Tuesday, 7 April 2015

KEBUDAYAAN DAN ADAT BATAK DALAM PERSPEKTIF KRISTEN

KEBUDAYAAN DAN ADAT BATAK DALAM PERSPEKTIF KRISTEN
Oleh: Edward Simanungkalit


Pendahuluan
Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, hasil cipta, rasa, dan karsa manusia untuk memenuhi kebutuhan kehidupannya dengan cara belajar, yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat. Sedang adat merupakan bagian dari kebudayaan tersebut. Jadi, adat merupakan wujud gagasan kebudayaan yang terdiri atas nilai-nilai budaya, norma, hukum, dan aturan yang satu dengan yang lainnya berkaitan menjadi satu sistem. Demikian juga sama halnya dengan kebudayaan dan adat Batak seperti kebudayaan dan adat suku bangsa lainnya.

Setelah Allah menciptakan manusia, maka “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: ‘Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.’ … TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk memelihara dan mengusahakan taman itu.” (Kejadian 1:28; 2:15). Istilah mengusahakan yang terdapat di dalam ayat ini ada hubungannya dengan culture, sehingga manusia diciptakan menjadi mahluk yang bersifat kultur/budaya. Inilah yang biasa disebut dengan Mandat Budaya, yang berbeda dengan Mandat Misi (Matius 28:19-20), tetapi keduanya tidak dapat dipisah-pisahkan sebagai dual-mandate.

Allah, yang adalah Roh, turun dari sorga dan menjadi manusia di dalam Yesus Kristus: “… Firman itu adalah Allah. … Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, …” (Yohanes 1:1, 14). Yesus datang ke dunia dan hidup di tengah-tengah masyarakat Israel. Dia tidak mengasingkan diri dan pergi bertapa, tetapi hidup bersama keluarga-Nya di Nazareth hingga berusia 30 tahun. Kemudian berjalan dari kampung ke kampung dan ada juga Dia menghadiri pesta perkawinan di Kana. Jelas, Yesus hidup di dalam sebuah masyarakat yang berbudaya dan beradat pada masa itu. Yesus tidak menolak semua budaya dan adat waktu itu, tetapi mengkritisi hal-hal tertentu.


Wahyu Umum dan Anugerah Umum
Allah berinisiatif  memberikan diri-Nya agar dapat dikenal oleh manusia melalui dua macam Wahyu Allah, yaitu:  Wahyu Umum dan Wahyu KhususWahyu Umum merupakan penyataan diri Allah kepada semua manusia melalui alam semesta (eksternal) dan hati nurani (internal), tetapi tidak menyelamatkan dalam artian keselamatan kekal. Wahyu Khusus merujuk pada kebenaran yang lebih spesifik tentang Allah yang dapat diketahui melalui cara supranatural, yaitu firman yang menjadi manusia (Yesus Kristus) dan firman tertulis (Alkitab).

Adapun pernyataan mengenai Wahyu Umum dapat ditemukan di dalam Mazmur 19; Roma 1:18-21, 32; Roma 2:14-16. Dalam Mazmur 19,  sang pemazmur mengemukakan bahwa kemuliaan Allah nampak melalui langit dan cakrawala serta memperlihatkan kuasa Allah yang mencipta. Roma 1:32 dan Roma 2:14-16 menyebutkan aspek lain dari wahyu Allah, yakni tentang tuntutan hukum Allah melalui hati nurani manusia.

Di dalam Wahyu Umum, manusia meresponinya dengan dua hasil, yaitu munculnya sains dan kebudayaan sebagai respon terhadap Wahyu Umum di dalam bentuk alam semesta, dan munculnya agama sebagai respon terhadap Wahyu Umum  dalam bentuk hati nurani. Tetapi akibat dosa, semua bentuk respon manusia terhadap Wahyu Umum pun pasti terpolusi oleh dosa, sehingga manusia tidak dapat mengenal apa yang Allah telah nyatakan dengan benar. Oleh karena itu, tidak heran manusia bukan menyembah Allah, tetapi ilah-ilah buatan mereka yang mereka anggap sebagai “Allah”. (Sutandio, 2007:1). Hal ini dapat kita lihat dengan adanya penyembahan dan pemberian sesajen kepada dewa-dewa di antara suku-suku bangsa di dunia dan adanya agama-agama suku meskipun itu suku terasing.

Respon manusia terhadap Wahyu Umum tadi, sebagaimana telah dikemukakan, menghasilkan munculnya sains dan kebudayaan, sehingga dari orang tak percaya dapat muncul berbagai sains seperti Phytagoras, Archimedes, dll. Dan, orang tak percaya juga menghasilkan kebudayaannya masing-masing di segenap penjuru bumi ini. Itulah sebabnya Khong Fu Cu dapat menghasilkan pemikiran yang mampu  menata masyarakat Tionghoa hingga ribuan tahun.  Pemikiran ini merupakan anugerah bagi suku bangsa Tionghoa, yang di dalam theologi Kristen diakui sebagai Anugerah Umum (common grace) dan Wahyu Umum yang diberikan kepada semua orang, baik orang percaya maupun tak percaya. Walaupun kebudayaan itu tidak seratus persen setara dengan anugerah umum maupun wahyu umum, tetapi kebudayaan merupakan respon manusia terhadap Wahyu Umum dari Allah (Sutandio, 2007:1).

Allah menyatakan Anugerah Umum-Nya (Common Grace) untuk menghentikan dosa dan akibatnya di dalam dunia. Sehingga, tidak heran kita dapat melihat orang-orang tak percaya sekalipun di dunia ini memiliki perbuatan dan pemikiran yang baik dan cerdas bahkan lebih daripada orang-orang percaya. Ini membuktikan adanya Anugerah Umum Allah yang tetap mengandung bibit dosa. Mereka bisa melakukan Taurat ini, karena Allah telah menanamkan Taurat di dalam hati setiap manusia (Roma 2:15). Oleh karena itu, kekristenan yang meyakini akan adanya anugerah umum (common grace) menghargai kebenaran agama-agama lain dan kebudayaan di dalam mengemban mandat budaya (cultural mandate) sebagai respon terhadap wahyu umum (general revelation). Sehingga, usaha yang dilakukan agama dan kebudayaan dalam mencari kebenaran haruslah dihargai sebagai respon terhadap wahyu umum dengan motto: “Segala Kebenaran adalah Kebenaran Allah” (All Truth is God’s Truth). Karena, Allah adalah Kebenaran itu sendiri, dan bahwa Dia adalah Sumber Kebenaran. Maka, setiap kebenaran yang diinterpretasikan harus kembali kepada Dia yang telah menyatakan diri-Nya dalam Kristus dan Firman-Nya (www.reformed-crs.og).

