup O, maka sekilas lintas saja telah diketahui bahwa DNA Orang Toba dengan Haplogroup O tidak ada hubungannya dengan DNA Jahudi tersebut. Untuk itu penulis sarankan juga membaca tulisan Ellen Levy-Coffman berikut berjudul: “A MOSAIC OF PEOPLE:  THE JEWISH STORY AND A REASSESSMENT OF THE DNA EVIDENCE” (http://www.jogg.info/11/coffman.htm). Masih ada lagi hasil riset terhadap Israel dalam diaspora yang dilakukan oleh Theodore G. Schurr, Ph.D., University of Pennsylvania Department of Anthropology, berjudul: ”What DNA Research Tells Us About The Jewish Diaspora” (http://www.jgsgp.org/Documents/Dr%20Schurr-DNA-%2012-04-2011.pdf). Ini merupakan dua contoh saja hasil penelitian DNA Israel meskipun masih banyak yang lainnya, tetapi sudah membuktikan tidak ada kesamaan dengan DNA Orang Toba, sehingga tidak ada hubungan Orang Israel dengan Orang Toba.


             Orang Israel bukan tidak tahu keberadaan Orang Toba. Mereka tahu baik melalui bank data DNA maupun melalui sumber informasi lainnya apalagi dunia tahu bagaimana hebatnya mereka mencari data dan informasi. Kemudian ada Orang Toba sudah memberitahukan data sukunya di website mereka seperti:http://www.israelnationalnews.com/News/News.aspx/185259#.Vc9s4bKqqko. Bahkan ada Orang Toba yang mengaku dirinya Israel yang hilang di website Israel begini: “We Tribe "BATAK TOBA" in Indonesia was longing to return to our ancestral lands of Judea, we believe that if the tribe "BATAK TOBA" in Indonesia, is one of the 10 lost tribes of Israel. Tribe "BATAK TOBA" Having the same cultural tribe "Bani Manasseh" in the northeast of India, which is already recognized Israel as one of the 10 lost tribes, and go back to Israel, Batak have a culture that is rooted in Israel. "SHALOOM ISRAEL" di http://www.israelnationalnews.com/News/News.aspx/185259#.Vc9wbLKqqko. Selanjutnya dapat ditemukan lagi pembicaraan lainnya tentang disebut-sebutnya Israel yang hilang di:http://claudemariottini.com/2005/09/19/found-a-lost-tribe-of-israel/. Jadi, jangan dikatakan Israel tidak tahu akan keberadaan Orang Toba di Sumatera Utara, Indonesia ini. Mereka tentunya melakukan test DNA dulu untuk memastikan apakah benar Orang Toba itu keturunan suku Israel yang hilang. 
 
        Akhirnya, adanya kesamaan-kesamaan budaya seperti yang dikemukakan dalam tulisan tentang Orang Toba adalah bangsa Israel yang hilang bukan berarti memiliki hubungan genealogis, tetapi oleh karena persinggungan kebudayaan. Orang Jahudi selalu mencari bangsa Israel yang hilang itu dan mereka ada menemukannya di beberapa tempat seperti: di China, Afrika, Siberia, dan Mizoram setelah dilakukan test DNA untuk memastikannya. Mereka ini bukan suku yang mudah dikenali, karena mereka berada bersama suku-suku lainnya di tempat-tempat tersebut sementara Orang Toba jelas dan besar populasinya, sehingga mudah diketahui informasinya. Apalagi DNA Orang Toba sudah ada di bank data DNA yang dikumpulkan oleh HUGO, sehingga kalau memang Orang Toba adalah Israel yang hilang, maka Orang Jahudi sudah cepat menghubungi Orang Toba dan memanggilnya kembali ke Tanah Israel. Mereka aktif sekali mencari suku bangsa Israel yang hilang itu, tetapi tidak ada pernyataan mereka sampai sekarang kepada Orang Toba. Akan tetapi, oleh karena  tidak ada kedekatan anatara DNA Israel dengan DNA Orang Toba, sehingga tidak ada hubungan Orang Israel dengan Orang Toba. Mungkin masih ada Orang Toba yang merasa penasaran soal DNA ini, maka boleh mencoba test DNA ke sebuah lembaga terpercaya di Amerika Serikat yaitu www.23andme.com dengan membayar tarif sebesar $ 99 per-orang, sehingga test DNA ini akan mengungkap leluhur anda siapa dan darimana hingga jelas. Sungguh, Orang Toba bukanlah keturunan Israel yang hilang. ***



