Thursday, 19 March 2015

BATAK DARI LAPORAN PENDATANG PORTUGIS

BATAK DARI LAPORAN PENDATANG PORTUGIS
Oleh: Edward Simanungkalit


Pada awal abad ke-16 bangsa Portugis sudah pernah datang ke Sumatera dan telah memberi laporan tentang Batak. Orang Portugis itu adalah Tome Pires, yang datang pada tahun 1512-1515, menulis di dalam laporannya Suma Oriental.  Ratusan tahun catatan itu terselip di perpustakaan Prancis, kemudian ditemukan Armando Cortesao tahun 1937. Pada tahun 1944 catatan perjalanan dari Tomé Pires yang disunting Armando Cortesao diterbitkan dengan judul, The Suma Oriental of Tomé Pires : An Accounts of the East, from the Red Sea to Japan, written in Malacca and India in 1512-1515.

Tome Pires adalah seorang apoteker yang pernah berkarya pada Pangeran Alfonso, putra Manuel, Raja Portugis. Kemudian menjadi kepala gudang rempah-rempah Portugis di Malaka. Lalu menjadi Duta Besar Portugis di Cina. Ia sampai ke Malaka pada tahun 1512, untuk suatu tugas mengurusi pembelian obat-obatan di kota tersebut. Sejak di Malaka, Pires mengumpulkan segala informasi yang tersedia di bandar paling ramai di Asia Tenggara itu. Di Malaka pula ia menyusun buku Suma Oriental dan diselesaikan di India saat hendak kembali ke Portugal tahun 1515. Oleh karena Pires seorang yang terdidik baik, pengamat yang teliti dan keingintahuannya besar, maka informasi yang disusunnya sangat berharga.
Laporan Tome Pires dimulai dari Borneo (Kalimantan), Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Banda, Seram, Ambon, Maluku dan pulau-pulau Karimun. Kemudian pulau Sumatera (Camotora) diceritakannya luas dan makmur. Dimulai dari cerita Pulau Weh yang disebutnya pulau-pulau Gomez (Gamispola). Dari pulau Weh (Gamispola) di ujung Aceh itu, terus dia menelusuri Selat Malaka, mengelilingi Sumatera menuju Barat ke Fansur (Pamchur) di Barus, dan kembali lagi ke Pulau Weh (Gamispola). Tomé Pires mencatat ada 19 Kerajaan dan 11 Negeri  di Pulau Sumatera ketika itu di antaranya ada Kerajaan Pasai,  Kerajaan Bata, Kerajaan Aru, Negeri Panchur, Negeri Barus, Negeri Singkel (Chingile), dan lain-lain.

Tome Pires menceritakan banyak emas di Sumatera, ada dua jenis getah kayu yang dapat dimakan, namanya Camphor (kamper), ada juga lada, sutera, kemenyan, damar, madu, minyak tanah (pitch), belerang, kapas, rotan. Diceritakan juga banyak padi, daging, ikan (peda). Selain itu, ada juga bermacam-macam minyak, tuak (wine) termasuk tampoy yang mirip anggur di Eropa. Bermacam-macam buah, seperti durian, yang enak sekali. Semuanya ini menggambarkan betapa makmurnya Sumatera itu.

Aceh adalah kerajaan pertama yang diamati Tome Pires di sekitar Selat Malaka bagian Sumatera, kemudian kerajaan Pedir dan beberapa kerajaan lain. Sesudah Pedir itulah kerajaan Pasai. Pasai ketika itu sedang naik daun, segera setelah Portugis menguasai Malaka. Di sebelah Utara kerajaan Pasai itu ada kerajaan Pirada dan ke arah Selatan itulah kerajaan Bata (Batak).

Wilayah Kerajaan Pasai  masih terus sampai ke tepi laut ke arah Barat yang merupakan pantai  Lautan Hindia. Para pedagang dari segala penjuru angin, selain pedangang dari Timur, pada berdatangan ke Pasai, seperti pedangang Rume, Turki, Arab, Parsi, Gujarat, Keling, Benggali, Melayu, Jawa dan Siam. Sedang kalau pedagang dari Timur, perginya ke Malaka, karena saudagar dari Timur adalah pedagang-pedagang besar. Malaka lebih dari sepuluh kali kerajaan Pasai.

Kebanyakan penduduk kerajaan Pasai adalah campuran turunan Benggali, Keling dan orang Pasai asli. Ibukota Pasai itulah yang disebut Sumatera, yang penduduknya sekitar 20.000 orang, sehingga sudah terbilang besar. Raja Pasai sudah memeluk Islam 60 tahun sebelum tahun 1513. Raja yang digantikannya masih pemuja berhala, sedikit demi sedikit dipengaruhi saudagar-saudagar beragama Islam.