Kebudayaan dan Adat Batak
Sumbangan teologis Abraham Kuyper yang paling besar adalah doktrin anugerah bagi seluruh umat manusia (common grace) yang mengajarkan bahwa Allah telah bermurah hati untuk mengendalikan kuasa dosa dalam dunia kita yang sudah rusak ini, sehingga dunia kita tidak menjadi dunia yang terburuk yang mungkin terjadi. Dengan kata lain, inilah anugerah yang menyelamatkan dunia itu, satu-satunya yang menopang alam semesta dari kejatuhannya. Kuasa dosa di dalam diri manusia itu bersifat merusak (destruktif), sehingga Allah memelihara manusia  untuk menyelamatkan dunia ini beserta seluruh isinya.

Di dalam kerangka pikir inilah kita memandang kebudayaan dan adat Batak, bahwa walaupun kebudayaan dan adat Batak tidak setara dengan anugerah umum dan wahyu umum, tetapi kebudayaan dan adat Batak itu merupakan respon nenek-moyang Batak terhadap Wahyu Umum Allah (general revelation) dengan hasil yaitu munculnya kebudayaan dan adat (termasuk agama suku). Kita melihat bahwa kebudayaan dan adat Batak ini telah memelihara masyarakat Batak ribuan tahun termasuk huta-horja-bius di dalam masyarakat Toba. Sebagaimana Allah memelihara seluruh suku-suku bangsa untuk menyelamatkan bumi ini dari kepunahan, maka Allah juga memelihara bangsa Batak sejak sebelum masuknya agama Kristen hingga sekarang. Meskipun semuanya ini, termasuk wahyu umum dan anugerah umum, tidak membawa manusia kepada keselamatan kekal.

Seluruh keturunan Adam telah berdosa, maka seluruh umat manusia telah dikuasai dosa. Oleh karena itu, kebudayaan dan adat Batak sebagai respon nenek-moyang Batak terhadap Wahyu Umum Allah telah tercemar oleh dosa juga. Sehingga, kecemaran oleh dosa ini mengakibatkan ada hal-hal yang tidak sesuai dengan Wahyu Khusus (Alkitab, yaitu firman Allah tertulis). Sebagaimana Yesus turun dari sorga dan hidup di dalam masyarakat dengan kebudayaan dan adatnya sendiri, maka kita pun hidup di dalam masyarakat dengan kebudayaan dan adat Batak. Sikap Yesus tidak menolak semuanya, tetapi menolak yang tidak benar, maka kita pun tidak menolak semuanya mengingat ada yang baik di sana, tetapi menolak yang tidak sesuai dengan firman Allah dalam Alkitab. Sikap ini kita lakukan dalam pandangan ke depan, ke arah mana kita melangkah, yaitu langit baru dan bumi baru, dan di sanalah kita nanti akan mendengar Dia berkata: “Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!” (Wahyu 21:5). ***


Tulisan ini telah dimuat di:
Harian BATAK POS
Edisi Sabtu, 29 September 2012



G O R G A

G O R G A
Oleh: Edward Simanungkalit



Gorga merupakan ukiran atau lukisan tradisional khas Batak Toba yang berfungsi sebagai hiasan. Gorga ini biasanya terdapat di bagian luar Ruma Batak Toba dan pada alat-alat kesenian Batak Toba. Ukiran gorga di Ruma Batak Toba tersebut kemudian dicat dengan tiga warna khas, yaitu warna tiga bolit: hitam-putih-merah. Sedang pada alat-alat kesenian, seperti: gendang, serunai, dan kecapi, tidak diberikan warna.

Bahan kayu untuk gorga ukir di Ruma Batak Toba biasanya kayu lunak yang mudah diukir. Untuk itu biasanya dipilih sejenis kayu yang disebut namanya kayu ungil atau kayu ingul. Kayu ungil ini tahan terhadap sinar matahari langsung dan juga tahan terhadap terpaan air hujan, sehingga tidak cepat rusak atau lapuk. Itulah sebabnya kayu ungil ini digunakan juga untuk membuat perahu yang biasa dipergunakan di Danau Toba.

Pewarna dipergunakan oleh para nenek-moyang biasanya dari bahan-bahan yang terdapat di alam Tanah Batak. Cat gorga terdiri dari tiga warna, yaitu: Cat Merah dibuat dengan menggunakan bahan dari batu hula, sejenis batu alam berwarna merah yang sekarang ini sudah langka. Batu ini dihaluskan menjadi seperti tepung lalu dicampur air. Cat Putih dibuat dengan menggunakan bahan dari tanah berwarna putih. Tanahnya halus dan lunak yang biasa  disebut Tano Buro. Tano Buro ini dihaluskan lalu dicampur dengan air. Cat Hitam dibuat dari sejenis tumbuh-tumbuhan yang dihaluskan dan kemudian dicampur dengan abu dari periuk atau kuali. Setelah itu digongseng sampai menghasilkan warna hitam (Simanjuntak, 2007:1).


