Monday, 28 March 2016

ETNIS TOBA GAGAL MENJADI ISRAEL YANG HILANG


ETNIS TOBA GAGAL MENJADI ISRAEL YANG HILANG
Oleh: Edward Simanungkalit


 Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya dalam tulisan berjudul “MAAF, ETNIS TOBA MEMANG BUKAN ISRAEL YANG HILANG!” bahwa TOBA Y-DNA Haplogroup terdiri dari: K-M526*= 13,51%, O-M95*= 13.51%, O-M201*= 56,76%, O-M110= 10,81%, O-P203= 2,7%, dan R-M124 = 2,7%. Khusus R-M124*disebutkan oleh pihak tertentu sebagai Y-DNA dari keturunan Israel yang hilang, sehingga mereka menyebut etnis Toba sebagai Israel yang hilang. Entah bagaimana jalannya, sehingga ada orang Toba yang mengaku-ngaku dirinya kepada orang Israel sebagai Bani Manasseh.


Sumber: www.forgottenmotherland.com

       Mengikuti Toba Y-DNA Haplogroup tadi, maka lebih jauh perlu juga melihat Phylogenetic Tree berdasarkan Karafet et al., 2014 sebagai berikut:
Sumber: https://motherlanders.wordpress.com

Pada Phylogenetic Tree di atas jelas bahwa K-M526*, yang muncul di Sundaland sekitar 50.000 tahun lalu,  merupakan turunan dari Haplogroup K. Adapun K-M526* ini merupakan salah satu Toba Y-DNA Haplogroups, yang memiliki subclade utama: K2a, K2b, K2c, dan K2d. Sedang K2a menurunkan NO dan kemudian NO menurunkan O-M175. Adapun O-M175 inilah yang menurunkan seluruhnya ras Mongoloid seperti:O-P201*O-M95*O-M110, dan O-P203, yang kesemuanya ada pada Toba Y-DNA Haplogroups. Selanjutnya, K2b2 menurunkan R2 (termasuk R-M124) dan R1 (R1a dan R1b), yang mana R1a dan R1b ini ada ditemukan pada Y-DNA dari Jews Ashkenazi.

























Sumber: https://motherlanders.wordpress.com

           Setelah memcermati Phylogenetic Tree berdasarkan Tatiana M. Karafet et al. (2014) tadi, maka jelas sekarang K-M526*, yang ada pada Y-DNA dari Toba, terlihat juga menurunkan O-P201*, O-M95*, O-M110,O-P203, dan termasuk R-M124. Kemudian R1a dan R1b (yang ditemukan pada Y-DNA dari Jews Ashkenazi) juga termasuk keturunan dari K-M526*. Perlu dicatat bahwa R-M124, lengkapnya R2-M124berbedadengan R1a dan R1b. Kalau R1a dan R1b adalah keturunan R-M526*, apakah tidak lebih baik menyebut Israel yang hilang tersebut merupakan keturunan dari etnis Toba? Perlu diketahui bahwa ketika bangsa Israel berada di pembuangan, maka mereka banyak bercampur dengan berbagai bangsa lain.  Termasuk ketika mereka sampai ke Asia Tengah yang menyebabkan bercampur dengan R1a dan R1b, sehingga terbawa dan ditemukan di dalam Y-DNA dari Jews Ashkenazi. Jadi, jelaslah bahwa etnis Toba gagal menjadi keturunan suku Israel yang hilang. (*)



(*) Pemerhati Sejarah Alternatif Peradaban



Sunday, 27 March 2016

KARO DAN NIAS BUKAN KETURUNAN SI RAJA BATAK; INI BUKTINYA!

KARO DAN NIAS BUKAN KETURUNAN SI RAJA BATAK
INI BUKTINYA!


Oleh: Edward Simanungkalit
_______________________




Sumber gambar:  www.forgottenmotherland.com

Sumber gambar:  www.forgottenmotherland.com

        Gambar Y-DNA Haplogroup dari Toba, Karo, dan Nias di atas akan menarik bila dihubungkan dengan  Mitologi Toba (biasa disebut mitologi Batak) yang mengatakan bahwa Si Raja Batak merupakan nenek-moyang dari Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, dan Mandailing. Ditambah dengan Nias yang disebut-sebut sebagai keturunan Raja Asi-asi maupun Raja Jau, sedang Gayo disebut-sebut sebagai keturunan Raja Aceh menurut tarombo Si Raja Batak tersebut.  Terlihat sekilas lintas saja bahwa ketiganya berbeda apalagi Nias semakin jauh lagi perbedaannya dengan Toba. Y-DNA Haplogroup Toba terdiri dari: K-M526* 13,51%, O-P201* 56,76%, O-P203 2,7%, O-M110 10,81%, O-M95* 13,51%, dan R-M124 2,7%. Sementara Y-DNA Haplogroup Karo tediri dari: C-RPS4Y 19,05%, O-M95* 19,05%, O-M119 42,85%, dan R-M173 19,05%, serta Nias terdiri dari: O-M110 13,33% dan O-P203 86,67%. Lebih jauh penulis telah membahas masalah Y-DNA Haplogroup dari Toba dalam tulisan sebelumnya berjudul: “MAAF, ETNIS TOBA MEMANG BUKAN ISRAEL YANG HILANG” (2016).
Saat ini baru ketiga gambar di atas yang dapat ditampilkan, karena baru ketiganya yang sudah dilakukan tes DNA, sedang hasil tes DNA Gayo sepertinya belum dipublis seluruhnya. Sementara Pakpak, Simalungun, Angkola-Mandailing belum dilakukan tes DNA sampai saat sekarang. Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini sudah dapat dilakukan tes DNA-nya, karena sampai sekarang Lembaga Biologi Molekuler Eijkman sudah melakukan tes DNA sekitar 60%  atas seluruh etnis Indonesia. Ditambah lagi dengan bertambahnya staf-staf yang sudah berhasil dalam jenjang pendidikan yang lebih tinggi, sehingga semakin banyak tenaga yang mereka miliki untuk melakukan tes DNA.  Bila sudah selesai nanti, maka DNA Pakpak, Simalungun, Angkola, dan Mandailing akan jelas dan dengan mudah dapat melihat kebenaran sebuah mitologi dan tarombo.
Kesamaan antara Toba dengan Karo hanya pada Haplogroup O-M95* saja, sedang yang lainnya berbeda. Maka, kalau hendak dikatakan bahwa Karo adalah keturunan Si Raja Batak dari Sianjur Mula-mula tentulah dengan mudah menolaknya. Karena adanya perbedaan tadi dan perbedaannya lebih banyak daripada persamaannya. Oleh karena itu, secara genetik, maka Toba berbeda dengan Karo dan Karo bukan keturunan Toba dan Si Raja Batak. Toba dan Karo adalah dua etnis yang berbeda dan terbentuk masing-masing, bukan seperti yang diceritakan di dalam buku W.M. Hutagalung berjudul “PUSTAHA BATAK: Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak”. Termasuk beberapa buku tarombo lainnya dan tarombo-tarombo yang dapat didownload di internet pada dasarnya juga sama prinsipnya dengan buku W.M. Hutagalung tadi. Tentang tarombo Si Raja Batak ini juga sudah ada beberapa dibuat lagunya yang dinyanyikan dalam video dan diupload di youtube. Kalau Orang Karo mengatakan bukan Batak atau bukan keturunan Si Raja Batak, maka pernyataan itu sangat beralasan yang didasari pikiran sehat dan rasional yang dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan ilmu pengetahuan modern.
Adapun mengenai Y-DNA Haplogroup Nias, walaupun kedua Haplogroup O-M110 dan O-P203 ada di dalam Y-DNA Haplogroup Toba, tetapi sebagian besar berbeda, maka pastilah Nias bukan berasal dari Toba atau bukan keturunan Toba atau Si Raja Batak seperti banyak disebut-sebut sebagai keturunan Raja Asi-asi atau Raja Jau. Masyarakat Nias berasal dari rumpun bangsa Austronesia dan nenek moyang orang Nias diperkirakan datang dari Taiwan melalui jalur Filipina 4.000-5.000 tahun lalu. Mannis van Oven, mahasiswa doktoral dari Department of Forensic Molecular Biology, Erasmus MC-University Medical Center Rotterdam, memaparkan hasil temuannya di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Jakarta, Senin (15/4/2013). Dalam penelitian yang telah berlangsung sekitar 10 tahun ini, Oven dan anggota timnya meneliti 440 contoh darah warga di 11 desa di Pulau Nias (Wikipedia). DNA Nias tersebut nyaris 100 persen sama dengan DNA dari Taiwan, karena Nias nyaris tidak bercampur. DNA Nias ini sudah diperbandingkan dengan DNA Karo dan “Batak” (baca: Toba). ”Untuk membandingkannya, Van Oven mengintip darah Karo dan Batak serta menemukan marka DNA yang lebih variatif. Anehnya lagi, kedua etnis yang bertetangga wilayahnya dengan Pulau Nias ini tak memiliki dua marka genetik Nias.” (Tempo, 17/04-2013). Jelas, bahwa DNA Nias berbeda dengan DNA Toba maupun Karo. Maka, Nias bukan berasal dari Toba seperti menurut tarombo itu.
Akan halnya dengan Gayo, temuan fosil manusia di Loyang Mandale, Aceh Tengah yang berusia 7.400 tahun (temuan terbaru 8.430 tahun), maka telah dilakukan tes DNA terhadap fosil yang ditemukan tersebut dan sampel darah 300 lebih siswa/i di Takengon. Dr. Safarina G. Malik dari Eijkman Institute menyampaikan bahwa orang Aceh Gayo adalah keturunan fosil tersebut yang merupakan ras Australomelanesoid, pendukung budaya Hoabinh. Secara genetik, Gayo ini berkerabat sangat dekat dengan Karo (Kaber Gayo, 10/12-2011; Lintas Gayo, 08/03-2012). Dulu etnis Gayo pernah diundang juga menghadiri acara Kesatuan Bangso Batak se-Dunia (The Globe Journal, 14/10-2010),  tetapi Gayo ini telah dilakukan penelitian arkeologi dan tes DNA, sehingga mereka tidak dapat dibatakkan atau dijadikan Batak lagi sekarang ini, karena dipastikan bukan keturunan Si Raja Batak.  
Di dalam mitologi Toba dan tarombo Si Raja Batak, yang disebut “Batak” sebagaimana ditulis oleh W.M. Hutagalung dan berbagai buku tarombo lain maupun tarombo yang dapat didownload dari internet, bahwa semua marga Karo adalah keturunan dari marga-marga Toba atau keturunan Si Raja Batak. Nias juga disebut  keturunan dari Raja Asi-asi maupun Raja Jau dan Gayo disebut keturunan Raja Aceh, yang pada akhirnya disebut sebagai keturunan Si Raja Batak. Tapi, ternyata telah terbukti, bahwa Karo, Nias, dan Gayo bukanlah keturunan Si Raja Batak seperti yang disebutkan tarombo tersebut. Sementara Pakpak, Simalungun, dan Mandailing belum dilakukan tes DNA, tetapi sudah 50% tarombo Si Raja Batak tersebut terbukti tidak sesuai dengan fakta. Selanjutnya, bila mengamati sisi budaya dan ciri-ciri fisik orang Pakpak, Simalungun, dan Mandailing, maka terlihat mereka juga bukan keturunan Si Raja Batak. Apalagi penulis telah memaparkan bukti-bukti arkeologis melalui tulisan berjudul “BENARKAH SI RAJA BATAK NENEK-MOYANG BANGSO BATAK DAN TOBA INDUK BANGSO BATAK?”, yang menyimpulkan bahwa Pakpak, Karo, Simalungun, Mandailing, Nias, dan Gayo bukanlah keturunan Si Raja Batak dari Sianjur Mula-mula. Jelas sekarang, bahwa tarombo tersebut patut diuji-ulang melalui tes DNA yang  tentunya jauh lebih valid dan terpercaya. Dengan USD $ 99 per-orang merupakan tarif tes DNA di www.23andme.com, sebuah lembaga terpercaya di Amerika Serikat, maka asal leluhur akan tersingkap dengan jelas. Lebih jelas dan lebih valid hasilnya. (*)