Monday, 20 July 2015

MENGHANTAR IBUNDA KE GERBANG SORGA

MENGHANTAR IBUNDA KE GERBANG SORGA
Oleh: Edward Simanungkalit


“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.” (Yohanes 5:24)

          Suatu kali kedua orangtua penulis datang ke Jakarta pada bulan Juni 1995. Ketika pertama sekali bertemu dengan keduanya ada sesuatu yang berbeda pada wajah ibu yang terlihat agak lebih hitam. Itu membuat adik penulis menanyakannya kenapa sampai begitu. Dia menjawab tidak ada apa-apa sebabnya, karena biasa-biasa saja sehari-hari. Kami tertawa-tawa saja pada waktu itu. Kami biasa memanggil orangtua laki-laki dengan panggilan: “Bapak”, dan memanggil orangtua perempuan dengan panggilan: “Ibu”, karena kami pernah menetap di Sumatera Barat setelah pindah dari Kalimantan Timur, sehingga berpengaruh terhadap panggilan itu. Bapak kami bernama Wilman Simanungkalit (nomor 13) dan Ibu kami bernama Herna Saulina Nababan nomor 17 dari Lumbantongatonga, Butar.
          Sesampainya di Jakarta, ibu mulai ada panas dan demam, sehingga adakalanya tidak dapat ikut jalan-jalan. Suatu kali penulis bawa bapak ke rumah paribannya, pariban dari bonaniari kami di Lumbanmotung, Butar. Ompung kami yang 6 generasi ke atas adalah kawin dengan boru Nababan yang dijadikan boru Nababan Saluhut di Lumbanmotung dan diberikan tanah untuk kampung buat ompung itu. Karena kami berada di tengah-tengah kampung Nababan, maka kami berulang-ulang kawin dengan boru Nababan terutama di sekitar kampung itu juga. Jadi, inanguda, pariban bapak itu, adalah keturunan dari bonaniari kami. Itu makanya, pariban bapak itu langsung mengundang bapak & ibu menghadiri pesta adat perkawinan borunya, karena ketepatan mereka akan berpesta adat perkawinan. Bapak & Ibu pun menghadiri pesta adat perkawinan itu dan mangulosi juga waktu itu.
           Itulah terakhir kalinya ibu hadir di tengah-tengah sanak-saudara, karena sejak itu dia mulai demam-demam dan kemudian sehat beberapa hari lalu demam lagi. Sementara dalam periode itu akhirnya dia tidak berhenti berobat jadinya. Akan tetapi, semakin hari frekwensi sakitnya semakin cepat, sehingga dia mulai lemah dan pada akhirnya diopname di rumah sakit. Sebelum berangkat sehari sebelumnya, penulis jelaskan kepadanya soal hidup kekal di dalam Kristus Yesus, yang dalam istilah lain adalah pengampunan dosa dan keselamatan kekal. Kemudian penulis tanyakan kepadanya apakah bersedia mau berdoa untuk menerima hadiah hidup kekal dari Tuhan Yesus dan dia menyetujuinya. Dia pun penulis bimbing berdoa menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juselamat pribadinya untuk menerima hadiah hidup kekal  di dalam Kristus Yesus. Inilah doanya: "Tuhan Yesus, aku adalah orang berdosa, sehingga membutuhkanMu. Oleh karena itu, kubuka pintu hatiku dan mengundangMu masuk ke dalam hatiku. Engkau kuterima sebagai Tuhan dan Juruselamatku serta ampunilah segenap dosaku. Jadikanlah aku ini menjadi pribadi yang sesuai dengan kehendakMu. Terima kasih Tuhan Yesus, karena Engkau telah mengampuni seluruh dosaku. Amin."