Berdasarkan motif gambarnya, Gorga (Simanjuntak, 2007:1) dinamai sebagai berikut:
  • Gorga Ipon-ipon. Ipon-ipon, yang artinya gigi di dalam bahasa Indonesia, menggambarkan bahwa manusia tanpa gigi tidaklah menarik, maka seperti itu jugalah gorga. Biasanya terdapat di bagian tepi gorga. Bentuk dari ipon-ipon biasanya memiliki lebar antara 2-3 cm di pinggir papan.
  • Gorga Sitompi, Sitompi berasal dari kata tompi, salah satu peralatan petani yang disangkutkan di leher kerbau pada waktu membajak sawah. Motif ukiran ini adalah simbol mata pencaharian utama orang Batak Toba, yaitu bertani.
  • Gorga Simataniari, Motif gorga ini berbentuk matahari yang terdapat di sudut kiri dan kanan ruma. Motif ini menggambarkan betapa pentingnya fungsi matahari dalam kehidupan sehari-hari.
  • Gorga Desa Naualu, Motif gorga ini mengambil bentuk delapan penjuru mata angin. Motif gorga ini menggambarkan bahwa mata angin sangat penting dalam kaitannya dengan upacara-upacara/aktivitas ritual atau pesta.
  • Gorga Simarogung-ogung. Ogung (gong) didatangkan langsung dari India dan fungsinya sangat penting dalam berbagai upacara atau pesta. Apabila ada keluarga memiliki seperangkat ogung, maka hal ini menandakan mereka adalah keluarga yang sangat berkecukupan. Demikian pula dengan gorga ogung menggambarkan bahwa penghuni ruma tersebut adalah keluarga terpandang.
  • Gorga Singa-singa. Motif ini menggambarkan raja, kuat, mampu, dan berwibawa. Jadi, orang yang mampu mendirikan ruma gorga adalah orang yang berwibawa dan terpandang. Itulah sebabnya gorga singa-singa selalu disertakan dalam setiap ukiran gorga, karena tidak setiap orang mampu mendirikan ruma gorga.
  • Gorga Jorgom atau Gorga Ulu Singa. Biasanya ditempatkan di atas pintu masuk ruma. Bentuk kepalanya menyerupai kepala singa dengan tubuh seperti manusia.
  •  Gorga Boraspati dan Adop-adop. Boraspati adalah binatang sejenis cicak atau kadal. Boraspati jarang menampakkan diri, tapi kalau boraspati sering menampakkan diri, maka itu menandakan tanam-tanaman subur dan panen berhasil baik yang menuju kekayaan (hamoraon). Gorga Boraspati dikombinasikan dengan Adop-adop (payudara). Adop-adop (yang besar) mempunyai arti khusus yang dihubungkan dengan deras airnya pertanda anaknya sehat dan banyak (gabe). Jadi, kombinasi Boraspati dan Adop-adop adalah perlambang Hagabeon dan  Hamoraon sebagai harapan dan cita-cita tertinggi.
  • Gorga Ulu Paung terdapat di bagian puncak ruma gorga berbentuk kepala yang menyerupai wajah manusia. Ulu Paung dipandang membuat ruma gorga itu gagah dan dipercaya memiliki kekuatan magis yang dapat melawan hantu atau melawan kekuatan hitam yang merusak, sehingga seisi rumah diyakini akan menjadi aman dan tenteram.
Masih banyak lagi motif-motif gambar yang terdapat pada bagian luar ruma gorga Batak Toba. Ada juga gambar lembu jantan, pohon cemara, orang sedang menunggang kuda, orang sedang mengikat kerbau, gambar Manuk-manuk (burung), burung Patia Raja yang merupakan perlambang ilmu pengetahuan, dan lain-lain.
 

Kini gorga Batak mulai semakin dikenal orang banyak melalui kreativitas para generasi sekarang. Para generasi sekarang ini mulai melukiskan gorga Batak tersebut pada kain yang dibuat menjadi pakaian. Berbagai usaha pengembangan telah dilakukan untuk melukiskan gorga pada kain untuk dijadikan sebagai pakaian. Tak kurang desainer pakaian Torang MT Sitorus telah berupaya mengangkat gorga ke tempat tinggi melalui pakaian-pakaian yang dia desain. Secara perlahan-lahan usaha-usaha kreatif sudah semakin meluas dilakukan untuk mengangkat gorga yang lambat-laun sedang merayap menuju puncak. 
Penantian itu rasanya tidak lama lagi di mana suatu saat nanti kita akan melihat masyarakat memakai pakaian dengan motif gorga pada saat perkawinan, menghadiri acara pesta,   beribadah di gereja, dan ke kantor.  Baju seragam anak-anak sekolah pun sudah saatnya mempergunakan motif gorga ini, agar lebih sesuai dengan ciri dan kepribadian Batak. Ini bukan batik, yang merupakan singkatan dari baju titik-titik, tetapibaju gorga, yang disingkat bagor. Itulah sebabnya dengan fanatisme yang heroik, Roder “Bagor” Nababan berseru lantang: “Pakai BAGOR, Haramkan Batik!” (Bona Nauli, Edisi 33, Agustus 2012: Cover).***
   

Telah dimuat di:
Harian BATAK POS 
Edisi Sabtu, 13 Oktober 2012




BATAK 27 GAYO DI ACEH

BATAK 27 GAYO DI ACEH
Oleh: Edward Simanungkalit


Tanah Gayo adalah suatu daerah di Provinsi Nangro Aceh Darussalam. Tanah Gayo ini berada di tengah-tengah pulau Sumatera dan tidak berada di pesisir. Letaknya di tengah-tengah pegunungan daerah Aceh dari utara ke bagian tenggara sepanjang Bukit Barisan. Suku bangsa Gayo mendiami kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah dan Tekengon merupakan ibukota Kabupaten Aceh Tengah.