Tebing di Sianjur Mulamula (sumber: solutourandtravel.blogspot.co.id)


                                                               (*) Pemerhati Sejarah Alternatif Peradaban 

Friday, 25 March 2016

MAAF, ETNIS TOBA MEMANG BUKAN ISRAEL YANG HILANG!


MAAF, ETNIS TOBA MEMANG BUKAN ISRAEL YANG HILANG!
Oleh: Edward Simanungkalit *

        Tahun 2015 lalu, penulis sudah pernah menulis tanggapan mengenai upaya “meyakinkan” bahwa Etnis Toba adalah keturunan dari suku Israel yang hilang dengan judul: “Sungguh, Orang Toba Bukan Israel Yang Hilang” (2015). Belakangan ini ada lagi upaya untuk meyakinkan dengan mengutip-ngutip kata  Ibrani, karena mungkin mereka menganggap di sorga itu berbahasa Ibrani, dan menyebut DNA Etnis Toba termasuk dalam Haplogroup R1 dan seterusnya. Ada kelompok yang bernyanyi lagu berbahasa Ibrani di Pusuk Buhit dengan berpakaian ala Jahudi yang diposting di youtube. Ada rasa malu melihat ada Orang Toba yang mengaku-ngaku sebagai “Bani Manasseh” kepada bangsa Israel di website mereka: www.israelnationalnews.com. Hebatnya, Orang Toba tersebut dicuekin! Itu makanya, penulis merasa perlu kembali menulis sehubungan dengan upaya kelompok tertentu untuk mengembangkan issu tersebut demi kepentingan tertentu.

The HUGO Pan-Asian SNP Consortium (2009)
       Kali ini dimulai dari hasil penelitian DNA yang dipetakan dalam  Mapping Human Genetic Diversity in Asia, The HUGO Pan-Asian SNP Consortium (2009) berikut: 

The HUGO Pan-Asian Consortium, 2009 (Sumber: www.lahistoriaconmapas.com)
HUGO adalah singkatan dari Human Genome Organization dan merupakan organisasi genom sedunia. DNA Toba terlihat jelas didominasi oleh unsur Austronesia pada urutan pertama dan unsur Austroasiatik pada urutan kedua. Kedua unsur ini saja sudah mencapai sekitar 80%, kemudian selebihnya disusul oleh Dravidian, Indo-European, Papuan, Sino-Tibetan, dan Hmong-Mien. Penutur Austronesia, Austroasiatik, Sino-Tibetan, dan Hmong-Mien merupakan ras Mongoloid semuanya.

Tatiana M. Karafet dan kawan-kawan (2010)
          Disebutkan, bahwa menurut Tatiana M. Karafet (Karafet et al. 2010), dari Universitas Arizona – Amerika Serikat, ditampilkan seperti berikut:

It looks like 5/38 = 13.2% K2*-M526 in their "Sumatra" sample and 1/177 = 0.6% K2*-M526 in their "Sulawesi" sample.

The "Sumatra" sample of the present study has the same sample size (n=38) as the sample of Batak Toba from Sumatra that previously has been analyzed by Karafet et al. (2010). In their 2010 paper, they have indicated that this sample contains the following haplogroups:

5/38 = 13.2% K2*-M526

21/38 O3a2-P201 (xO3a2b-M7, O3a2c1-M134)
4/38 O1a*-M119 (xO1a1-P203, O1a2-M110)
1/38 O1a1-P203
6/38 O2a1*-M95 (xO2a1a-M111)
32/38 = 84.2% O-M175 total

1/38 = 2.6% R2a-M124

These figures are entirely consistent with the figures of the present study: 5/38 = 13.16% K-M526*, 32/38 = 84.2% NO-M124, 1/38 = 2.6% R-M207.

Therefore, I conclude that the present study's "Sumatra" sample, in which 5/6 of the K2*-M526 Y-chromosomes have been found, is specifically a sample of Batak Toba, an ethnic group that lives in (who's afraid of living on an island caused by volcanic uplift?) and around Lake Toba in northern Sumatra. Judging from the presence of Y-DNA haplogroup R2a-M124, this population probably has experienced some South Asian influence.
(http://www.anthrogenica.com/showthread.php?2573-New-DNA-Papers-General-Discussion-Thread/page49)

Kemudian  lebih lengkap lagi  mengenai Y-DNA Toba ini digambarkan seperti di bawah ini:


Sumber: www.forgottenmotherland.com

Pada gambar tampak bahwa O-P201*, O-P203, O-M95*, dan O-M110 yang kesemuanya sebesar 83,79%. Oleh karena jumlahnya dominan, maka dapat disimpulkan bahwa DNA Orang Toba termasuk Haplogroup O yang pada dasarnya adalah ras Mongoloid. O-P203  adalah  Austronesia, sedang O-M95 adalah Austroasiatik, dan O-M110 adalah Tai Kadai. Khusus O-P201* sering diasosiasikan dengan populasi Sino-Tibetan, Hmong-Mien, atau Han Chinese. Adapun K-M526*: 13,52% ini merupakan DNA Negrito.  R-M124: 2,7% berasal dari India Selatan.