Di sebelah Selatan dari kerajaan Samudara Pasai itulah letak Kerajaan Bata (Batak), sedang di sebelah Selatan dari Kerajaan Batak itu letak Kerajaan Aru. Pusat Kerajaan Samudera Pasai berada di dekat Lhokseumawe, sedang pusat Kerajaan Aru diduga berada di sekitar muara Sungai Wampu atau Kota Rantang. Di antara kedua kerajaan inilah Kerajaan Batak tersebut. Raja Batak itu bernama Raja Tomyam (Tamiang), yang mungkin berkaitan dengan nama sungai di daerah itu, yaitu Sungai Tamiang, di Aceh Tamiang. Raja Tomyam ini sudah menganut agama Islam. Castanhenda mengatakan bahwa Raja Tomyam itu adalah menantu dari Raja Aru. Sedang Mendes Pinto (1539) mengatakan bahwa Raja Batak itu bernama Raja Timur Raya.

Negeri Batak itu mengekspor beras, buah, tuak, madu, lilin, kapur barus, terutama minyak tanah  dan rotan. Oleh karena itu dapat diduga bahwa Raja Timur Raya, Raja Batak itu tentulah kaya raya. Raja ini pemberani, yang terlihat dari keberaniannya melawan kerajaan Pasai yang besar dan berani juga melawan mertuanya sendiri, kerajaan Aru (Simbolon, 1997:2-4).

Membaca laporan dari Tome Pires dan lainnya di atas tentulah menimbulkan keingintahuan lebih jauh, tetapi data-data lain tidak ditemukan lagi, sehingga sejarah dan keberadaan bekas kerajaan Batak ini masih gelap hingga kini. Meskipun demikian, bahwa kita perlu mengetahui tentang apa yang sudah dilaporkan oleh Tome Pires ini walaupun akibatnya menggelitik di dalam diri kita untuk mengetahuinya lebih jauh. Apakah tadinya memang orang Batak itu berasal dari Aceh Tamiang? Hal ini masih memerlukan penelitian yang lebih jauh dan biarlah ilmu pengetahuan yang menjawabnya, sehingga kita tidak perlu memaksakan diri untuk berspekulasi dalam rangka mencari jawabannya. ***



Telah dimuat di:
Harian BATAK POS
Edisi Sabtu, 17 Oktober 2012




MEMASUKI NEGERI BATAK DARI PANTAI TIMUR

MEMASUKI NEGERI BATAK DARI PANTAI TIMUR
Oleh: Edward Simanungkalit


William Marsden pada tahun 1772 dan Sir Thomas Stamford Raffles pada tahun 1820 telah memasuki Negeri Batak dari pantai Barat, tetapi John Anderson memasuki Negeri Batak dari pantai Timur. John Anderson diutus oleh W. E. Philip, Gubernur Jenderal Inggris, yang berkedudukan di Pulau Penang dalam rangka misi politik-ekonomi. Dia diberangkatkan dari Pulau Penang beserta 62 orang pendamping seperti dokter, juru bahasa, pengawal pribadi, tentara, juru tulis, mualim kapal, juru masak, perlengkapan dan peralatan seperti obat-obatan, makanan, peluru dan senjata. Perjalanan ini berlangsung selama enam bulan, 1 Januari – Juli 1823, dan cacatan harian perjalanannya diterbitkan dengan judul Mission To The East Coast of Sumatra(1826). Misi yang dipimpin John Anderson ini tiba di Belawan pada 7 Januari 1923.

Batta (Batak) menurut John Anderson
John Anderson merupakan orang pertama yang tidak hanya menggunakan nama umum “Batta”, tetapi juga menyebut nama-nama sub-etnik seperti: Mandiling, Tubba, Kataran, Pappak, Karau-Karau, Kapak, Semilongan. Meskipun “Batta” itu sendiri sudah ada disebut oleh musafir asing lain sebelumnya, tapi belum menyebut sub-etniknya.
Anderson tiba di Ujong Gorab yang terletak tidak jauh dari Kota Jawa (18/1). Di dekat kota ini ditemukan sedikit perkebunan lada. Di sana terdapat sebuah sungai kecil menuju Kota Bangun yang berdampingan dengan kebun kelapa. Di daerah ini, sejumlah besar orang Battas (Batak), menjadi pekerja sultan seperti menjadi laskar. Dua dari orang Battas yang didatangi Anderson, berasal dari Tongking (Tongging, pen.).

Selanjutnya, Anderson mengunjungi Soonghal (Sunggal, pen.) dan bertemu dengan 3 pedagang Battas yang datang dari Langkat (23/1). Mereka adalah orang Karau-karau (Karo, pen.) yang mengenakan baju berwarna biru dan menenteng produk pantai yang disebut dengan ‘Murch’ dan ‘Chelopan’. Anderson menginap di sebuah rumah adat milik Sibayak Perbesi  yang punya kebun lada di Sunggal, tapi gagal bertemu dengan Sibayak Perbesi sehubungan berhalangan.