Pada masa lampau penduduk Gayo terbagi dua, yaitu penduduk daerah Kebayakan dan Bebesan. Daerah Kebayakan berada di sebelah barat laut danau Laut Tawar, sedangkan daerah Bebesan berada di sebelah barat Kebayakan dan kedua daerah ini hanya berjarak sekitar 1 km. Penduduk yang mendiami daerah Kebayakan dan Bebesan merupakan kampung “inti” di Gayo Laut, tapi mereka beranggapan bahwa asal-usul mereka berbeda. Penduduk daerah Kebayakan mengatakan bahwa mereka adalah penduduk asli di Gayo, sedangkan penduduk daerah Bebesan menyadari bahwa mereka itu Batak, yang lebih dikenal dengan Batak 27.
http://sopopanisioan.blogspot.com
1.    Munculnya Batak 27
Pada masa pemerintahan Raja Sengeda,  Gayo sudah berhubungan dengan pihak luar ditandai dengan datangnya orang-orang Batak. Kedatangannya biasanya sebagai pengembara dan bertamasya. Diceritakan bahwa di masa pemerintahan Sultan Alauddin Riayat Syah Al Kahar pada abad ke-16 M pernah 7 orang pemuda Batak melewati tanah Gayo menuju Aceh (H. AR. Latief, 1995 : 81). Sementara menurut Dr.  C. Snouck Hougronje, kedatangan Batak 27 adalah pada masa kejuruan (raja) Bukit telah memeluk Islam. Kejuruan Bukit adalah bagian dari raja-raja yang terdapat di tanah Gayo yang memiliki hubungan baik dengan kerajaan-kerajaan (kejuruan) lain.
Kemudian setelah pemuda Batak yang 7 orang itu sampai di Aceh, maka menyusul sebanyak 20 orang Batak, yang salah satunya bernama Lebe Kader, melewati Alas dan Tanah Gayo, dalam perjalanan menuju Aceh dengan tujuan untuk masuk Islam dan belajar mengaji. Selain untuk ongkos dan belanja sendiri, mereka juga membawa titipan ongkos untuk pulang bagi 7 orang teman mereka yang sudah berangkat lebih dulu. Melihat pundi-pundi mereka penuh dengan uang, timbul niat untuk memilikinya dalam hati salah seorang raja Gayo, yaitu Reje Bukit, yang memerintah di bagian barat Danau Laut Tawar, sehingga mengajaknya bermain judi.
http://sopopanisioan.blogspot.com
Dalam permainan judi itu ternyata Reje Bukit kalah, sehingga sebagian kekayaannya berpindah ke dalam pundi-pundi orang Batak tadi. Reje Bukit marah besar dan nekad memancung salah seorang di antara mereka dan kemudian menggantungkan kepalanya di atas sebatang pohon bambu di dekat Bebesan. Peristiwa itu menjadikan nama tempat itu disebut Pegantungan hingga sekarang. Kesembilan belas orang Batak lainnya pun melarikan diri menuju Aceh untuk menemui kawan-kawannya sekaligus mengadukan kezaliman reje Gayo tersebut kepada Sultan Aceh. Mendengar itu Sultan pun merestui mereka untuk memerangi reje Gayo, tetapi mereka tidak diperbolehkan membunuh Reje Bukit.

Dalam usaha menuntut balas atas kematian temannya disertai hartanya yang dirampas, maka ke-26 orang Batak di bawah pimpinan Lebe Kader  ini memerangi dan berhasil mengalahkan pasukan Reje Bukit. Reje Bukit sendiri melarikan diri dan tersesat di dalam rawa-paya dekat daerah Kebayakan, sehingga tempat itu disebut Paya Reje sampai sekarang. Setelah itu diadakanlah perdamaian dan dibuatlah perjanjian berisi tuntutan untuk perdamaian.
Pihak Batak 27 mendapat sebagian wilayah kekuasaan Reje Bukit sebagai diyat untuk mengganti kerugian akibat matinya orang Batak yang terbunuh dalam peperangan. Ganti rugi tersebut dilakukan dengan membelah danau Laut Tawar menjadi dua bagian sampai Kala Bintang di sebelah utara termasuk daratan, mulai dari kampung Kebayakan, Rebe Gedung, Simpang Tiga, Delung Tue win Ilang hingga Ramung Kengkang perbatasan Aceh Timur  yang sekarang menjadi Kabupaten Bener Meriah dan ke arah selatan sampai perbatasan Lingga.

Setelah batas wilayah ditentukan oleh kedua belah pihak yang berdamai, Reje Bukit Panglima Perang Dagang mengajukan sebuah tuntutan daerah bukit berikut bangunannya yang telah diduduki oleh pihak Batak 27. Lebe Kader berkata dengan tegas: “Bebaskan!”, dalam bahasa Karo artinya dibebaskan dari tuntutan, lambat laun kata bebaskan ini berubah menjadi kata Bebesan sampai sekarang (AR. Latief, 1995). Kemudian Reje Bukit Panglima Perang Dagang bersumpah tidak berkeberatan daerah bukit, yang belakangan disebut daerah Bebesan, berikut bangunannya dijadikan hak milik pihak Batak 27.

Kemudian penduduk daerah bukit itu sendiri membangun pemukiman baru yang terletak di pinggir Danau Laut Tawar yang sekarang disebut dengan daerah Kebayakan. Pada awalnya kampung itu disebut  Kebanyakan karena penduduknya yang terbanyak, tapi setelah penjajah Belanda datang dan tidak dapat menyebutkan nama kampung tersebut dengan tepat, maka berubahlah namanya menjadi Kebayakan.
http://sopopanisioan.blogspot.com
2.  Setelah Perjanjian Perdamaian
Di kampung Bebesan itulah orang Batak tadi berkembang dan keturunannya disebut sebagai Batak Bebesen atau Batak 27 dan sejak awal mereka semua masuk Islam. Lebe Kader, yang kemudian menjadi raja di sana merupakan pemimpin mereka, adalah seorang yang taat dalam mengajarkan agama Islam yang terbukti dari gelar Lebe yang diberikan kepadanya (M.J. Melala Toa, 1981:38). Lebe Kader sendiri menikahi seorang putri reje Bukit yang bernama Sri Bulan Si Merah Mata. Lebe Keder  merupakan cucu dari Adi Genali, anak dari Johansyah atau Sibayak Lingga (AR. Latief 1995 : 68). Kedatangan Batak 27 pimpinan Lebe Kader ini diperkirakan sekitar abad ke-16 atau 600 tahun setelah Kerajaan Linge berdiri  pada abad ke-10 (dari berbagai sumber).

Di kalangan Batak 27 ini tetap dipertahankan tradisi marga-marga hingga saat ini. Marga-marga tersebut adalah Munte, Cebero, Melala, Linge, Tebe, dll., yang di kalangan Batak, yaitu: Munte, Cibro, Meliala, Lingga, dan Toba. Kata “marga” dalam bahasa Batak disebut “belah” dalam bahasa Gayo.

Batak 27 ini terdiri dari orang Karo, Pakpak, dan Toba dengan jumlahnya lebih banyak dari Karo, tetapi ketiganya sekaligus disebut Batak. Selain itu sebutan Batak ada dua kali disebut dalam “Hikajat Atjeh” sebagaimana dikemukakan Denys Lombard dalam bukunya “Kerajaan Aceh: Zaman Sultan Iskandar Muda” (Lombard, 2008:97-98).  Sebutan Batak di sini jelas menunjukkan bukan berasal dari misionaris Jerman dan Belanda.  ***


Telah dimuat di:
Harian BATAK POS
Edisi Sabtu, 15 Desember 2012
http://sopopanisioan.blogspot.com



BATAK PARDEMBANAN DAN BATAK NADOLOK

BATAK PARDEMBANAN DAN BATAK NADOLOK
Oleh: Edward Simanungkalit


Batak Pardembanan merupakan orang Batak yang berada di Kabupaten Asahan sejak ratusan tahun lalu. Sedang Batak Nadolok merupakan orang Batak yang berada di Kabupaten Labuhan Bilik yang juga sejak ratusan tahun lalu. Kedua kelompok masyarakat ini menjadi bahan pembahasan pada tulisan ini.