Tatiana M. Karafet (et al. 2010) dalam papernya: Taiwan Y-chromosomal DNA variation and its relationship with Island Southeast Asia” menyampaikan: “Judging from the presence of Y-DNA haplogroup R2a-M124, this population probably has experienced some South Asian influence.” Pengaruh Asia Selatan atau India ini patut dicacat, sehingga tidak begitu saja mengklaim bahwa Batak Toba (baca: Toba) yang DNAnya memiliki R-M124  sebesar 2,7% adalah Israel yang hilang. Ini disebabkan adanya anggapan bahwa R-M124 adalah DNA Israel.


Mark Lipson dan kawan-kawan (2014)
Senada dengan penelitian Tatiana M. Karafet (et al. 2010) tadi, maka Mark Lipson et al.  (2014), dari MIT – Massachusetts Institute of TechnologyAmerika Serikat, dalam jurnalnya: "New  statistical  genetic methods for elucidating the history and evolution of human populations”, melakukan analisa terhadap DNA Toba dan lain-lain untuk menelusuri asal-usulnya sebagai berikut:

 

Lipson et al.  (2014): http://www.nature.com/ncomms/2014/140819/ncomms5689/fig_tab/ncomms5689_F2.html

 

Mark Lipson et al. (2014), yang pengelompokannya berdasarkan rumpun bahasa, menjelaskan bahwa  garis besar komposisi Y-DNA Toba: Austronesia, Austroasiatik, dan Negrito. Mereka bermigrasi dan memasuki pulau Sumatera dari pantai Timur. Penutur Austroasiatik yang sampai ke Sumatera adalah keturunan suku H’Tin dari Thailand kemudian bercampur dengan penutur Austronesia di Asia Daratan. Baru campurannya bermigrasi ke Asia Tenggara bagian Barat dan mereka berbahasa Austronesia (Lipson, 2014:85-86).

 

Lian Deng dan kawan-kawan (2015)

Lian Deng et al. (2015), dalam papernya: “Dissecting the genetic structure and admixture of four geographical Malay”, populationsmelakukan analisa DNA lagi dengan menggunakan teknologi yang lebih maju seperti Mark Lipson (2014) di atas. Adapun hasil penelitian mereka yang dilakukan tahun 2015 lalu dapat dilihat hasilnya sebagai berikut:


 Deng et al. (2015): http://www.nature.com/articles/srep14375/figures/3

Berdasarkan hasil penelitian Lian Deng et al. (2015) di atas tampak lebih jelas gambaran DNA Toba dengan kode ID-TB yang terdiri dari: Oceanian, East Asian, Southeast Asian 1, Southeast Asian 2, Negrito, South Asian, Central Asian, European, dan African. Di sini Lian Deng et al. (2015) terlihat membagi DNA tersebut berdasarkan wilayah geografis. Dari gambar tersebut terlihat bahwa DNA Toba dominan dari Asia terutama ras Mongoloid.

Menyingkap DNA Toba Lebih Jauh
            Y-DNA Toba dapat dibagi ke dalam 3 macam ras sesuai dengan periode migrasi yang terjadi ke Negeri Toba/Toba Na Sae, yaitu: (1) K-M526*; (2) O-P201*, O-P203, O-M95*, dan O-M110; (3) R-M124.

(1)        K-M526*

          Tatiana M. Karafet et al. (2010) menjelaskan sebelumnya bahwa K-M526* ditemukan di Sumatera dan Sulawesi . K-M526* ditemukan pada Etnis Toba dan Suku Mandar. Karena ada ditemukan pada etnis Toba, sehingga perlu juga hal ini dibicarakan secara khusus. Phylogeny tree yang disusun berdasarkan penelitian Tatiana M. Karafet et al. (2014), dalam papernya: Improved phylogenetic resolution and rapid diversification of Y-chromosome haplogroup K-M526 in Southeast Asia”, membantu memberikan penjelasan tentang K-M526* yang  berawal dari K2.

Phylogenetic tree berdasarkan Karafet et al., 2014:
Sumber: https://motherlanders.wordpress.com

Karafet et al. (2014) menjelaskan bahwa struktur filogenetik dari haplogroup K-M526* sekarang dibagi dalam 4 subclade utama (K2a-d). Adapun yang terbesar ialah K2b, yang dibagi menjadi dua kelompok: K2b1 dan K2b2. K2b1 menggabungkan haplogroup sebelumnya yang dikenal sebagai haplogroup M, S, K-P60 dan K-P79, sedang K2b2 terdiri dari haplogroup P dan sub-haplogroup yang Q dan R, yang  mayoritas membentuk garis keturunan ayah/pria (paternal) di Eropa, Eurasia dan Amerika, dan merupakan satu-satunya subclade K2b yang berada di luar geografi Asia Tenggara (Sundaland) dan Oseania. Itu sebabnya, disimpulkan bahwa haplogroup P, yang merupakan leluhur bangsa Eropa, bermigrasi dari Sundaland sebagaimana pernah dikemukakan sebelumnya oleh Stephen Oppenheimer. Sementara itu K2-M526* ditemukan pada populasi Sumatra & Sulawesi, dan jika perpisahan ini terjadi 50.000 tahun yang lalu, maka lokasi paling ideal adalah di antara keduanya, yaitu Sundaland. Berdasarkan mtDNA populasi Etnis Toba dengan macrohaplogroup M yang sebanding dengan frekuensi K-M526, maka diperkirakan K-M526 berasal dari populasi Sundaland. 

Sumber: www.geneticdisorders.info

(2)        O-P201*, O-P203, O-M95*, dan O-M110
         O-P201*, O-P203, O-M95*, dan O-M110, kesemuanya merupakan ras Mongoloid. O-P203 adalah Austronesia. O-M95* adalah Austroasiatik dan O-M110 adalah Tai-Kadai. Khusus O-P201* berasal dari Yunnan dan di Toba berbahasa Austronesia. Melalui Phylogeny tree berdasarkan Karafet et al. (2014) di atas tadi dapat terlihat O-P203, O-M95*, dan O-M110 yang berasal dari turunan K2a. K2a menurunkan NO dan NO menurunkan O-M175. Kemudian O-M175 adalah yang menurunkan Austronesia, Austroasiatik, Tai-Kadai, Sino Tibetan, dan Hmong-Mien, yang kesemuanya adalah ras Mongoloid, sehingga ras Mongoloid ini berasal dari Sundaland juga. O-M95* masuknya ke Indonesia bagian barat lebih awal berupa gelombang pra-Austronesia dari Asia Tenggara (Karafet et al. 2010 merujuk kepada Kumar et al. 2007)Hasil perhitungan jarak genetik menggunakan STR yang berasosiasi dengan P-201 menunjukan bahwa hubungann genetik yang sangat dekat antara aborigin Taiwan dan Filipina; Indonesia Barat, Indonesia Timur dan Oceania dibandingkan dengan Asia Tenggara. Hasil ini memberikan indikasi haplogroup ini diasosiasikan dengan Ekspansi Austronesia bersama dengan Haplogroup O-M110 dan O-P203 yang menyebar dari arah utara menuju ke barat dan timur Garis Wallacea.” (Karafet et al, 2010, dalam papernya: “Major East–West Division Underlies Y Chromosome Stratification across Indonesia”).

     (3) R-M124
Sesuai dengan Phylogenetic tree berdasarkan Karafet et al., 2014 di atas tadi tampak juga R2a-M124 atau R-M124 yang merupakan turunan dari K2b2 hingga sampai kepada R-M124. R-M124 ini ditemukan di India, Srilanka, dan suku terasing di Pakistan Utara.

Etnis Toba di Negeri Toba/Toba Na Sae dengan DNA-nya
            Pada awalnya, sebagai populasi yang jauh lebih tua dari Sundaland, maka Negeri Toba/Toba Na Sae sudah lebih dulu berdiam K-M526*. Seperti dikemukakan di atas bahwa Y-DNA Toba sebagian besar terdiri dari: O-P201*, O-P203O-M95*, dan O-M110 sebesar 83,79% yang merupakan ras Mongoloid. Dari pantai Timur, mereka sebagian masuk ke Negeri Toba/Toba Na Sae (Tapanuli Utara Lama) dan bertemu dengan K-M526* di sana, sehingga terjadilah percampuran. Menurut hasil penelitian Trejaut et al. (2014), mereka ada yang datang dari Taiwan dan ada juga dari Asia Daratan, sehingga mereka datang secara bergelombang dari  waktu berbeda-beda. Mereka ini kemudian menggunakan bahasa Toba, yang termasuk ke dalam rumpun bahasa Austronesia. Belakangan datang lagi R-M124 dan terjadilah percampuran, sehingga seperti yang dikemukakan oleh Tatiana M. Karafet et al. (2010), maka keseluruhannya Y-DNA Haplogroups Etnis Toba terdiri dari: K-M526*, O-P201, O-P203, O-M95*, O-M110, dan R-M124.