 

Dari Soonghal, Anderson menuju Pangalan Bulu dengan melewati Kallambir (Klambir) dan Dangla yang terletak di sekitar sungai Kullumpang (Klumpang) tempat Sri Sultan Ahmet. Orang Battas di Kullumpang adalah orang Karau-karau. Di dekat Soonghal terdapat sebuah kampung  bernama Tanjong Mangosta (Tanjung Gusta, pen.) dipimpin oleh Datu Tubba. Dia  mengunjungi pulau kecil bernama Pulau Pantei di mana terdapat lembu jantan, kerbau dan kuda  (25/1). Selanjutnya  Anderson menuju dataran tinggi melalui Gunung Sebaya (Sibayak) di mana Raja Sebaya Lingga berkuasa. Raja tersebut memiliki 15 istri.

Pada waktu kembali ke Kullumbang, Anderson bertemu dengan Sultan Ahmed dan bersama-sama mengunjungi adiknya yaitu Rajah Wan Chindra Desi. Mereka melanjutkan perjalanan hingga Sirdang (Serdang) bersama dengan 26 orang pedampingnya (28/1).  Kemudian kembali ke Kallambir menuju kampung besar yang dipimpin oleh Tuanku Seman dan di sana Anderson menjumpai lumayan banyak orang Battas suku Kataran (Hataran = Timur) (30/1). Di sana ada orang Melayu yang datang dari Singkel di pantai Barat membawa emas, benjamin, champor dan pulang dengan pakaian hasil barter. Pada kesempatan itu juga, Anderson bertemu dengan sultan yang sedang bersama beberapa pemimpin seperti Raja Dolo(k), raja dari Batta Kataran (Hataran = Timur), Orang Kaya Lelu, Rajah Tanjoong Merawa, Tuan Selambian dan Ulubanlang Rajah Seantar.

Traditional Houses of Batak Pardembanan
Selanjutnya, Anderson tiba di Batto Barra (Batubara). Suku Melayu tidak ada dilihatnya di daerah itu. Di sana ia menunggu Sri Maharaja Lela, cucu dari Rajah Bindahara. Sri Maharaja telah tinggal lama di daerah Batta dan menikah dengan salah satu putri Rajah Seantar (Raja Siantar, pen.) yang merupakan adik dari Rajah Tanah Jawa.

Di Kampong Balai, penduduknya terdiri dari orang Melayu, hamba orang Batak, dan beberapa orang CIna yang kelihatan sakit dan sengsara, yang penghasilannya hanya menjual madat dan penjudi (26/2). Seorang anak Batak dibawa ke depan Anderson dan gadis kecil ini berasal dari pedalaman Pane. Anderson juga melihat ada orang yang dirantai, seorang hamba orang Toba yang sudah di-Islamkan. Beberapa tahun yang lalu, ia melarikan diri dan dapat ditangkap kembali. Ia dirantai sampai ia bisa dijual nanti seharga $ 15. Sewaktu panen, hasil padi mereka dijual ke perahu-perahu dari Batubara atau tempat lain yang datang. Lada diekspor 1 koyan setahun dengan mutu yang baik (28/2-1823).

Orang Battas di Assahan memiliki kepercayaan terhadap tiga tuhan, satu di atas, satu di udara dan satu di bawah. Mereka percaya bahwa setelah mereka mati, mereka akan datang kembali seperti hantu. Di Sirantau, Anderson disuguhi tarian Battas dan seorang Pardembanan menari dengan penuh semangat. Seorang gadis Batak dan Bilah juga menari. Di mana-mana orang suka musik (1/3). Sirantau adalah kampung yang besar di kiri dan kanan sungai Asahan. Di pinggir sungai penuh dengan tanaman padi, tembakau, tebu, sirih, dan lain-lain, enau, kelapa, pohon buah-buahan (2/3-1823).


Mereka berlayar lagi ke hulu di mana terlihat tanahnya sangat baik untuk tanaman lada. Sorenya mereka melewati sebuah Kampong Batak kecil yang dinamakan Durian, karena banyak durian di situ dan akhirnya sampai di kampong Pasir Putih (3/3). Di sana banyak kuda kecil yang cantik, lembu, kerbau, kambing dan ternak lainnya, dan di antara pohon-pohon besar ada sekawanan gajah. Anderson membeli dari Raja Batak, pedang yang sangat elok buatan sendiri disebut Kalapan, gagangnya terbuat dari gading gajah. Di kampong Sejurai, mereka mendarat dan disambut penduduk dengan hangat di rumahnya. Para wanita bertenun kain di sana. Orang Batak sangat takut pada Orang Melayu di seberang sungai, karena selalu merampas anak-anak mereka dan menjualnya sebagai hamba (4/3-1823).