1.       Batak Pardembanan
Batak Pardembanan adalah kelompok orang yang menempati daerah sepanjang aliran sungai Asahan yang berasal dari daerah Toba. Salah satu marga tertua dan terkenal di Asahan ialah marga “Simargolang” yang berasal dari Raja Simargolang salah seorang putera dari Ompu Sahang Mataniari.

Kerajaan Margolang dahulu kala berpusat di Pulau Raja dengan wilayah kekuasaan Asahan dan Labuhan Batu. Raja terakhir yang mejadi raja adalah Raja Marlau di saat penjajah Belanda sudah datang. Kepada Raja Marlau ini Belanda menawarkan untuk membangun kebun Kelapa Sawit dan pabrik di Tanah kekuasaannya. Akan tetapi, tawaran ini ditolak oleh Raja dengan alasan bahwa kalau tanah mereka  dijadikan kebun Kelapa Sawit, maka rakyatnya nanti akan menjadi budak Belanda yang tidak dikehendaki raja. Singkatnya, kebun kelapa sawit ini dapat juga dibangun walaupun dengan muslihat Belanda (Margolang, 2010:1).
http://sopopanisioan.blogspot.com
Tim Pendataan Situs dan Kawasan Cagar Budaya, Asahan menemukan situs sejarah dari Raja Simargolang I dam II di Dusun Dolok Maraja, Desa Lobu Rappa, Kecamatan Aek Songsongan. Dan, situs sejarah Raja Simargolang pada dinasti berikutnya di Kampung Pea atau Kampung Sawah, Desa Marjanji Aceh, Kecamatan Aek Songsongan dan Dusun Pancuran Raja, Desa Rahuning Kecamatan Rahuning, serta dinasti ke-5 di Kampung Pertandaan, Dusun Titi Putih, Desa Gunung Melayu (Analisadaily, 04/01-2012).

   
Adapun silsilah keluarga Simargolang, sebagaimana dikemukakan oleh Nazaruddin Margolang (2010:1-2) yang merupakan anak dari Raja Nahar Margolang, adalah sebagai berikut:
1.       Si Raja Batak
2.       Guru Tatea Bulan
3.       Saribu Raja I
4.       Raja Borbor
5.       T. Balasahunu
6.       R. Hatorusan II
7.       O.T. Raja Doli Datu Taladibabana
8.       Sabung/Sahang   Mataniari
9.       Simargolang
10.   R. Margolang II (Bermakam di Huta Raja)
11.   R. Margolang III (Bermakam di Marjanji Aceh, Kec. Bandar Pulau)
12.   R. Pulu Raja IV (Bermakam di Pancuran Raja)
13.   R. Pulu Raja V (Bermakam di Kampung Raja)
14.   R. Pulu Raja VI (Bermakam di Pulu Raja)
15.   R. Pulu Raja VII (bermakam di Sei Berita, Pulu Raja)
16.   R. Marsiha
17.   R. Janggut  (Bermakam di Pulau Sarune, lalu di pindahkan oleh R. Nahar ke    pangkal Titi Gantung Pulau Raja, Pemakaman Keluarga Nahar Margolang)
18.   R. Dohon (Bermakam di Pemakaman Keluarga Nahar Margolang, Pangkal Titi Gantung Pulau Raja)
19.   R. Pangaruhat : (Bermakam di Kedai Kawat, Pulau Raja)
Anaknya R. Pangaruhat, yaitu :
          1.       R. Wani (Bermakam di Pulau Tanjung, Kec. Simpang Empat)
          2.       R. Nahdon (Bermakam di Pemakaman Keluarga Nahar Margolang, Pangkal Titi Gantung Pulau Raja)
        3.       R. Nahar (Bermakam di Pemakaman Keluarga Nahar Margolang, Pangkal Titi Gantung Pulau Raja).
http://sopopanisioan.blogspot.com
                Inilah kerajaan tertua di Asahan sebelum kedatangan Sultan Syah Johan dari Aceh mendirikan kerajaan lain di Asahan, yaitu Kesultanan Asahan. Keturunan Raja Simargolang ini menggunakan marga Simargolang sebagai marganya. Menurut Alek Margolang (salah seorang keturunan raja Simargolang), nama Asahan berasal dari kebiasaan raja Simargolang mengasah Piso Gading/Mata Halasan di Aek Toba. Jadi berawal dari “Asah – Halasan” sehingga kemudian dikenal dengan Asahan atau dalam catatan Portugis disebut Ashacan. Aek Toba sendiri merupakan sebutan untuk nama sungai Asahan dulunya oleh warga kerajaan Simargolang di daerah Pulau Raja. Pendapat ini sangat masuk akal, karena Aek itu artinya air, sehingga bisa diterjemahkan bahwa Aek Toba adalah air yang mengalir dari danau Toba atau dari daerah Toba (Siregar, 2012:1-2).
2.       Batak Nadolok
Penduduk asli di wilayah Labuhan Batu Utara merupakan masyarakat yang dulunya datang bermigrasi dari daerah Toba. Mereka menempati daerah sepanjang Sungai Kualuh, tapi tidak sampai ke muaranya  di pantai Kualuh. Mereka mencari lahan pertanian baru sehubungan dengan semakin sempitnya tanah persawahan di sekitar Danau Toba bagian Selatan.

Sungai Kualuh mengalir dari Parsoburan di Tapanuli Utara sampai ke Kualuh Leidong. Kelihatannya Sungai Kualuh ini merupakan salah satu jalur perpindahan orang Toba dari Parsoburan, Porsea, Balige dan Tapanuli Utara ke arah daerah pantai Timur. Sedang melalui darat perpindahan itu terjadi melalui Tangga Damuli ke arah daerah Aek Natas dan Na IX-X, sehingga sampai sekarang banyak masyarakat yang berada di Labura berasal dari etnik Toba.
http://sopopanisioan.blogspot.com
Masyarakat Batak Nadolok yang hidup di daerah aliran Sungai Kualuh tadi bertetangga dengan masyarakat Batak Pardembanan yang hidup di sebelah utara di aliran sungai Asahansebagaimana telah disinggung sebelumnya.Orang Batak Nadolok ini menurunkan margaNadolok yang sampai saat ini masih dipakai sebahagian penduduk Batak Nadolok yang wilayah aslinya meliputi kecamatan Na IX-X, Aek Natas, Aek Kuo, dan Marbau di Kabupaten Labuhan Batu Utara sekarang.
 