           Setelah itu, penulis jelaskan lagi beberapa hal terkait untuk meneguhkannya pada keselamatan kekal yang diperolehnya termasuk pengampunan atas seluruh dosanya  dan menjelaskan lagi dasar-dasar jaminan hidup kekal dan kepastian hidup kekal itu. Bahwa ketika dia menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, maka Yesus Kristus diwakili Roh Kudus masuk ke dalam hidupnya dan Roh Kudus di dalamnya itu menjadi jaminan hidup kekal: “Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya. Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup. Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal.” (I Yohanes 5:11-13). “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal.” (Yohanes 6:47). Kemudian penulis jelaskan bahwa Kristus yang diwakili Roh Kudus di dalam dirinya itu sekali-kali tidak akan meninggalkan dirinya: “Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." (Ibrani 13:5b). Itulah jaminan hidup kekal!
         Firman Tuhan dalam Roma 8:38-39 berikut ini sangat menghibur: "Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Dalam kaitan dengan itu, maka sebuah pengajaran yang paling mengibur ditulis Paulus sebanyak 44 kali di dalam surat-suratnya tentang "Kristus di dalamku dan aku di dalam Kristus". Setelah menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya, sehingga "Kristus di dalam ibu dan ibu di dalam Kristus", maka di mana Kristus berada, di situlah ibunda berada. Ibunda tidak akan pernah terpisah dari Kristus selama-lamanya!
         Keesokan harinya dia pun dibawa berobat dan akhirnya diopname di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Selama di rumah sakit, penulis menyediakan waktu untuk membacakanya ayat-ayat Alkitab buatnya dan berdoa. Saat-saat ada kesempatan, penulis membawanya berjalan-jalan dengan kreta roda ke tempat-tempat yang pemandangannya agak lega dan tenang dengan dihiasi kembang-kembang. Kami ngobrol-ngobrol di tempat-tempat itu sampai dia merasa sudah ingin tidur, dan penulis mengantarnya ke tempat tidurnya. Banyak teman dan sanak-saudara yang datang, tetapi kondisinya tidak semakin baik setelah sebulan lebih.
          Suatu kali di hari Minggu awal bulan Oktober 1995, maka para pelayan gereja dari GPIB Immanuel yang berada di Pejambon, dekat Stasiun Gambir datang mengadakan kebaktian di kamar rumah sakit. Pendetanya menyampaikan renungan singkat dan melayankan Perjamuan Kudus, sehingga kami menerima Perjamuan Kudus di dalam kamar rumah sakit. Pendeta memberikan kesempatan untuk menyanyikan langsung lagu yang paling disenangi ibu dan pada waktu itu kami menyanyi lagu: “Na Ro Pandaoni Bolon i”. Ibu merasakan sesuatu yang sangat spesial pada waktu itu, karena dia merasakan kehadiran dekat dengan Tuhan pada saat menyanyi. Dia merasa sukacita dan damai sejahtera yang dari Tuhan, sehingga dia nyenyak tidur setelah acara tersebut.