Mereka melewati pondok-pondok orang Batak di atas bukit dan berpapasan dengan beberapa perahu penuh dengan garam. Penduduk dalam perahu itu membawa serta anak-isterinya. Mereka sampai di sebuah kampung kecil Bandar Pasir Mandogei yang merupakan kumpulan berbagai pondok kumuh. Raja Bunto Panai, menyambut mereka dengan upacara. Ia berusia setengah abad, berkulit cerah, dan penghisap candu yang kuat. Di perbukitan belakang tempat itu banyak sekali benteng orang Batak di bawah perintah Raja Bunto Panai. Di sekitar Pasir Mandogei ada 50  kampung dari benteng orang Batak, yang berpenduduk 300-1000 orang. Empat jam dari situ ada kampung Munto Meragi. Pinang Meratus, Sendi, Kasingino, Katuburka, Padang Nangali, Sungai Pulia, kesemuanya dilewati  (5/3-1823).

Pagi hari banyak orang Tubba Battas (Batak Toba) turun sampai ke pinggir sungai. Orang Tubba datang dari danau yang besar. Jualan mereka terdiri dari kain yang dibuat sendiri, gagang pedang dan di tempat mereka harga 100 gantang padi $.1 : garam 3-4 gantang per dollar. Warna kulit mereka agak kehitaman seperti orang Burma. Anderson memberikan hadiah cermin  beberapa buah dan mereka sangat gembira melihat muka mereka sendiri (6/3-1823).
Keesokan harinya, Anderson melihat sejumlah besar pedagang Tubba (Toba, pen.) turun dari gunung dari kampung Janji Maria (di Padang Lawas, pen.) datang menukar babi, padi dan lain-lain dengan beberapa buah barang-barang kecil buatan Inggris (7/3). Setelah itu Anderson kembali ke hilir di Tanjung Balai (8/3). Keesokan harinya Anderson meninggalkan Tanjung Balai untuk naik ke kapalnya dan kemudian berlayar menuju Siak (9/3-1823).

Baik William Marsden maupun Sir Thomas Stamford Raffles menyebutnya Batta. Demikian juga John Anderson menyebutnya Batta. Batta merupakan lafal mereka yang berasal dari kata Batak. Namun, John Anderson lebih maju dan merupakan orang pertama menyebut keberadaan sub-etnik daripada Batak itu. Akhirnya dirangkum, bahwa Batak itu adalah: Pakpak, Simalungun, Toba, Angkola, Karo dan Mandailing (dari berbagai sumber). ***


Telah dimuat di:
Harian BATAK POS
Edisi Sabtu, 10 November 2012



MENGGAPAI DANAU DI NEGERI BATAK

MENGGAPAI DANAU DI NEGERI BATAK
Oleh: Edward Simanungkalit


Herman Neubronner van der Tuuk (1824-1894)  menginjakkan kakinya di tepi Danau Toba pada tahun 1850-an. Utusan Dutch Bible Society ini memang sampai di Bangkara dan bertemu dengan Raja Singamangaraja XI serta diijinkan menginap beberapa hari di sana. Inilah orang Eropa yang disebut-sebut sebagian pihak sebagai orang pertama yang menginjakkan kakinya di tepi Danau Toba. Akan tetapi, ada data lain yang terlewatkan dalam kaitannya dengan jantung  Negeri Batak yang belum sempat dijelajahi William Marsden itu sebelumnya.

Raffles ke Sumatera
Pada abad ke-18 Inggris mendirikan pos perdagangannya di sebuah pulau kecil bernama pulau Poncan Ketek yang berada di mulut teluk dekat Sibolga. Sebelumnya sudah ada pos Inggris di Bengkulu dengan Gubernurnya Sir Thomas Stamford Raffles. Teluk itu kemudian disebut Bay of Tappanuly, Teluk Tapanuli, oleh pihak Inggris. Dari  tempat inilah sebelumnya William Marsden memasuki Negeri Batak pada tahun 1772. Kegiatan Inggris ini berlangsung hingga penandatanganan Traktat London pada tahun 1824 antara Inggris dengan Belanda di mana Inggris memperoleh Semenanjung Malaya dan Belanda memperoleh Sumatera dan Jawa.

1870: Prajurit perang dari Batak dengan tombak dan golok di depan bangunan kayu.
Juru foto: Kristen Feilberg (1839–1919). 

Raffles lahir di Jamaica pada 6 Juli 1781. Setelah berhenti sekolah, dia menjadi pegawai East India Company. Raffles berada di East India (Hindia Timur) pada saat Napoleon Bonaparte berhasil menguasai Eropa dataran. Lord Minto, yang waktu itu menjabat Gubernur Jenderal East India di Calcutta, mempunyai pemikiran yang sama dengan Raffles. Adapun pemikiran Raffles tersebut adalah tentang betapa pentingnya menguasai jalur Selat Malaka untuk menjamin pasokan rempah-rempah ke Eropa. Untuk itu Lord Minto menempatkan Raffles sebagai wakil pemerintah Inggris di Malaka. Raffles berhasil mengikat perjanjian dengan Sultan Aceh agar Inggris dapat berdagang dengan bebas di sana. Atas keberhasilan ini Raffles diangkat sebagai pembantu gubernur di negara-negara Melayu yang diputuskan pada Oktober 1810 dan kemudian Raffles menguasai pulau Jawa pada tahun 1811.