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa penduduk asli Labuhan Batu Utara adalah orang Batak Nadolok yang hidup di hulu Sungai Kualuh sebagai petani. Kemudian hari Sultan Syah Johan dari Aceh datang dan mendirikan Kesultanan Asahan melalui anaknya Sultan Abdul Jalil (1630) yang berhasil menginvasi wilayah Batak Pardembanan dan Batak Nadolok sebagai bagian dari Kesultananan Asahan(Hutahaean, 2013:1-3).

Akhirnya, bahwa Batak Pardembanan dan Batak Nadolok adalah Batak yang berasal dari Negeri Toba. Batak Pardembanan menempati daerah aliran Sungai Asahan dengan memakai marga “Simargolang” dan Batak Nadolok menempati daerah hulu aliran Sungai Kualuh dengan memakai marga “Nadolok”. Kerajaan Simargolang berakhir setelah revolusi sosial di Sumatera Timur pada tahun 1946. ***


Telah dimuat di:
Harian BATAK POS
Edisi Sabtu, 09 Pebruari 2013
http://sopopanisioan.blogspot.com



Thursday, 26 March 2015

BATAK TOBA (BUKAN) KANIBAL

BATAK TOBA (BUKAN) KANIBAL
Oleh: Edward Simanungkalit

Cerita tentang kanibalisme banyak ditulis para musafir yang datang ke Sumatera. Berbagai cerita tentang kanibalisme di beberapa tempat dan salah satunya di wilayah Batak Toba. Cerita tentang kanibalisme ini terasa dibesar-besarkan dengan memanfaatkan peristiwa yang dialami oleh misionaris Munson dan Lyman. Seorang kenalan pengusaha Tionghoa yang bertemu dengan penulis pada 11 Agustus 2010 di bandara Polonia mempertanyakan peristiwa ini. Dia mengatakan yang dia ketahui bahwa Munson dan Lyman adalah misionaris yang dibunuh dan dimakan di dekat kota Tarutung. Seperti inilah gambaran yang diperoleh orang umumnya dan mengatakan Batak itu kanibal.

Peristiwa kematian misionaris Munson dan Lyman (1834) ini  diperbesar-besar dan diprovokasi Belanda sedemikian rupa untuk melegitimasi kedatangannya ke wilayah Batak Toba. Padahal kita tahu bahwa banyak kekejaman dilakukan oleh Belanda selama penjajahannya di Indonesia seperti pembataian massal yang dilakukan terhadap orang Gayo, Alas, dan Batak di daerah Alas pada awal abad ke-20. Pembantaian yang dilakukan oleh Belanda terhadap puluhan ribu orang di Makassar setelah Indonesia merdeka dan Westerling yang merupakan algojonya hidup tenang tanpa terjamah oleh hukum sampai masa tuanya. Kedua peristiwa ini hanya merupakan dua contoh saja yang diambil dari sekian banyak peristiwa lainnya termasuk membakar hidup-hidup Kapitan Pattimura dan Walter Robert Monginsidi di depan umum.

Orang Jerman pun turut meniup-niupkan masalah kanibalisme termasuk J.T. Nommensen, anak dari I.L. Nommensen, turut meniup-niupkannya dengan menulis kutipan dialog pendeta kulit putih dengan seorang Batak Toba (Nommensen, 2003:249). Hal ini dapat dilihat dalam buku “Ompu i Tuan Dr. I.L. Nommensen” yang ditulis oleh J.T. Nommensen, anak dari misionaris I.L. Nommensen sebagai berikut: “Sekarang zaman telah berubah pak guru, karena di pasar hanya dijual daging ayam dan daging babi, kalau dahulu tidak jarang tangan dan kaki manusia dapat dibeli di pasar.” (Nommensen, 2003:235). Gaya bahasa hiperbola seperti ini sangat provokatif sekali diikuti dengan dilatarbelakangani perasaan superior. Di mana Batak digambarkan  sebagai bangsa yang tadinya tidak beradab sudah berobah menjadi bangsa beradab.

Perubahan tersebut, maksudnya, tentu tidak lepas dari peran orang Jerman yang paling beradab dan berbudaya itu. Padahal, bagaimana kita dapat melupakan jutaan  orang Jahudi yang tewas di kamp-kamp konsentrasi. Belum lagi mereka yang berseberangan dengan Nazi yang mati di tangan Gestapo serta pemerkosaan massal yang dilakukan oleh tentara Jerman ketika melakukan penyerangan ke Rusia. Seisi dunia tahu akan peristiwa tersebut dan apakah ini yang hendak dikatakan sebagai berbudaya dan beradab? Tak kalah mengherankan bahwa tidak adanya orang Batak yang mengajukan protes terhadap buku J.T. Nommensen tersebut selama ini malah mencetak ulang buku tersebut terakhir pada tahun 2003 lalu, sedang cetakan pertama tahun 1921 meskipun buku tersebut nyata-nyata merendahkan martabat  orang Batak.

Masyarakat Batak Toba di masa lalu adalah masyarakat yang hidup di dalam huta, horja, dan bius. Mereka bukanlah bangsa yang liar dan barbar sebagaimana banyak digambarkan oleh musafir asing dan para misionaris Jerman yang datang ke wilayah Batak Toba. Untuk dapat hidup bersama-sama dari sumber yang sama, maka mereka memiliki cara tersendiri untuk melakukan penataan dan pengaturan di dalam huta, horja, dan bius tadi. Cara berpikir mereka yang utuh dan menyeluruh terlihat ketika mereka membedakan dan menggabungkan hal-hal yang bersifat sekuler dan yang bersifar religius. Mereka mengorganisir diri dengan rapi, sehingga seluruh aktivitas hidup mereka tertata dan terorganisir di dalam huta, horja, dan bius, baik secara sekuler maupun religius. Karena, Dewan Bius bekerja berdampingan dengan Parbaringin walaupun ada pemisahan fungsi di mana Parbaringin berfungsi untuk memimpin hal-hal yang bersifat religius dan Dewan Bius menangani hal-hal yang bersifat sekuler  di dalam lingkungan biusnya. Pada akhirnya, mereka dipersatukan di bawah pengayoman Dewa-rajaSingamangaraja sebagai primus interpares.