          Pada hari Selasa menjelang siang, ibuku mulai tidak bangun dan tidak dapat dibangunkan ketika ada pemeriksaan rutin ke kamar. Kemudian dia dipindahkan ke ruang isolasi sementara bapak terguncang menghadapi keadaan tersebut walaupun biasanya dia adalah orang yang tenang selama ini. Ibu dinyatakan koma oleh dokter. Walaupun demikian, penulis tetap mengajaknya berdoa dengan berbisik ke telinganya. Hanya tubuhnya yang tidak bisa bergerak, tetapi dia tetap memiliki kesadaran dan masih bisa merespon dengan cara menggerakkan jarinya perlahan-lahan. Penulis memintanya untuk memanggil nama: “Yesus” saja dan meminta tolong kepada-Nya, karena manusia terbatas, tetapi Yesus dapat menolong dalam keadaan bagaimanapun. Hal itu penulis sampaikan kepada ibu, agar dia selalu bergantung kepada Tuhan di dalam kondisi koma itu.
          Pada waktu setiap subuh, ibu sadar dan dapat berbicara dengan kami walaupun lidahnya sudah tertarik ke dalam. Meskipun demikian, dalam keadaan seperti itu, dia tidak pernah patah semangat dan penulis selalu mendorong semangatnya dan mengarahkannya, agar selalu memanggil nama Tuhan Yesus serta berdoa dalam keadaan bagaimanapun. Sehabis disuapi bubur dan memberikannya minum, kami pun berdoa setelah membacakan beberapa ayat Alkitab. Menjelang matahari terang, dia pun tertidur dan koma lagi. Begitulah kondisi yang berlangsung hingga hari Sabtu.
          Pada hari Sabtu, beberapa teman dan sanak-saudara datang membesuk ke rumah sakit. Ada yang menyarankan agar dalam kondisi seperti itu dibawa saja pulang ke kampung. Bapak dan adik terpengaruh juga mendengar saran itu, tetapi penulis tidak setuju dan menolaknya. Ada seorang ibu yang berbicara kepada penulis secara khusus dan berkata bahwa kami harus merelakan ibu itu pergi dan menyerahkannya kepada Tuhan. Penulis paham apa yang dia maksudkan dan dapat menerimanya, tetapi bapak belum rela untuk melepaskan ibu dan penulis tidak dapat memaksa bapak. Penulis menyerahkan hal itu kepada bapak dan terserah kerelaannya. Sampai malam tiba masih ada teman dan sanak-saudara yang besuk di rumah sakit dan ada yang memberikan kartu telepon untuk digunakan menelpon melalui telpon umum. Di RSPAD Gatot Subroto pada waktu itu cukup banyak telepon pakai kartu disediakan di sana dan tentulah hal ini sangat membantu.
          Malamnya, Sabtu itu, kondisi ibu semakin kritis. Sekitar jam 21:00, bapak memutuskan untuk menyerahkan ibu sepenuhnya kepada Tuhan. Bapak memintaku yang memulai berdoa penyerahan kepada Tuhan dan disambung bapak lagi berdoa. Setelah itu penulis membacakan ayat-ayat Alkitab tentang kehidupan nanti dari kitab Wahyu dan disambung penulis berbicara kepada ibu: “Berangkatlah ibu, berangkatlah untuk bertemu dengan Tuhan. Kami relakan sekarang kepergianmu, karena di sana ibu akan lebih senang selama-lamanya. Relakanlah kami tinggal di dunia ini dan pergilah menghadap Tuhan, karena kami pun juga akan datang ke sana dan kita akan bertemu kembali di sana. Kami akan menyusul kembali nantinya ke sana dan kita akan bertemu kembali di sana. ...” Tidak berapa lama kemudian mulailah ibu melemah, tetapi masih bertahan beberapa waktu. Sekitar jam 00:15 malam itu juga ibu menghembuskan nafasnya hingga melemah dan berhenti. Penulis pun memimpin berdoa kembali memohon kepada Tuhan agar segala sesuatunya Tuhan bereskan untuk membawanya ke kampung .