Pada masa itulah Raffles menemukan Candi Borubudur. Dia juga membuat Istana Bogor dan Kebun Raya Bogor untuk tempat peristirahatan isterinya, Olivia, yang sakit-sakitan walau kemudian isterinya meninggal dan dikubur di istana Bogor tersebut. Kemudian mereka harus pindah ke Forth Malbrough, Bengkulu setelah kekalahan Napoleon Bonaparte yang membuat Belanda menuntut pengembalian pulau Jawa. Selama menunggu di kantor perwakilan Inggris di Bengkulu ini, Raffles mengikat sejumlah tali persahabatan dengan raja-raja di Aceh, Sumatera Selatan, Riau, dan Minangkabau. Dari sana dia juga berkunjung ke pulau Poncan Ketek di mana John Prince  berkedudukan sebagai residen Inggris. Di sinilah Raffles mengajukan niatnya untuk memasuki pedalaman Negeri Batak.

Raffles ke Negeri Batak
William Marsden yang menjelajahi Negeri Batak (Batta Country) pada tahun 1772 sebagaimana diceritakannya di dalam bukunya The History of Sumatra telah menimbulkan minat di  dalam diri Raffles untuk melihat orang-orang pedalamantersebut. Residen John Prince bersedia menyediakan penunjuk jalan dan pembawa barang yang akan menyertainya dalam perjalanan memasuki Negeri Batak. Dengan hati yang masih diliputi kesedihan mendalam akibat meninggalnya isteri tercinta dan tiga orang anaknya, Raffles berangkat dengan meninggalkan dua orang anaknya, Mary Anne dan Charles pada tahun 1820.
Setelah mereka mendarat di Sibolga serta mendapatkan penunjuk jalan dan pembawa barang, maka Raffles, Dr. William Jack dan Kapten Flint mulai berjalan ke pedalamanNegeri BatakMereka semuanya berjalan kaki melakukan perjalanan jauh dengan naik-turun gunung yang indah namun terjal di deretan pegunungan Bukit Barisan. Para kepala suku yang daerahnya mereka lalui menerima mereka dengan hangat.  Sepertitelah dia amati sebelumnya di dataran tinggi yang menjadi kediaman orang Minangkabau, tanah di bukit inipun tampak subur dan ditanami dengan buah serta sayuran yang dirawat dengan baik. Dia melihat orang-orang Batak berkulit gelap dan dari sejarah maupun dari sisa-sisa patung batu yang ditemukannya, Raffles yakin bahwa mereka berasal dari India atau wilayah utara Burma atau Thailand. 

Rumah-rumah mereka tampak sangat mengagumkan, yang dibangun di atas tiang-tiang, sehingga tidak menyentuh tanah. Atapnya mendongak tegak di tengahnya layaknya pelana kuda, penuh ukiran yang indah dengan tanduk kerbau. Dia juga melihat Danau Toba, suatu hamparan luas yang dikelilingi pegunungan di jantung Negeri Batak, sebagai salah satu danau terindah yang pernah dilihatnya. “Melihat ini saja rasanya sudah tidak rugi,” desahnya sambil melihat keindahan danau yang berisikan pulau tersebut. “Sungguh menakjubkan ” demikian penggalan memoar tersebut, sebagaimana dimuat dalam buku The Restless Warrior, karya Richard Mann.
Setelah Raffles mengunjungi Negeri Batak, dia banyak berkirim surat kepada teman-temannya di Inggris. Salah satu di antaranya dikirim pada tanggal 12 Februari 1820 kepada Duchess of Sommerset, yang dekat dengan para petinggi gereja. Dia berceritera tentang kunjungannya ke pedalaman Negeri Batak, tentang rajanya yang disebutnya “Singah Maha Raja”, dan tentang kepercayaannya yang “supranatural”.Raffles meminta agar dikirimkan penginjil ke Negeri Batak tersebut.

Surat yang dikirim Raffles tersebut ternyata membuahkan hasil. Gereja Baptis Inggris mengirimkan dua orang penginjil yaitu Richard Burton dan Nathaniel Ward untuk bekerja di Negeri Batak. Para penginjil tersebut menjalankan tugasnya dengan baikyang biasanya disambut dengan upacara adat. Kemudian Traktat London ditanda tangani pada tahun 1824maka Inggris harus angkat kaki dari pulau Sumatera. SedangBurton dan Ward dianggap merupakan bagian dari Raffles, maka kedua penginjil inipun harus meninggalkan Negeri Batak.
Akhirnya, terungkap jelas bahwa pemikiran dan ide untuk melaksanakan misi-penginjilan ke Negeri Batak datangnya dari Sir Thomas Stamford Raffles. Inilah yang membuat Burton dan Ward datang hingga akhirnya membawa Munson dan Lyman serta mendorong RMG untuk mengutus LI Nommensen datang ke Negeri Batak. Sekaligus bahwa Raffles jugalah orang Eropa pertama yang menginjakkan kakinya di tepian Danau Toba mendahului  Herman Neubronner van der Tuuk (dari berbagai sumber). ***