Di dalam pengorganisasian masyarakat banyak seperti itu tentulah diperlukan sejenis peraturan/norma-norma, larangan, tabu, dan nilai-nilai yang dianut sebagai suatu kebaikan/kebenaran tertinggi di dalam diri mereka. Semuanya ini sudah dikemukakan di dalam huta, horja, dan bius yang telah dipaparkan dan sebagai wujud daripada itu dapat dilihat dari apa yang mereka lakukan ketika menyambut dan menerima misionaris Richard Burton dan Nathaniel Ward. Sebelumnya misionaris ini sudah melihat bagaimana baiknya mereka menata alam-lingkungannya, sawah dan sistim irigasinya, tanamannya, pasarnya, dan lain-lain. Mereka secara terbuka menyambut kedua misionaris ini dengan tor-tor dan memberikan tempat buat keduanya serta memberikan kesempatan kepada misionaris ini untuk bicara. Di hadapan 2.000 orang, misionaris ini bicara dan berkhotbah menyampaikan firman Tuhan, tetapi mereka menolak apa yang disampaikan misionaris tanpa ada permasalahan. 

Dua minggu lamanya kedua misionaris tinggal bersama-sama mereka di Silindung, tapi kedua misionaris tidak dapat melanjutkan perjalanan ke Bangkara oleh karena penyakit disentri yang dideritanya. Ketika hendak kembali ke Sibolga, mereka masih mengadakan acara perpisahan dan menjamu kedua misionaris dengan makan pada acara perpisahan yang meriah dihadiri 7.000 orang. Sesampainya kedua misionaris di Sibolga, sampai juga surat undangan Singamangaraja untuk datang ke Bangkara sehubungan dengan kemarau yang sudah mulai merusak tanaman penduduk, tapi misionaris tidak dapat memenuhinya akibat dari penyakit disentrinya. Semuanya ditulis Richard Burton dan Nathaniel Ward di dalam kesaksiannya tentang Batak Toba di lembah Silindung.


 
Kesaksian Richard Burton dan Nathaniel Ward (1824) ini mengkonfirmasi bagaimana baiknyapengorganisasian masyarakat Toba melalui huta,horja, dan bius sebelumnya. Gambaran masyarakat Toba ini menolak isu-isu isapan jempol tentang orang Batak Toba yang kanibal, barbar, tak berbudaya, liar, dan hidup di dalam perang. Para misionaris Jerman ini selalu memandang Batak sebagai berbudaya rendah, sedang mereka berbudaya tinggi dan superior, sehingga orang Batak harus dibentuk seperti mereka. Para misionaris Jerman ini turut merusak sebagian tatanan masyarakat dalam huta, horja dan bius tadi yang sudah memelihara hidup mereka dalam waktu yang sangat panjang. Pola huta, horja dan bius ini telah membentuk mereka hidup di dalam sistim demokrasi yang federal seperti di Amerika sana. Belum lagi mereka banyak mengangkut kekayaan budaya Batak berupa buku laklak, patung, dan benda-benda lainnya.

Peneliti Jerman, Franz Wilhem Junghuhn, menjelajahi tanah Batak pada tahun 1840-1841. Selama 17 bulan keberadaannya di tanah Batak, Junghuhn mengaku tidak pernah menyaksikan praktek kanibalisme di desa-desa yang dilaluinya. Dia malah heran mengapa predikat barbar dan kanibalisme itu melekat pada diri orang-orang Batak selama berabad-abad. Dalam bukunya Die Battaländer auf Sumatra (1847), Junghuhn menyimpulkan bahwa cerita-cerita barbarisme dan kanibalisme hanya rumor yang sengaja diciptakan orang Batak sendiri untuk membentengi diri dari ancaman luar yang mungkin mengganggu ketenteraman mereka. Demikianlah orang Batak membentuknya selama berabad-abad (Hutahaen, 2011:2). 

Memang masyarakat Toba mengalami penderitaan yang membuat mereka trauma berat akibat kekejaman yang dialami pada waktu invasi pasukan Paderi (1825-1829), setahun setelah kedatangan Richard Burton dan Nathaniel Ward (1824).  Berbagai macam tindakan pasukan Paderi telah meluluh-lantakkan wilayah Toba dengan membunuhi orang, membungi-hanguskan kampung, menjarah harta benda, memperkosa  dan membawa para perempuan untuk dijual. Keadaan tadi diikuti lagi oleh berkembangnya penyakit kolera akibat banyaknya mayat membusuk yang tidak dikubur, sehingga banyak meninggal akibatnya. Di dalam kondisi trauma berat yang mereka alami itu, W.B. Sijabat menyebutnya Xenophobia, datanglah Munson dan Lyman (1834) ke Sisaksak, Lobupining.

Sebelum berangkat ke pedalaman Toba, Samuel Munson dan Henri Lyman bertemu dengan Nathaniel M. Ward di Padang pada 29 April 1834. Munson dan Lyman adalah warga negara Amerika Serikat dan sangat kritis terhadap sikap pemerintah Belanda sebagaimana perkataan Henri Lyman sendiri: “Selama 200 tahun penduduk pribumi tanpa kecuali telah dijadikan sasaran ketamakan dan ambisi; sasaran penindasan, dan alat mendapatkan keuntungan bagi penakluk asing. Dan penakluk itu menyebut dirinya orang Kristen!” (Sijabat, 2007:399).

Lebih jauh Prof. DR. W.B. Sijabat  memaparkan tentang peristiwa Munson dan Lyman ini hingga tuntas di dalam bukunya: “AHU SI SINGAMANGARAJA: Arti Historis, Politis, Ekonomis dan Religius Si Singamangaraja XII” (Pustaka Sinar Harapan, Jakarta: 2007:395-401). Munson dan Lyman sudah tahu sebelumnya, bahwa kalau penduduk menganggap mereka adalah “orang Belanda”, maka mereka pasti celaka. Hal ini sudah mereka pelajari dari kapten kapal Pago-pago yang mereka tumpangi dari Padang ke Sibolga, sedang orang Inggris, Amerika, Batak, Aceh atau Bugis akan diterima sebagai kawan. Penduduk sangat curiga terhadap Pidari dan Belanda (Sijabat, 2007:399-400).