Benarkah Etnis Toba itu Israel yang Hilang?
          Tatiana M. Karafet et al. (2010) mengemukakan di atas bahwa pupolasi Toba sudah mengalami pengaruh dari India Selatan. Sejarah memang mencatat bahwa penutur Dravida dari India Selatan sudah masuk ke Sumatera Utara sejak abad ke-3. Prasasti Lobu Tua, Barus dari abad ke-11 menceritakan tentang keberadaan 500 perusahaan dagang Tamil dari India Selatan yang beroperasi di kawasan Barus. Sementara hubungan masyarakat Toba dengan Barus sudah sejak lama, sehingga pengaruh Hindu juga sudah terjadi berabad-abad sebelumnya. Turiturian dan sejarah di Toba memang tidak pernah mengungkapkan kedatangan penutur Dravida ini, tetapi jejaknya ada ditemukan seperti dalam mitologi penciptaan yang mirip dengan Hindu Sivaisme (Harry Parkin, 1978). Pengaruh India terhadap masyarakat Toba dikemukakan oleh Robin Hanbury dan Tenison (1975:28) sebagai berikut: “Sejak awal abad ke-16, Batak Toba telah mengalami kemajuan dalam bidang pertanian. Terutama atas keberhasilan mereka mengadopsi teknik pertanian yang diperkenalkan oleh orang-orang India, yakni pengolahan sawah dengan menggunakan sistim irigasi. Sehingga pada masa itu masyarakat Batak Toba secara relatif pernah mengalami kehidupan yang makmur.” Dapat dibayangkan bahwa  Orang Toba telah  mengalami percampuran dengan penutur Dravida dari India Selatan, sehingga membawa haplogroup R-M124 ke dalam Y-DNA Toba.
       R-M124 ini, atau lengkapnya R2a-M124, dijelaskan sebagai berikut: “Menurut Project Genographic yang dilakukan oleh National Geographic Society, sebuah organisasi yang didanai oleh keluarga Rothschild, Haplogroup R-M124 muncul sekitar 25.000 tahun yang lalu di Asia Tengah dan anggotanya bermigrasi ke selatan sebagai bagian dari gelombang besar kedua migrasi manusia ke India.” Sengupta et al. (2006) menemukan bahwa R2a-M124 tersebut pada penutur Dravidian dan India lainnya (http://www.gutenberg.us/articles/haplogroup_r-m124). Sementara dalam Y-DNA of Ashkenazi Jews ada haplogroup R-M17 (R1a) dan R-P25 (R1b) dalam frekwensi kecil sbb.: “Because haplogroups R-M17 (R1a) and R-P25 (R1b) are present in non-Ashkenazi Jewish populations (e.g., at 4% and 10%, respectively) and in non-Jewish Near Eastern populations (e.g., at 7% and 11%, respectively; Hammer et al. 2000; Nebel et al. 2001), it is likely that they were also present at low frequency in the AJ (Ashkenazi Jewish) founding population. …” (https://en.wikipedia.org/wiki/Genetic_studies_of_Jewish_origins). Jelas, bahwa Y-DNA Ashkenazi Jews adalah R1a dan R1b. Dengan demikian, maka R1a dan R1b yang dimiliki oleh Jahudi Ashkenazi BERBEDA dengan R2a yang dimiliki oleh Etnis Toba dan penutur Dravidian dari India Selatan. Apalagi mengaku Bani Manasseh, oleh karena keduabelas suku Israel memiliki garis paternal dengan Y-DNA Haplogroup J1, sehingga terlalu jauh hubungannya R2a dan juga dengan Etnis Toba. Maaf, ternyata Etnis Toba memang bukan keturunan suku Israel yang hilang!



(*) Pemerhati Sejarah Alternatif Peradaban


Monday, 1 February 2016

BENARKAH SI RAJA BATAK NENEK-MOYANG BANGSO BATAK DAN TOBA INDUK BANGSO BATAK? (6 - Habis)

BENARKAH SI RAJA BATAK NENEK-MOYANG BANGSO BATAK
DAN TOBA INDUK BANGSO BATAK? (6 - Habis)

Oleh: Edward Simanungkalit *

Sumatera Utara merupakan sebuah wilayah yang didiami oleh berbagai etnis yang populasi etnis tersebut cukup banyak. Di sebelahnya Provinsi Aceh, Provinsi Riau, dan Provinsi Sumatera Barat. Di Sumatera Utara sendiri terdiri dari 8 etnis, yaitu: Melayu, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing, “Batak” Toba, dan Nias. Pakpak, Karo, Simalungun, Toba, Angkola, dan Mandailing disebut oleh para antropolog sebagai “Batak”, bahkan ada penulis sejarah “Batak” berusaha menjadikan Nias sebagai bagian dari “Batak”. Akan tetapi, Pakpak, Karo, Simalungun, Mandailing, dan Nias tersebut keberatan disebut “Batak”. Secara khusus,  Pakpak sangat keberatan disebut “Batak” melampaui etnis lainnya, karena arti kata “Batak” itu sendiri dalam bahasa Pakpak adalah “babi”, sehingga dapat dimengerti kalau mereka sangat keras menolak disebut “Batak”. Meskipun demikian, para leluhur dari semua etnis setempat di Sumatera Utara tadi satu-persatu akan ditelusuri asal-usulnya, sehingga menjadi terang-benderang tentang semua etnis tersebut.
  
Raja-Raja Karo
Arkeolog prasejarah, Prof. DR. Harry Truman Simanjuntak, yang sudah malang-melintang selama 38 tahun melakukan pelelitian arkeologi prasejarah di Indonesia ini sudah menulis lebih dari 150 karya tulis yang telah dipublikasikan. Doktor arkeologi prasejarah lulusan dari Perancis ini, selain sebagai Professor Riset di Puslit Arkenas (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional), dia juga Peneliti dan Direktur dari Center for Prehistoric and Austronesian Studies (2006 - sekarang). Harry Truman Simanjuntak mengatakan, bahwa ras Australomelanesoid  telah lebih dulu datang ke Sumatera dan mereka yang pertama datang setelah Sundaland tenggelam.
Kemudian disusul oleh penutur Austroasiatik pada sekitar 4.300 – 4.100 tahun lalu dari Kamboja dan Vietnam, sedang  penutur Austronesia dari Taiwan menyusul pada sekitar 4.000 tahun lalu. Penutur Austroasiatik dan penutur Austronesia ini, keduanya berasal dari Yunan, Cina Selatan. Leluhur prasejarah ini dikemukakan oleh Harry Truman Simanjuntak. Sedang pada masa sejarah, orang-orang India Selatan datang lagi ke Sumatera pada sekitar abad ke-3 Masehi, sehingga terjadi juga pengaruh India Selatan terhadap Karo, Pakpak, Simalungun, dan Mandailing.
Penelitian arkeologi dengan melakukan ekskavasi telah dilakukan oleh P.V. van Stein Callenfels di Deli Serdang dekat Medan (1925), H.M.E. Schurman di Langkat dekat Binjai (1927), Kupper di Langsa (1930), Edward MacKinnon di DAS Wampu (1973, 1976, 1978), Harry Truman Simanjuntak & Budisampurno di Sukajadi, Langkat (1983), di Lhok Seumawe dan oleh Tim Balai Arkeologi Medan di Aceh Tengah (2011) dan di Bener Meriah, Aceh (2012). Temuan fosil di Loyang Mandale, Aceh Tengah diperkirakan berusia 8.430 tahun. Penelitian arkeologi dengan melakukan ekskavasi ini telah menemukan kapak Sumatera (Sumatralith) yang terkenal itu dan menemukan bahwa ras australomelanesoid telah datang melalui pesisir Timur Sumatera bagian Utara ini pada masa Mesolitik sekitar 10.000 – 6.000 tahun lalu.
Berdasarkan fosil yang ditemukan di Loyang Mandale, Aceh Tengah (Gayo) yang berusia 7.400 tahun pada waktu itu (sedang temuan terbaru 8.430 tahun), maka dilakukan tes DNA terhadap fosil yang ditemukan dan sampel darah 300 lebih siswa/i Orang Gayo di Takengon. DR. Safarina G. Malik dari Eijkman Institute menyatakan, bahwa mereka itu adalah keturunan dari fosil tadi dan kekerabatan genetik antara populasi Gayo dengan Karo sangat dekat. Hal ini dikarenakan Orang Karo yang berada di dekat penelitian arkeologi tadi merupakan keturunan dari ras Australomelanesoid, yang penulis sebutkan dalam tulisan ini sebagai Raja-Raja Karo, yang datang pada masa Mesolitik sekitar 10.000 – 6.000 tahun lalu. Mereka ini juga yang datang ke Humbang menjadi Raja-Raja Toba dan sampai ke selatan Sumatera. Itu sebabnya hasil tes DNA Orang Minangkabau, Orang Riau, dan Orang Melayu juga menunjukkan bahwa mereka adalah keturunan mereka ini. Semuanya ini cocok dengan apa yang dikemukakan oleh Prof. DR. Harry Truman sebelumnya.
  