Telah dimuat di:
Harian BATAK POS
Sabtu, 27 Oktober 2012



BATAK DI NEGERI BATAK

BATAK DI NEGERI BATAK
Oleh: Edward Simanungkalit

William Marsden (1754-1836) kembali ke Inggris pada tahun 1779 setelah melakukan perjalanan di pulau Sumatera dan kemudian menulis buku The History of Sumatra. Edisi pertamanya diterbitkan di London pada tahun 1783, edisi kedua 1784, dan edisi ketiga 1811. Marsden pun memberikan perhatian khusus pada tradisi, hukum, bahasa, aksara, kebudayaan, hasi-hasil bumi, penduduk asli Pulau Sumatera dan berbagai masalah yang timbul dalam kontak dengan orang asing. Bab keduapuluh dari buku tersebut melaporkan tentang  Negeri Batak (Batta Country) dan Batak (Batta).

Negeri Batak
Negeri Batak berbatasan dengan Aceh di sebelah utara yang dibatasi gunung Deira dan Papa (Dairi dan Pakpak, pen.) dan di sebelah selatan dibatasi oleh daerah Rao. Pantai sebelah barat mulai dari Singkil hingga Tabuyung dan Kunkun berbatasan dengan Air Bangis di selatan. Dari pantai laut sebelah barat hingga pantai laut sebelah timur berbatasan dengan Melayu dan Aceh. Kawasan ini sangat padat penduduknya terutama di kawasan pusat dan terdapat sebuah danau yang sangat besar (Danau Toba, pen.) di mana tanahnya subur dan pertaniannya jauh lebih maju daripada di daerah bagian selatan.

Negeri Batak terbagi dalam distrik utama berikut: Angkola, Padang Bolak, Mandailing, Toba, Silindung, dan Singkil, yang terdiri dari tiga kerajaan. Satu di antaranya bernama Simamora yang berada di pedalaman dan terdiri dari sejumlah perkampungan dengan dua kawasan terletak di pantai timur. Kerajaan ini menghasilkan banyak emas. Kota Tinggi merupakan tempat tinggal raja.  Silindung juga terdiri dari banyak distrik yang di antaranya penghasil kemenyan. Kerajaan kecil yang disebut Butar terletak di arah timur laut sampai ke arah pantai timur bernama Pulau Seruni dan Batubara di mana banyak kegiatan perdagangan. Butar tidak menghasilkan kapur barus maupun kemenyan dan emas, sedang penduduknya hidup dari pertanian. Rajanya bertempat tinggal di kota Butar.

Sungai Singkil merupakan sungai terbesar di pantai barat pulau Sumatera yang berasal dari Aceh dan sebelah lagi sampai ke dekat danau yang sangat besar (Danau Toba, pen.). Bagian sungai ini mengaliri Negeri Batak. Sedang Barus berada di bagian selatan yang sangat terkenal dengan kapur barus di negeri timur. Di dekat Barus itu terdapat  8 perkampungan yang dihuni orang Batak. Mereka ini pembeli kapur barus dan kemenyan dari orang-orang di pegunungan Dairi. Teluk Tapanuli ramai dan pantainya di mana-mana telah dihuni manusia. Teluk ini dapat dilayari sebagai kekayaan alam yang memberi  keuntungan bagi pelaut yang dapat mengunjunginya dengan aman di setiap musim.  Kapal-kapal banyak berlabuh di teluk ini, sehingga membuatnya ramai dan padat.


Batak
Manusia Batak lebih pendek dari perawakan orang Melayu. Sifat umum, air muka, rupa dan warna kulit terlihat sedang yang mungkin telah diturunkan dari nenek moyangnya. Pakaian mereka biasanya terbuat dari kain katun sederhana buatan sendiri, tebal, kasar, tetapi kuat. Panjangnya 4 hasta dan dua dipakai di bagian dada yang dililitkan di bagian tengah dengan memakai selendang di bagian pundak. Pakaian ini terdiri dari berbagai campuran warna kecoklatan agak merah dan warna biru yang mendekati hitam. Mereka gemar menghiasinya, terutama selendangnya, dengan rambu-rambu dan jalinan benang. Tutup kepala biasanya terbuat dari kulit kayu, tetapi untuk kalangan kelas tinggi memakai pakaian bergaris warna biru dari luar negeri mirip tiruan destar Melayu, dan sejumlah baju yang bercorak bunga-bunga.