Munson dan Lyman berangkat ke pedalaman dengan seorang yang bernama Jan, seorang yang misterius hingga saat ini, yang justru ditunjuk oleh orang Belanda sendiri di Sibolga. Mereka bermaksud pergi ke Sakka (Sisaksak? Pen.) hendak menginap di tempat raja na opat. Sesampainya mereka di daerah Sakka, justru Jan yang terlebih dahulu berbicara dengan penduduk di Lobupining, yang termasuk lingkungan raja na opat, berkedudukan di Sakka. Lobupining sudah ditugaskan raja na opat pada waktu itu untuk mengamati orang yang datang dari luar dan mau masuk ke Silindung, agar peristiwa seperti pada zaman masuknya pasukan Paderi tidak terulang kembali. Lobupining merupakan semacam pos pengawalan pasukan raja na opat, yang tunduk kepada Singamangaraja XI (Sijabat, 207:400).

Kedua misionaris langsung dikepung penduduk dan langsung dibunuh tanpa mengetahui apa yang dibisikkan oleh Jan kepada orang Batak itu, namun bukan “dimakan” seperti yang digembar-gemborkan oleh pihak Belanda dan misionaris Jerman. Sementara Jan sendiri pergi melarikan diri kembali ke Sibolga kepada pihak Belanda. Data-data dalam Memoirs tadi menunjukkan, bahwa Jan, penunjuk jalan pilihan itu, mungkin sekali membisikkan kepada orang Sakka, bahwa kedua orang itu adalah dari pihak Belanda; oleh karena itu mereka segera dikepung dan dibunuh (Sijabat, 2007:400; Cf. Gould dan Pedersen).

Hal ini terbukti juga dari reaksi orang Batak sendiri di tempat itu setelah mengetahui kemudian hari, bahwa sebenarnya maksud Munson dan Lyman ialah tujuan baik, maka mereka mengambil tindakan tegas terhadap yang membunuh itu. Itulah sebabnya di dalam Memoirs Munson dan Lyman dapat dibaca catatan editor buku ( Sijabat, 2007:400-401) tersebut:

When it became known from the natives on the coast and from others on the road, that the brethren were good men, and bad come to do the Batta nation good, all the vellages around leagued together for vengeance against the villages where the outrage was perpetrated, and to require blood for blood. The unhappy villages was named Sacca.

Setelah diketahui dari kalangan penduduk di bagian pantai dan dari orang yang mengadakan perjalanan, bahwa saudara-saudara itu orang-orang baik, dan datang hendak berbuat baik bagi orang Batak, maka semua desa di sekitarnya berkumpul untuk mengadakan pembalasan terhadap desa yang melakukan kejahatan itu, dan menuntut darah ganti darah. Desa celaka itu disebut Sakka.

Peristiwa kematian Munson dan Lyman justru sering dibesar-besarkan dan data tersebut di atas tidak diberitahukan pihak Belanda, bahwa mereka dibunuh, bahkan “dimakan habis”, yang sama sekali tidak mempunyai bukti ilmiah dan historis. Kalau ingin mengetahui kebenaran tentang yang diutarakan ini, maka tidak usah membaca tulisan orang Batak, karena dapat dianggap sebagai usaha defensif apologetis. Cukup mengetahui bahwa keluarga Munson dan Lyman sendiri tidak meyakini kalau Munson dan Lyman dimakan habis. Mereka bahkan mencurigai Belanda sebagai pihak yang campur tangan “lempar batu sembunyi tangan”, karena Belanda takut kalau-kalau misionaris Amerika itu akan membantu orang Batak melihat kejahatan penjajahan Belanda yang mendiami daerah yang justru hendak dianeksasi waktu itu, sesuai dengan nota Gubernur Jenderal van den Bosch. Ennis, teman Munson dan Lyman dari Amerika, juga disuruh Belanda pulang dari Natal sesudah tahun 1834 (Sijabat, 2007:401).

Setelah diadakan penelitian yang lebih seksama belakangan ini, “Gould dan Paderson tidak melihat bahwa Munson dan Lyman dimakan oleh orang Batak, melainkan menjadi korban intrik politik penguasa Belanda di Sibolga waktu itu.” Diperkirakan bahwa Sickman, Letnan Schack dan Schooner Argd dari pihak militer Belanda di Sibolga yang paling tahu tentang maksud dan tujuan pembunuhan kedua martir itu (Sijabat, 2007:401; bnd. Memoirs Munson & Lyman). Menjadi catatan juga, bahwa kuburan Munson dan Lyman ada di Lobupining, maka ini menjadi keanehan tersendiri, karena bagaimana mungkin ada kuburan manusia yang dimakan habis semua dagingnya?

Tak kalah hebatnya juga bahwa para misionaris Jerman turut membesar-besarkan tentang peristiwa kematian Munson dan Lyman ini melalui penelitian Dr. A. Schreiber menunjukkan bahwa daging kedua misionaris dimakan habis (Simanjuntak, 2006:48). Demikian juga misionaris Dr. Johannes Warneck turut meneguhkan peristiwa itu walau dengan alasan bahwa perbuatan mereka dilatarbelakangi ketakutan orang Batak Toba. Mereka juga memperbesar-besar cerita tentang masalah orang Batak makan manusia (kanibalisme) seperti yang dilakukan oleh J.T. Nommensen melalui buku yang ditulisnya. Kiranya ini dapat mendorong untuk meneliti karya-karya tulis para misionaris Jerman yang justru memperbesar-besar cerita seperti ini dan memandang buruk semuanya budaya Batak. Sebagai Anugerah Umum dari Allah, maka patut diyakini bahwa kebudayaan Batak itu tentulah ada yang baik, karena berasal dari Allah. Mungkin para misionaris Jerman tersebut mendapat keuntungan juga atas  tindakan Belanda yang memperbesar-besar cerita kematian Munson & Lyman ini, tetapi merekalah yang tahu itu. ***

 

Telah dimuat di:
Koran BATAK POS
Edisi Sabtu, 22 September 2012