          Malam itu penulis menyampai kabar kepada sanak-saudara dan kerabat. Sebagian mereka datang pada malam itu ke kamar jenazah. Subuhnya pesawat sudah dipersiapkan dengan Sempati Air dan kami akan berangkat jam 11:00 hari Minggu. Pagi itu kami sudah mandi dan makan nasi hangat disusul keluarga besar Simanungkalit Marbungaraja datang ke kamar jenazah. Acara pemberangkatan kami pun dilaksanakan pagi itu di kamar jenazah dan jenazah sudah dimasukkan ke dalam peti. Setelah acara pemberangkatan selesai, kami pun berangkat ke bandara Cengkareng dengan diantar oleh keluarga besar Simanungkalit Marbungaraja. Mereka semuanya ikut boarding mengantar kami hingga terdengar suara panggilan untuk masuk pesawat, kami pun berpisah dengan mereka dan masuk pesawat.
            Di Polonia, Medan, kami disambut oleh sanak-saudara dan kemudian memindahkan jenazah ke dalam ambulance yang akan membawa kami ke Sidikalang. Ternyata sanak-saudara juga sudah lebih dulu sampai di Sidikalang, karena mereka sudah menerima berita tengah malam sebelumnya. Tiga hari tiga malam jenazah disemayamkan di rumah barulah ibu dikebumikan. Semua acara berjalan dengan baik. Dan, ketika kami berangkat dari rumah membawa jenazah ke pekuburan, maka lagu dinyanyikan dengan lirik berikut: “Adong do Ama na di surgo i, Tuhan Jahowa Debatanta i. Dijou do au, na lao ma au tu Ama na di surgo i. Lao ma au, lao ma au tu na di surgo i. Lao ma au, lao ma au tu na di surgo i. Dijou do au na lao ma au tu Ama na di surgo i ... Molo masihol ho muse di au, ingot ma, na di surgo i do au. Dapothon au tu surgo i, ai ho pe sonang do disi! Lao ma au, Lao ma au tu na di surgo i. Lao ma au, Lao ma au tu na di surgo i. Dapothon au tu surgo i, ai ho pe sonang do disi.”  i.e.: "Ada Bapa di sorga, Tuhan Allah, Bapa kita. Aku telah dipanggil, dan aku akan pergi kepada Bapa di sorga. Aku mau pergi, aku mau pergi kepada Bapa di sorga. Aku mau pergi, aku mau pergi kepada Bapa di sorga. Aku telah dipanggil dan akan pergi kepada Bapa di sorga. ... Bila di suatu saat nanti engkau rindu kepadaku, ingatlah, bahwa aku berada di sorga. Susullah aku di sorga, karena engkau pun akan berbahagia di sana. Aku mau pergi, aku mau pergi kepada Bapa di sorga. Aku mau pergi, aku mau pergi kepada Bapa di sorga. Susullah aku di sorga, karena engkau pun akan berbahagia di sana." Ya dan amin! Itu adalah lagu ibunda yang kami nyanyikan dan dia sedang bersaksi kepada setiap orang bahwa dia berangkat ke rumah Bapa di sorga dan dia mengajak semuanya bersamanya suatu saat nanti menyusulnya ke rumah Bapa di sorga.
          