Wanita muda, di samping lilitan kain di bagian tengah, ada juga kain melilit di bagian dada. Memakai sejumlah anting-anting dari timah di telinganya dan juga sejumlah ring tebal yang terbuat dari kuningan dipakai di leher. Pada hari-hari perayaan mereka menghiasi diri mereka dengan anting-anting terbuat dari emas serta jepit rambut, sehingga kepala mereka mirip burung atau ular naga. Memakai sejenis plat dada yang berbentuk tiga kerucut dan memakai gelang berlobang di lengan bagian atas, sehingga semuanya terlihat seperti terbuat dari emas. Kulit kerang kima, yang banyak terdapat di teluk, dibentuk dan dipakai sebagai gelang tangan, sehingga terlihat lebih mengkilat daripada gading.

Senjata mereka adalah senjata lantak, tombak bambu atau tombak dengan ujung-tombak panjang terbuat dari besi, sehingga mereka adalah ahli tempa. Senjata samping disebut ‘jono’, yang mirip dan digunakan sebagai pedang dibanding sebagai keris. Kotak selongsong peluru diperlengkapi dengan sejumlah rak kecil terbuat dari bambu yang masing-masing berisi peluru pengganti. Alat-alat ini dibawa bersama potongan kayu dan ranjau kecil, yang lebih panjang disambungkan dengan bambu.

Mereka memiliki alat yang diukir secara cermat dan dibentuk seperti paruh burung besar untuk mengikat peluru. Sedang lainnya adalah bentuk-bentuk yang aneh untuk tempat cadangan bubuk peluru (mesiu , pen.) tergantung di depan. Di sebelah kanan tergantung batu-api dan besi dan juga cangklong (pipa tembakau). Senjata mereka, pelatuknya terbuat dari tembaga dan peralatan ini diperoleh dari pedagang yang datang dari Minangkabau.  Pedang dibuat sendiri dan membuat sendiri serbuk senjatanya yang diekstrak dari belerang. Di samping itu mereka memakai baju berwarna merah dan putih. Untuk genderang mereka menggunakan gong dan dalam aksinya melakukan teriakan-teriakan perang. Semangat berperang sangat menggebu pada bangsa.

 Mereka mempertahankan kampungnya dengan gundukan tanah yang besar sebagai kubu pertahanan yang di atasnya mereka tanami dengan semak belukar. Ada dibangun sebuah parit tanpa kubu gundukan tanah dan pada setiap sisi terdapat tancapan kayu runcing yang cukup tinggi biasanya dari kayu kemenyan. Di seberangnya ditanami pagar yang tak dapat ditembus terbuat dari bambu berduri yang bila sudah tumbuh membesar memiliki kerapatan yang luarbiasa rapat dan secara sempurna membuat  tampilan sebuah kampung menjadi tersamar secara rahasia.

Penduduk yang bermukim di pesisir pantai memperdagangkan kemenyan, kapur barus, kayu manis untuk dipertukarkan dengan besi, baja, tembaga, dan garam. Semuanya ini mereka barter kepada penduduk pedalaman yang dipertukarkan dengan barang-barang mentah dan barang-barang jadi buatan negeri itu, seperti kain tenunan sendiri. Mereka lebih meminati kain berwarna biru untuk tudung kepala dan kain bahan kursi yang bercorak bunga-bunga.

Makanan yang umum untuk orang-orang kelas bawah adalah jagung dan ubi jalar, sementara para raja dan tokoh-tokoh adalah nasi. Kadangkala mereka mencampur jagung dengan beras. Hanya dalam kesempatan tertentu saja mereka menyembelih ternak untuk makanan.  Sungai-sungai mereka tidak banyak ikannya. Daging kuda merupakan makanan istimewa, karena itu mereka memeliharanya dan memberikan makanan yang baik untuk peliharaan itu. Kuda-kuda terbaik digunakan untuk perayaan-perayaan. Mereka juga memelihara sejenis anjing hitam yang agak kecil dengan telinganya tegak ke atas untuk dimakan setelah gemuk. Mereka sangat gemar minum tuak sebagai minuman pada pesta-pesta.

Akhirnya, bahwa buku The History of Sumatra yang ditulis oleh William Marsden memang perlu dibaca, karena sangat inspiratif dan memberikan laporan yang cukup lengkap tentang Batak dan Negeri Batak pada abad ke-18. Tak kalah pentingnya bahwa orang Batak sudah pandai bertenun dan memakai kain tenun jauh sebelum LI Nommensen datang, sehingga terasa berlebihan bila T.B. Silalahi berkata“Kalau dulu Apostel Nommensen tidak datang ke sini, mungkin kita orang Batak masih memakai cawat sampai sekarang.”  ***