Raja-Raja Simalungun
Arkeolog prasejarah, Prof. DR. Harry Truman Simanjuntak telah mengemukakan di atas bahwa ras australomelanesoid telah lebih dulu bermigrasi ke Sumatera. Kemudian disusul oleh penutur Austroasiatik datang dari Kamboja dan Vietnam pada sekitar 4.300 – 4.100 tahun lalu, sedang  penutur Austronesia dari Taiwan menyusul pada sekitar 4.000 tahun lalu. Keduanya adalah ras Mongoloid yang berasal dari Yunan, Cina Selatan. Leluhur prasejarah ini  dikemukakan oleh Harry Truman Simanjuntak. Ras Australomelanesoid tadi datang pada masa Mesolitik di sekitar 10.000 – 6.000 tahun lalu melalui pesisir Timur Sumatera bagian Utara dan menyebar ke daerah-daerah Sumatera hingga ke Sumatera Selatan. Dari mereka inilah, yang penulis sebutkan di sini sebagai Raja-Raja Simalungun, yang menurunkan Orang Simalungun. Disusul penutur Austroasiatik dan penutur Austronesia pada masa Neolitik di sekitar tahun 6.000 – 2.000 tahun lalu.
Kemudian orang-orang India Selatan datang lagi pada millenium pertama Masehi pada sekitar abad ke-3 dan mereka mendirikan Kerajaan Nagur di tanah Simalungun. Kerajaan Nagur bangkit dan berdiri sejak abad ke-6 dan mengalami kemunduran pada abad ke-15 serta tercatat di Cina pada zaman Disnasti Sui abad ke-6 (Agustono & Tim, 2012:24, 31). Buku “SEJARAH ETNIS SIMALUNGUN” melaporkan bahwa “… di daerah Tigadolok masih terdapat nama kampung bernama Nagur yang letaknya jauh di pedalaman dan sulit ditempuh. Berdekatan dengan kampung Nagur ini terdapat tempat keramat bernama Batu Gajah sisa candi peninggalan agama Hindu yang sudah pernah diteliti tim arkeologi dari Medan yang menurut perkiraan didirikan sejak abad ke-5 Masehi.” (Agustono & Tim, 2012:38). Kerajaan Nagur ini  didirikan oleh Datu Parmanik-manik, yang selanjutnya berubah menjadi Damanik. Raja Nagur, Datu Parmanik-manik itu, berasal dari Nagpur atau Nagore, India.
Kemudian berdasarkan nama panglima Kerajaan Nagur, maka terbentuklah  4 (empat) kelompok marga di Simalungun, yaitu: Sinaga, Saragih, Damanik, dan Purba, yang disingkat SiSaDaPur. Marga yang empat inilah marga Simalungun asli yang menjadi marga pemilik tanah di Simalungun sejak zaman dulu. Pada dasarnya Kerajaan Nagur ini tetap berkelanjutan hingga masa Raja Maropat (1400-1907) dengan Raja bermarga Damanik di Kerajaan Siantar terus berlanjut lagi pada masa Raja Marpitu (1907-1946). Demikianlah selintas kilas tentang etnis Simalungun hingga masa kerajaan-kerajaan di tanah Simalungun. 

Raja-Raja Mandailing
      Arkeolog prasejarah, Prof. DR. Harry Truman Simanjuntak telah mengemukakan di atas bahwa ras australomelanesoid telah lebih dulu bermigrasi ke Sumatera. Kemudian disusul oleh penutur Austroasiatik pada sekitar 4.300 – 4.100 tahun lalu dan penutur Austronesia menyusul pada sekitar 4.000 tahun lalu. Penutur Austroasiatik dan penutur Austronesia ini, keduanya adalah ras Mongoloid yang berasal dari Yunan, Cina Selatan. Leluhur prasejarah ini  dikemukakan oleh Harry Truman Simanjuntak. Ras australomelanesoid tadi datang pada masa Mesolitik di sekitar 10.000 – 6.000 tahun lalu melalui pesisir Timur Sumatera bagian Utara dan menyebar ke daerah-daerah Sumatera hingga ke Sumatera Selatan. Dari mereka inilah, penulis sebutkan di sini sebagai Raja-Raja Mandailing, yang menurunkan Orang Mandailing. Disusul penutur Austroasiatik dan penutur Austronesia pada masa Neolitik di sekitar tahun 6.000 – 2.000 tahun lalu.
“Situs purba berupa menhir ditemukan di Runding, Mandailing Natal merupakan peninggalan dari zaman batu sebelum manusia mengenal peralatan dari perunggu. Di lokasi ini masih ditemukan “kursi batu” dengan pahatan amat sederhana, dangkal estetika, hanya berorientasi kepada fungsi, bukan keindahan” (www.mandailingonline.com, 16/05-2014).
Kemudian orang-orang India Selatan datang lagi pada millenium pertama Masehi abad ke-2 atau ke-3. Mandailing sudah disebutkan Gajah Mada dalam Sumpah Palapanya dalam Kitab Negarakertagama sekitar tahun 1365. Candi Simangambat merupakan temuan arkeologis di Simangambat yang berasal dari abad ke-9 Masehi.  Situs-situs lain terdapat di Desa Pidoli Lombang (Saba Biaro), Desa Huta Siantar (Padang Mardia), Desa Sibanggor Julu, Huta Godang (Bagas Godang) dan lain-lain. Baru-baru ini ditemukan juga situs candi di hutan Simaninggir, Siabu, Madina yang berasal dari kebudayaan Hindu - Budha pada sekitar abad 9-10 Masehi (www.mandina,go.id). Keberadaan candi-candi ini membuktikan sudah ada masyarakat dengan populasi besar dan teratur di sana pada masa lalu. Sedang Candi Portibi di Padang Lawas berasal dari abad ke-11.
Pada tahun 1025, Rajendra Chola dari  India Selatan memindahkan pusat pemerintahannya di Mandailing ke daerah Hang Chola (Angkola). Kerajaan India tersebut diperkirakan telah membentuk koloni mereka, yang terbentang dari Portibi hingga Pidoli. Di lokasi Padang Mardia, Huta Siantar, Panyabungan ditemukan juga situs batu bertulisan Arab bertarikh tahun 264 H (www.mandailingonline.com, 16/05-2014) atau abad ke-9 Masehi. Peristiwa yang dikenal sebagai Riwajat Tanah Wakaf Bangsa Mandailing di Soengai Mati, Medan pada tahun 1925 berlanjut ke pengadilan. Akhirnya, berdasarkan hasil keputusan Pengadilan Pemerintahan Hindia Belanda di Batavia, Mandahiling diakui sebagai etnis terpisah dari Batak (wikipedia).