Hasil gambar untuk yesus kristus 

“Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku. Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.” (Yohanes 6:37-40). ***





SAHALA

SAHALA
Oleh: Edward Simanungkalit

Hasil gambar untuk Yesus disalib

          Suatu kali di bulan April 2004, penulis mau berangkat dari Jakarta ke Medan dalam rangka membesuk orangtua yang sedang sakit. Setelah masuk boarding di bandara Soekarno-Hatta, pesawat yang akan penulis tumpangi ternyata didelay selama sejam. Kemudian ditambah lagi delay selama 35 menit, sehingga harus lama menunggu di dalam waiting room. Akhirnya, penulis mengajak ngobrol teman yang bangkunya sebaris di sebelah kanan. Setelah kami berkenalan, maka masuklah pembicaraan kami dari yang ringan hingga yang berat. Terakhir, masuklah pembicaraan ke dalam topik Raja Singamangaraja XII dan Perang Toba (1878-1907) dan penulis kebanyakan merujuk pada buku “AHU SI SINGAMANGARAJA” yang ditulis oleh Prof. Dr. W.B. Sijabat.
          Ceritapun terus berkesinambungan hingga akhirnya Raja Singamangaraja XII gugur bersama 3 orang anaknya dan pejuang-pejuang lainnya termasuk pejuang dari Aceh. Kami membahas betapa tragisnya situasi akhir itu, bukan sekedar gugurnya Raja Singamangaraja XII pada 17 Juni 1907, tetapi perjuangan mereka hingga sampai ke daerah Pakpak Klasen. Namun, tiba-tiba pria yang duduk di belakang penulis bersuara dengan berkata keras secara mendadak: “Sala do na nidokmi. Ipe marhusip Raja i tu pinggolhu, ndang songon i ninna. Sahala ni Raja Singamangaraja i do mandok ipe.” i.e.: “Salah yang kau katakan itu. Barusan roh Raja itu berbisik ke telingaku, tidak begitu, katanya. Roh Raja Singamangaraja itu yang mengatakannya barusan.” Oleh karena dia berbicara membentak dari belakang penulis tanpa disangka-saka, maka penulis kaget setengah mati, sehingga penulis harus menenangkan diri dulu sambil berdoa memohon pertolongan Tuhan. Sementara itu dia terus berbicara sambil berdiri kepada para penumpang pesawat yang sudah berada di dalam waiting room tersebut sambil berkata bahwa sahala Raja Singamangaraja yang berbisik barusan. Bukan hanya sahala Raja Singamangaraja yang biasa bicara kepadanya, katanya, tetapi juga sahala dari  Guru Tatea Bulan dan Raja Uti. Raja Uti dan Guru Tatea Bulan merupakan tokoh spiritual dari sejarah awal yang disebut sebagai anak dan cucu dari Si Raja Batak.
          Sambil berbicara dan berjalan ke depan, dia pun bercerita mengenai rencana penjalanannya. Posisinya sudah berdiri di depan para penumpang seperti memberikan ceramah kepada kami semua. Dia bercerita akan melakukan perjalanan ke Bangkara untuk mengambil Aek Sipangolu dan akan diteruskan sampai ke Pusuk Buhit,  karena ada acara ritual di sana bersama komunitasnya di puncak Pusuk Buhit. Dia pun memperkenalkan namanya dan di sini penulis hanya menulis initialnya mengingat kode etik juga, yaitu: SOS.  Kesempatan itu tetap penulis pergunakan untuk menenangkan diri sambil berdoa dengan berbisik memohon kekuatan dari Tuhan, pimpinan, dan perlindunganNya. Dan, memohon Tuhan menutup bungkus diri penulis dengan darah Yesus dari ujung kaki hingga ke ujung rambut serta pertolongan kuat-kuasa Roh Kudus. Penulis juga ada melihat  dua orang yang baru pulang dari acara Seminar & KKR di Surabaya sambil membawa photo besar penampakan  Yesus Kristus pada saat acara seminar dan dapat diphoto, sehingga mereka membawa photo tersebut dalam ukuran besar sekitar 24 inci. Mereka berdoa juga dengan khusuknya.
          Setelah merasa tenang, mulailah penulis mempertanyakan kenapa dia menyatakan salah begitu saja uraian penulis, padahal penulis menyampaikannya berdasarkan buku yang paling banyak dan luas penelitiannya. Oleh karena itu, tidak boleh menyalahkan begitu saja secara serampangan, tetapi SOS mengatakan bahwa sahala Raja Singamangaraja itu yang membisikkannya. Dia tidak menyampaikan argumentasi secara rasional, tetapi selalu menggunakan senjata bahwa sahala Raja itulah yang membisikinya. SOS juga mengatakan bahwa sahala Raja Singamangaraja, sahala Raja Uti, dan sahala Guru Tatea Bulan sedang berada di ruangan itu.