Raja-Raja Pakpak
Arkeolog prasejarah, Prof. DR. Harry Truman Simanjuntak telah mengemukakan di atas bahwa ras australomelanesoid telah lebih dulu bermigrasi ke Sumatera. Kemudian disusul oleh penutur Austroasiatik pada sekitar 4.300 – 4.100 tahun lalu dan penutur Austronesia menyusul pada sekitar 4.000 tahun lalu. Penutur Austroasiatik dan penutur Austronesia ini, keduanya adalah ras Mongoloid yang berasal dari Yunan, Cina Selatan. Leluhur prasejarah ini  dikemukakan oleh Harry Truman Simanjuntak. Ras australomelanesoid tadi datang pada masa Mesolitik di sekitar 10.000 – 6.000 tahun lalu melalui pesisir Timur Sumatera bagian Utara dan menyebar ke daerah-daerah Sumatera hingga ke Sumatera Selatan. Dari mereka inilah, penulis sebutkan di sini sebagai Raja-Raja Pakpak,  yang menurunkan Orang Pakpak. Disusul penutur Austroasiatik dan penutur Austronesia pada masa Neolitik di sekitar tahun 6.000 – 2.000 tahun lalu.
  Orang Pakpak mempunyai versi sendiri tentang asal-usul jatidirinya berdasarkan sumber-sumber tutur menyebutkan antara lain (Sinuhaji dan Hasanuddin, 1999/2000:16):
  1.  Keberadaan orang-orang Simbelo, Simbacang, Siratak, dan Purbaji yang dianggap telah mendiami daerah Pakpak sebelum kedatangan orang-orang Pakpak.
  2. Penduduk awal daerah Pakpak adalah orang-orang yang bernama Simargaru, Simorgarorgar, Sirumumpur, Silimbiu, Similang-ilang, dan Purbaji.
  3. Dalam lapiken/laklak  (buku berbahan kulit kayu) disebutkan penduduk pertama daerah Pakpak adalah pendatang dari India yang memakai rakit kayu besar yang terdampar di Barus.
  4. Persebaran orang-orang Pakpak Boang dari daerah Aceh Singkil ke daerah Simsim, Keppas, dan Pegagan.
  5. Terdamparnya armada dari India Selatan di pesisir barat Sumatera, tepatnya di Barus, yang kemudian berasimilasi dengan penduduk setempat.
Selain itu, ada juga jejak Tamil dari India Selatan di dalam masyarakat Pakpak, karena orang-orang dari India Selatan banyak datang ke Sumatera Utara sejak millennium pertama Masehi di sekitar abad ke-3. Kemiripan hasil-hasil budaya Pakpak (dengan India) merupakan buah dari kontak dagang Pakpak dengan India (Tamil). Khususnya Barus merupakan bandar internasional, menjadi gerbang bagi transfer budaya dari India terhadap budaya Pakpak yang terjadi setidaknya sejak akhir abad ke-10 M atau awal abad ke-11 M. Sejumlah unsur budaya India itu telah memperkaya kebudayaan Pakpak sebagaimana dapat dilihat jejak-jejaknya hingga kini (Soedewo, 2008, dalam https://balarmedan.wordpress.com). Parultop Padang Batanghari memiliki putri Pinggan Matio, yang dikawini  Raja Silahisabungan. Pdt. Abednego Padang Batanghari menyebutkan bahwa Parultop merupakan generasi kesembilan dari marga Padang Batanghari (Tabloid TANO BATAK, Edisi Oktober 2010).

Raja-Raja Nias
Penelitian Arkeologi telah dilakukan di Pulau Nias sejak tahun 1999 yang menemukan bahwa sudah ada manusia di Pulau Nias sejak 12.000 tahun silam.  Mereka ini bermigrasi dari daratan Asia ke Pulau Nias pada masa paleolitik, bahkan ada indikasi sejak 30.000 tahun lampau, kata Prof. DR. Harry Truman Simanjuntak dari Puslitbang Arkeologi Nasional dan LIPI Jakarta. Pada masa itu hanya budaya Hoabinh, Vietnam yang sama dengan budaya yang ada di Pulau Nias, sehingga diduga kalau asal usul Suku Nias berasal dari daratan Asia di sebuah daerah yang kini menjadi negara yang disebut Vietnam (Wikipedia).
Penelitian genetika terbaru menemukan, bahwa masyarakat Nias berasal dari rumpun bangsa Austronesia. Nenek moyang orang Nias diperkirakan datang dari Taiwan melalui jalur Filipina 4.000-5.000 tahun lalu. Mannis van Oven, mahasiswa doktoral dari Department of Forensic Molecular Biology, Erasmus MC-University Medical Center Rotterdam, memaparkan hasil temuannya di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Jakarta, Senin (15/4/2013). Dalam penelitian yang telah berlangsung sekitar 10 tahun ini, Oven dan anggota timnya meneliti 440 contoh darah warga di 11 desa di Pulau Nias (Wikipedia).
Dalam genetika orang Nias tidak ditemukan dari masyarakat Nias kuno yang hidup 12.000 tahun lalu (Kompas, 16/04-2013). DNA Nias ini sudah diperbandingkan dengan DNA Karo dan “Batak” (baca: Toba). ”Untuk membandingkannya, Van Oven mengintip darah Karo dan Batak serta menemukan marka DNA yang lebih variatif. Anehnya lagi, kedua etnis yang bertetangga wilayahnya dengan Pulau Nias ini tak memiliki dua marka genetik Nias.” (Tempo, 17/04-2013). Jelas, bahwa DNA Nias berbeda dengan DNA Toba maupun Karo.
   
Raja-Raja Aceh
Temuan fosil manusia di Loyang Mandale, Aceh Tengah yang berusia 7.400 tahun (temuan terbaru 8.430 tahun), maka telah dilakukan tes DNA terhadap fosil yang ditemukan tersebut dan sampel darah 300 lebih siswa/i di Takengon. Dr. Safarina G. Malik dari Eijkman Institute menyampaikan bahwa orang Aceh Gayo adalah keturunan fosil tersebut yang merupakan ras Australomelanesoid atau Orang Negrito, pendukung budaya Hoabinh. Secara genetik, Gayo ini berkerabat sangat dekat dengan Karo (Kaber Gayo, 10/12-2011; Lintas Gayo, 08/03-2012). 

Raja-Raja Melayu 
Sebagaimana telah dikemukakan Prof. DR. Harry Truman bahwa Ras Australomelanesoid yang seperti Papua (Negrito) datang ke Sumatera diikuti penutur Austroasiatik sekitar 4.300 tahun lalu dan penutur Austronesia sekitar 4.000 tahun lalu. Mereka datang pada masa prasejarah yang diikuti kemudian orang-orang India Selatan pada millenium pertama sekitar abad ke-3 Masehi. Orang Melayu berada di sekitar dilakukannya ekskavasi arkeologi di daerah Deli Serdang dan Langkat yang membuktikan kedatangan orang-orang Negrito, pendukung budaya Hoabinh pada masa Mesolitik sekitar 10.000-6.000 tahun lalu. Hasil tes DNA Melayu ini terdapat unsur Negrito, Austroasiatik, Austronesia, dan India ditambah lain-lainnya, sehingga mereka sudah berada di Sumatera Utara pada masa prasejarah.
  
Raja-Raja Toba
Di Humbang, mulai dari Silaban Rura hingga Siborong-borong, yang sekarang berada di Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Humbang Hasundutan, telah ditemukan adanya aktivitas banyak manusia sekitar 6.500 tahun lalu. Dalam bukunya “Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia”, Peter Bellwood (2000:339) menulis: “Sebagai contoh, sebuah inti polen dari rawa Pea Simsim dekat Danau Toba di Sumatera bagian Utara (1.450 m dpl) menunjukkan bahwa pembukaan hutan kecil-kecilan mungkin sudah dimulai pada 4.500 Sebelum Masehi.”. Bellwood merujuk kepada hasil penelitian paleontologi oleh Bernard Kevin Maloney (1979) dari Universitas Hull, Inggris, di daerah Humbang, sebelah barat Danau Toba dan Bernard K. Maloney sendiri sudah menulis beberapa buku tentang hal ini.
Penelitian paleontologi atas pembukaan hutan ini dilakukan pada 4 (empat) tempat, yaitu: di Pea Simsim, sebelah barat Nagasaribu, di Pea Bullock, dekat Silangit – Siborongborong, di Pea Sijajap, daerah Simamora Nabolak, dan di Tao Sipinggan, Silaban. Penelitian ini membuktikan bahwa telah ada aktivitas manusia sekitar 6.500 tahun lalu di Humbang (www.anu.edu.au; www.manoa.hawaii.edu; www.lib.washington.edu). Mereka itu datang dari pesisir timur Sumatera bagian Utara yang telah dilakukan beberapa kali penelitian arkeologi prasejarah di beberapa tempat mulai dari Serdang dekat Medan sampai Lhok Seumawe (ORANG TOBA: Asal-usul, Jatidiri, dan Mitos Sianjur Mulamula, 2015:21-24). Mereka ini banyak dan penulis namakan mereka dengan nama  Raja-Raja Toba, karena hanya menurunkan Orang Toba. Jadi, Raja-Raja Toba bukan satu orang figur, tetapi lebih dari satu orang atau banyak orang dan mereka itu yang menurunkan Orang Toba terbukti dari DNA-nya (2015:31-35). 
  
Si Raja Batak
Selama ini Si Raja Batak disebut-sebut adalah nenek-moyang Bangso Batak atau Suku Batak. Si Raja Batak disebutkan nama kampungnya Sianjur Mulamula di kaki Pusuk Buhit, yang sekarang berada di daerah Kabupaten Samosir. Berdasarkan mitologi seperti yang ditulis oleh W.M. Hutagalung,  dalam bukunya: “PUSTAHA BATAK: Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak” (1926), bahwa Si Raja Batak merupakan keturunan dari Raja Ihatmanisia yang merupakan anak dari Si Borudeak Parujar dalam perkawinannya dengan Raja Odapodap dari Langit Ketujuh. Berbagai tulisan maupun buku-buku sejarah “Batak” lainnya menyebutkan bahwa Si Raja Batak berasal dari Hindia Belakang dan membuka kampung di Sianjur Mulamula. Walaupun ada versi-versi asal-usul lain, tetapi pada dasarnya Si Raja Batak sampai di Sianjur Mulamula yang disebut  merupakan kampung awal Bangso Batak (2015:1-11).
Para penulis “Sejarah Batak” tadi menyebutkan bahwa keturunan Si Raja Batak pergi menyebar dan membentuk Bangso Batak, yaitu: Batak Toba, Batak Pakpak, Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Angkola, dan Batak Mandailing. Secara khusus, W.M. Hutagalung (1926) menulis tarombo di mana marga-marga Pakpak, Karo, Simalungun, dan Mandailing merupakan keturunan Si Raja Batak dari marga-marga Toba.
Dengan demikian, selain keturunan Si Raja Batak, maka seluruh marga-marga Pakpak, Karo, Simalungun, dan Mandailing itu adalah keturunan Batak Toba juga yang kesemuanya disebut Bangso Batak atau Suku Batak, sehingga Batak Toba merupakan induk dari marga-marga Pakpak, Karo, Simalungun, dan Mandailing. Memang masih ada buku-buku yang menguraikan tentang marga-marga bahkan ada yang memasukkan Nias sebagai sub-etnik Batak yang merupakan keturunan Raja Asi-asi, sedang sebagian lagi menyebut keturunan Raja Jau. Kemudian disebutkan juga tentang Raja Aceh yang pergi ke Gayo. Akan tetapi, buku W.M. Hutagalung (1926) yang paling menarik, karena paling laris manis, sehingga paling banyak dibaca oleh masyarakat dan tentulah  dapat diperkirakan pengaruhnya demikian luas. Setelah Bibel, Buku Ende, dan Almanak Gereja, sepertinya buku inilah yang paling banyak dibeli masyarakat terutama masyarakat Toba.
Pada tebing bukit di Sianjur Mulamula, Samosir ada dibuat tulisan: “PUSUK BUHIT – SIANJUR MULAMULA – MULA NI HALAK BATAK – 5 SUKU: BATAK TOBA, BATAK MANDAILING, BATAK KARO, BATAK PAPPAK, BATAK SIMALUNGUN”. Selanjutnya, Monumen Pintu Gerbang Tomok memuat tulisan: BATAK TOBA, BATAK SIMALUNGUN, BATAK MANDAILING, BATAK ANGKOLA, BATAK PAKPAK, BATAK KARO. Sementara dalam website Pemkab Samosir, tentang Si Raja Batak ini ditulis sebagai berikut: “Si Raja Batak, yang tinggal di Kaki Gunung Pusuk Buhit mempunyai dua putra, yaitu Guru Tateabulan dan Raja Isumbaon. Kemudian nama dua putra ini menjadi nama dari dua kelompok besar marga Bangso Batak, yaitu Lontung dan Sumba. Dari kedua kelompok marga ini lahirlah marga-marga orang Batak, yang saat ini sudah hampir 500 marga. Sampai saat ini orang Batak mempercayai bahwa asal mula Bangso Batak ada di Pusuk Buhit Sianjur Mulamula.” (www.samosirkab.go.id).
Kemudian mengenai masa hidup Si Raja Batak ini, maka dikemukakan beberapa pihak sebagai berikut:
Richard Sinaga, dalam bukunya "LELUHUR MARGA MARGA BATAK, DALAM SEJARAH SILSILAH DAN LEGENDA" (1997) mengemukakan bahwa masa hidup Si Raja Batak kira-kira pada tahun 1200 Masehi atau awal abad ke-13 Masehi.
Batara Sangti Simanjuntak, dalam bukunya berjudul “Sejarah Batak”, mengatakan bahwa Si Raja Batak di Tanah Batak baru ada pada tahun 1305 Masehi atau awal abad ke-14 Masehi.
Kondar Situmorang, dalam Harian Sinar Indonesia Baru terbitan tanggal 26 September 1987 dan tanggal 03 Oktober 1987 serta tanggal 24 Oktober 1987, dengan judul “Menapak Sejarah Batak”, mengatakan bahwa Si Raja Batak baru ada pada tahun 1475 Masehi.
Sarman P. Sagala, dalam website Pemkab Samosir mengatakan, bahwa Si Raja Batak hidup pada tahun 1200 atau awal abad ke-13 (http://dishubkominfo.samosirkab.go.id/).
Ketut Wiradnyana, arkeolog Balai Arkeologi Medan yang telah melakukan penelitian arkeologi di Samosir, dalam seminar “Telaah Mitos dan Sejarah dalam Asal Usul Orang Batak” di Unimed (Jumat, 09/01-2015), mengatakan bahwa  orang Batak pertama di Sianjurmulamula dan mereka telah bermukim di sana sejak 600-1000 tahun yang lalu (http://humas.unimed.ac.id).
Prof. Dr. Uli Kozok, dalam seminar “Telaah Mitos dan Sejarah dalam Asal Usul Orang Batak” di Unimed (Jumat, 09/01-2015), mengemukakan bahwa Si  Raja Batak lahir sekitar 600-800 tahun yang lalu (http://humas.unimed.ac.id).
Demikianlah telah diuraikan di atas tentang masa hidup Si Raja Batak sebagaimana dikemukakan tadi keseluruhannya berkisar antara 500-1000 tahun lalu atau tidak lebih dari 1000 tahun. Tebing di Sianjur Mulamula.