          Penulis merasakan dia mengklaim begitu saja bahwa sahala itu yang berbisik kepadanya, sehingga penulis sanggah dengan mengatakan bahwa tidak ada yang dapat menguji kebenaran pengakuannya itu. Oleh karena dia selalu mengklaim begitu saja, maka penulis akhirnya berkata bahwa penulis sangat menaruh hormat kepada Raja Singamangaraja XII yang telah berjuang dengan konsisten sampai hembusan nafas terakhir. Kemudian penulis meminta SOS berbicara saja lagi kepada sahala itu untuk menyampaikan pesan penulis: “Katakanya kepada sahala itu: ‘Dua ribu tahun lalu dia sudah dikalahkan dan dia hanyalah pendusta. Tidak benar itu Singamangaraja, tetapi pendusta yang mengaku-ngaku Singamangaraja saja  itu. Katakan dia itu pendusta dan minta dia dimandikan dengan darah Yesus.” Menjawab itu SOS berkilah bahwa penulis hanya mengandalkan agama dari  Timur Tengah. Penulis mengulang lagi agar dia sampaikan pesan penulis kepada sahala tersebut kalau memang sahala itu ada di ruangan tempat kami menunggu. Ini penulis lakukan untuk menghancurkan klaim dia tadi yang dibisiki sahala dan sekaligus masuk kepada pokok permasalahan dengan menelanjangi siapa “sahala” itu serta menceritakan karya Kristus di kayu salib dan darah Yesus yang berkuasa menghancurkan roh-roh itu.
          Penulis kejar terus dia agar menyampaikan pesan penulis itu kepada sahala tadi, karena sahala itu ada di ruangan itu seperti dia katakan sebelumnya. Akan tetapi, SOS tidak mau melakukan itu dan malah berkilah dengan berbagai alasan yang tidak ada kaitan langsung. Oleh karena penulis berkata begitu terus, agar menyampaikan pesan penulis kepada sahala tadi, maka mulailah dia melemah dan secara perlahan-lahan mulailah dia hanya bicara pelan kepada orang yang berada di sampingnya. Akhirnya, mulailah penulis menyerang SOS untuk mengakhiri perdebatan kami dengan berkata: “Ngapain aja pergi ke Pusuk Buhit, karena tidak ada apa-apanya di sana. Mau belajar ilmu apa di sana? Terbukti bahwa Belanda dapat menjajah kita, maka berarti ilmu Belanda yang lebih hebat, sehingga belajarlah ilmunya  Belanda itu. Tapi, Belanda dikalahkan Jerman pada Perang Dunia II, sehingga masih lebih baik belajar ilmu Jerman. Akan tetapi, Jerman pun dikalahkan Inggris dan Amerika Serikat, sehingga ilmunya Inggris dan Amerika Serikat lebih hebat. Jadi, belajar ilmu itu ke Inggris dan Amerika Serikat, bukan ke Pusuk Buhit. Belajar ilmu ke Pusuk Buhit sia-sia, karena dulu masih kalah sama Belanda.” SOS pun tidak menjawabnya lagi dan penulis pun hanya memandangi dia saja sampai panggilan masuk pesawat bergema. Kami pun berjalan menuju pesawat. Penerbangan pun berlangsung hingga kami tiba di bandara Polonia, Medan dan penulis masih meneruskan perjalanan ke Sidikalang.
         Belakangan penulis mendengar dari beberapa orang di Sumatera Utara, Riau, Bandung, dan Jakarta bahwa ternyata SOS adalah seorang dukun yang dikagumi oleh banyak orang. Penulis sebelumnya tidak pernah mendengar namanya, karena penulis tidak akrab dengan dunia perdukunan sama sekali. Memang penulis sadar bahwa SOS adalah dukun sejak dia berkata bahwa sahala Raja Singamangaraja, sahala Raja Uti, dan sahala Guru Tatea Bulan ditambah lagi dia akan ke Bangkara mengambil aek sipangolu untuk dibawa ke Pusuk Buhit mengikuti acara ritual di sana. Meskipun demikian, dalam posisi seperti itu, penulis memilih akan menyaksikan kuasa Allah di dalam Kristus Yesus dengan pertolongan kuat-kuasa Roh Kudus. Dan, darah Yesus berkuasa menghancurkan kuasa-kuasa yang tidak berkenan kepada-Nya. Solideo Gloria.DDD