Sejarah Harus Ditulis Ulang
Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa Si Raja Batak itu disebutkan menurunkan Bangso Batak, yaitu: Batak Toba, Batak Pakpak, Batak Karo, Batak Simalungun, dan Batak Mandailing. Oleh karena namanya Si Raja Batak, makanya keturunannya menyandang kata “Batak” juga seperti halnya marga. Seperti itulah pemahaman di Toba, yang diyakini bahwa semua yang disebutkan tadi menyebar dari Sianjur Mulamula, sehingga bila ada pihak yang mengatakan bahwa mereka bukan Batak, maka itu dipahami sebagai durhaka, karena menyangkal leluhurnya. Demikianlah pemahaman di Toba, sehingga membuat mereka sulit menerima pernyataan pihak-pihak tadi yang mengatakan “bukan Batak”, karena menganggap Si Raja Batak mempunyai hubungan genealogis dengan Batak Toba, Batak Pakpak, Batak Karo, Batak Simalungun, dan Batak Mandailing.
Telah dikemukakan di atas bahwa jumlah marga-marga dari Bangso Batak atau Suku Batak yang merupakan keturunan Si Raja Batak sekitar hampir 500 marga dari Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, dan Mandailing (termasuk Angkola). Jadi, berdasarkan uraian tadi, maka Tanah Toba, Tanah Pakpak, Tanah Karo, Tanah Simalungun, dan Tanah Mandailing sebelumnya kosong. Baru setelah Si Raja Batak datang ke Sianjur Mulamula dan keturunannya mulai berkembang barulahlah mereka menyebar ke daerah-daerah tersebut, maka terbentuklah Bangso Batak seperti yang disebutkan tadi. Pertanyaannya, benarkah masing-masing daerah ini adalah tanah kosong yang belum didiami oleh manusia sebelum keturunan Si Raja Batak datang mendiami tanah kosong tersebut? Tentu tidak demikian, karena sudah banyak manusia datang ke seluruh daerah di Sumatera Utara sebelum Si Raja Batak tiba di Sianjur Mulamula, kaki Pusuk Buhit, Samosir.
Raja-Raja Karo, Raja-Raja Simalungun, Raja-Raja Mandailing, Raja-Raja Pakpak, dan Raja-Raja Toba telah lebih dulu berdiam di Sumatera Utara yang datang pada masa Mesolitik di sekitar 10.000 – 6.000 tahun lalu (2015:41-42), sedang masa hidup Si Raja Batak dari Sianjur Mulamula itu sekitar 500 – 1.000 tahun lalu atau paling lama 1.000 tahun lalu. Ditambah lagi penutur Austroasiatik dan penutur Austronesia datang bermigrasi ke Tanah Karo, Tanah Simalungun, Tanah Mandailing, dan Tanah Pakpak yang datang pada masa Neolitik di sekitar 6.000 – 2.000 tahun lalu, yang dimenangkan penutur Austronesia, sehingga menjadikan bahasa Karo, bahasa Simalungun, bahasa Mandailing, dan bahasa Pakpak termasuk ke dalam rumpun bahasa Austronesia. Kemudian orang-orang India Selatan datang lagi bermigrasi ke Tanah Karo, Tanah Simalungun, Tanah Mandailing, dan Tanah Pakpak  pada millenium pertama di sekitar abad ke-3 Masehi. 
Dengan demikian, Si Raja Batak adalah pendatang baru di Sianjur Mulamula yang kedatangannya memiliki selisih waktu setidaknya 5.000 tahun lebih dulu Raja-Raja Karo, Raja-Raja Simalungun, Raja-Raja Mandailing, Raja-Raja Pakpak, dan Raja-Raja Toba. Itu sebabnya dapat dipastikan bahwa Orang Karo, Orang Simalungun, Orang Mandailing, dan Orang Pakpak bukan berasal dari Sianjur Mulamula, sehingga sama sekali bukanlah keturunan Si Raja Batak. Kalaupun terjadi migrasi marga-marga tertentu dari Toba ke daerah Karo, Simalungun, Mandailing, dan Pakpak, maka hal itu bukan berarti menjadikan etnis Karo, etnis Simalungun, etnis Mandailing, dan etnis Pakpak berasal dari Toba. Kalaupun W.M. Hutagalung dan penulis-penulis Sejarah “Batak” lain menyebutkan dan mengklaim bahwa semua marga Karo, marga Simalungun, marga Mandailing, dan marga Pakpak berasal dari Toba sebagai keturunan Si Raja Batak, maka hal itu jelas tidak sesuai dengan fakta.
Etnis Karo, etnis Simalungun, etnis Mandailing, dan etnis Pakpak sudah berdiam di tanahnya masing-masing sebelum Si Raja Batak datang. Mereka masing-masing menggunakan bahasa Karo, Simalungun, Mandailing, dan Pakpak yang termasuk rumpun bahasa Austronesia. Kemudian masing-masing etnis ini terjadi migrasi ke luar dan ke dalam termasuk dari Toba, sehingga terjadi percampuran dan mereka mengalami perkembangan budaya. Kalaupun ada migrasi dari Toba, maka bukan berarti Toba menjadi induk dari masing-masing etnis ini. Setiap etnis memiliki tanah ulayat, masyarakat, bahasa, budaya, kepercayaan tradisional (agama suku), dan mitologi sendiri. Dengan demikian, masing-masing etnis pada dasarnya terbentuk sendiri, sehingga bukan diturunkan Si Raja Batak dari Sianjur Mulamula seperti dikemukakan oleh W.M. Hutagalung yang secara prinsip diikuti oleh penulis-penulis sejarah “Batak” lainnya.
Etnis Nias sudah berdiam di pulau Nias sebelum Si Raja Batak tiba di Sianjur Mulamula. Mereka berbahasa Nias yang termasuk rumpun bahasa Austronesia. Mereka nyaris tidak mengalami percampuran di masa lalu, karena jauh dari daratan Sumatera dan setelah terjadi migrasi baru terjadi percampuran sedikit sehubungan dengan transportasi yang semakin baik setelah Indonesia merdeka. Sebagai sebuah etnis, Etnis Nias memiliki tanah ulayat, masyarakat, bahasa, budaya, kepercayaan tradisional (agama suku), dan mitologi sendiri. Inilah etnis Nias yang sekarang dan pada dasarnya etnis Nias terbentuk sendiri, sehingga bukan keturunan Si Raja Batak dari Sianjur Mulamula seperti yang dikemukakan oleh penulis-penulis sejarah Batak.
Etnis Aceh (Gayo) dapat dipastikan bukan berasal dari Sianjur Mulamula, sehingga bukan keturunan Si Raja Batak sama sekali. Etnis ini sudah terlalu tua jika hendak dibandingkan dengan Si Raja Batak dari Sianjur Mulamula, karena etnis ini sudah ada pada masa prasejarah sementara Si Raja Batak datang pada millenium kedua di Sianjur Mulamula. Dengan demikian, etnis Aceh (Gayo) bukanlah berasal dari Sianjur Mulamula dan bukan keturunan Si Raja Batak sama sekali seperti yang dikemukakan oleh W.M. Hutagalung.
Etnis Melayu sudah berdiam di Sumatera Utara sebelum Si Raja Batak tiba di Sianjur Mulamula. Mereka telah mulai terbentuk sejak masa prasejarah oleh orang Negrito, penutur Austroasiatik, penutur Austronesia dan masih terus bercampur pada masa sejarah seiring dengan datangnya para migran dari Asia Daratan. Dengan demikian, jelaslah gambaran masyarakat di Sumatera Utara di masa lalu yang membentuk berbagai etnis secara sendiri-sendiri.
Akhirnya, turiturian (folklore) dan tarombo yang ditulis oleh W.M. Hutagalung di dalam bukunya “PUSTAHA BATAK: Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak” (1926) yang berpangkal kepada figur Si Raja Batak dari Sianjur Mulamula di kaki Pusuk Buhit, Samosir terbukti secara prinsip  tidak sesuai dengan fakta. Oleh karena itu, sejarah harus ditulis ulang.
  
Penutup
Setelah terang-benderang mengenai leluhur berbagai etnis di Sumatera Utara, maka jelas bahwa Si Raja Batak adalah pendatang baru, karena  leluhur seluruh etnis di Sumatera Utara telah lebih dulu berdiam di Sumatera Utara dan memiliki keturunan. Pakpak, Karo, Simalungun, Mandailing, dan Nias lebih tua dari Si Raja Batak, sehingga Si Raja Batak bukanlah nenek-moyang Pakpak, Karo, Simalungun, Mandailing, dan Nias. Jadi, Si Raja Batak bukanlah nenek-moyang Bangso Batak. Dengan demikian, Toba juga bukan induk dari etnis Pakpak, Karo, Simalungun, dan Mandailing, karena masing-masing etnis ini sudah ada sebelum Si Raja Batak datang ke Sumatera Utara, sehingga Toba bukanlah induk Bangso Batak. Konsekwensi logisnya, maka Bangso Batak pun tidak ada. ***  


(*) Pemerhati sejarah peradaban alternatif



Tulisan ini terkait dengan tulisan-tulisan sebelumnya: 
  1. ORANG TOBA: Asal-usul, Budaya, Negeri, dan DNA-nya 
  2. ORANG TOBA: Austronesia, Austroasiatik, dan Negrito 
  3. ORANG TOBA: Bukan Keturunan Si Borudeak Parujar 
  4. PUSUK BUHIT BUKAN GUNUNG LELUHUR ORANG TOBA 
  5. ORANG TOBA DAN SIANJURMULAMULA 
  6. ORANG TOBA DENGAN TAROMBO SIANJUR MULA-MULA 
  7. SI RAJA BATAK ATAU SI RAJA TOBA? 
  8. ORANG SIMALUNGUN KETURUNAN SI RAJA BATAK DARI SIANJUR MULAMULA – PUSUK BUHIT; FAKTA ATAU MITOS? 
  9. ORANG PAKPAK: Hubungannya dengan Si Raja Batak; Fakta atau Mitos? 
  10. ORANG KARO: Hubungannya dengan Si Raja Batak; Fakta atau Mitos? 
  11. ORANG SIMALUNGUN: Hubungannya dengan Si Raja Batak; Fakta atau Mitos? 
  12. ORANG MANDAILING: Hubungannya dengan Si Raja Batak; Fakta atau Mitos? 
  13. MEMBAYANGKAN PAKPAK SEBAGAI ETNIS TERSENDIRI: Sebuah Renungan 
  14. HALAK TOBA – ORANG TOBA 
  15. BENARKAH SI RAJA BATAK NENEK-MOYANG BANGSO BATAK DAN TOBA INDUK BANGSO BATAK? (1) 
  16. BENARKAH SI RAJA BATAK NENEK-MOYANG BANGSO BATAK DAN TOBA INDUK BANGSO BATAK? (2) 
  17. BENARKAH SI RAJA BATAK NENEK-MOYANG BANGSO BATAK DAN TOBA INDUK BANGSO BATAK? (3) 
  18. BENARKAH SI RAJA BATAK NENEK-MOYANG BANGSO BATAK DAN TOBA INDUK BANGSO BATAK? (4) 
  19. BENARKAH SI RAJA BATAK NENEK-MOYANG BANGSO BATAK DAN TOBA INDUK BANGSO BATAK? (5) 
  20. BENARKAH SI RAJA BATAK NENEK-MOYANG BANGSO BATAK DAN TOBA INDUK BANGSO BATAK? (6 - Habis)