Telah dimuat di:
Harian BATAK POS
Sabtu, 20 Oktober 2012



Wednesday, 18 March 2015

MENELUSURI LATAR BELAKANG BUDAYA BATAK

MENELUSURI LATAR BELAKANG BUDAYA BATAK
Oleh: Edward Simanungkalit

Pantai Timur Sumatera bagian Utara lebih mudah diterima pikiran sebagai pintu masuk kedatangan nenek-moyang Batak, karena berada bersebelahan dengan Semenanjung Malaka di Benua Asia. Itulah sebabnya penelitian di pesisir Pantai Timur Sumatera bagian Utara  lebih banyak dan menarik untuk diikuti. Penelitian yang dilakukan oleh H.M.E. Schurmann di dekat Binjai (1927), Van Stein Callenfels di dekat Medan, Deli Serdang, Kupper di Langsa, Aceh Timur (1930), Mc. Kinnon di DAS Wampu, Prof. Truman Simanjuntak dan Budisampurno di Sukajadi, Langkat (1983), di Lhok Seumawe dan oleh Tim Balarmed di Aceh Tamiang (2011) menemukan bahwa para pendukung budaya Hoabinhian sudah datang pada masa Mesolitik di sekitar 10.000-6.000 tahun lalu (Wiradnyana, 2011:19-21).

Sedang di sebelah Barat dari Sumatera bagian Utara ditemukan juga adanya kedatangan pendukung budaya Hoabinhian di Pulau Nias (Wiradnyana, 2011:25-29). Meskipun demikian, bahwa kehidupan yang lebih awal sudah ada yang datang ke Pulau Nias dan Kuantan Singingi, Riau pada masa Paleolitik di sekitar awal adanya manusia hingga 10.000 tahun lalu (Wiradnyana, 2011:9-17). Seperti inilah gambaran keberadaan kehidupan manusia yang merupakan pendukung budaya Hoabinhian yang berada di wilayah Sumatera bagian Utara pada masa hingga 6.000 tahun lalu.

Pembukaan hutan sebagaimana diperlihatkan oleh Bernard Kevin Maloney di Pea Sim Sim yang berada di sebelah Barat dari Nagasaribu, Humbang yang pentarikhannya diperkirakan sekitar 6.500 tahun lalu (bnd. Bellwood, 2000:339). Temuan ini tentulah tidak mengherankan, karena hasil penelitian di pantai Timur Sumatera bagian Utara sudah memperlihatkan tentang kedatangan para pendukung budaya Hoabinhian pada periode tersebut di berbagai tempat. Mereka ini datang dari Vietnam bagian Utara melalui Semenanjung Malaka.

Pendukung budaya Hoabinhian ini merupakan bangsa setengah menetap dan bertempat tinggal di gua, pemburu, dan bercocok-tanam sederhana. Mereka menggunakan kapak genggam dari batu, kapak dari tulang dan tanduk, gerabah berbentuk sederhana dari serpihan batu, batu giling, dan mayat yang dikubur dengan kaki terlipat/jongkok dengan ditaburi zat warna merah, mata panah, flakes. Makanannya berupa tumbuhan, buah-buahan, binatang buruan atau kerang-kerangan.

Robert von Heine Geldern mengemukakan bahwa kelompok pendukung budaya Dongson bermigrasi dari Selat Tonkin, Vietnam yang berkembang dengan kebudayaan Dongson, melalui Semenanjung Malaka terus ke Sumatera bagian Utara pada masa Neolitik sekitar 6.000-2.000 tahun lalu (Pasaribu, 2009:ii). Dari sini terlihat masuknya pengaruh budaya Dongson ke dalam budaya Toba. Hal inipun dikuatkan Ketut Wiradnyana dari Balar Medan mengatakan: “Sementara di Tanah Batak didominasi oleh budaya Dongson (salah satu budaya berasal dari Veitnam Utara) yang perkembangannya sekitar 2.500 tahun yang lalu. Budaya Dongsonini ditandai dengan adanya logam dan pola hias yang ditemukan di rumah Batak Toba, yang menggambarkan binatang atau manusia dengan hiasan bulu-bulu panjang.” (Waspada: 11/01-2012).

Kebudayaan Dongson mulai berkembang di Vietnam. Kebudayaan ini merupakan kebudayaan zaman perunggu, yang berkembang antara abad ke-5 hingga abad ke-2  Sebelum Masehi. Masyarakat Dongson adalah masyarakat petani dan peternak yang handal. Mereka terampil menanam padi, memelihara kerbau dan babi, serta memancing. Mereka agaknya menetap di pematang-pematang pesisir, terlindung dari bahaya banjir, dalam rumah-rumah panggung besar dengan atap yang melengkung lebar dan menjulur menaungi emperannya. Selain bertani, masyarakat Dongson juga dikenal sebagai masyarakat pelaut, bukan hanya nelayan tetapi juga pelaut yang melayari seluruh Laut Cina dan sebagian laut-laut selatan dengan perahu yang panjang.

Bermacam-macam benda seperti kapak dengan selongsong, ujung tombak, pisau belati, mata bajak, topangan berkaki tiga dengan bentuk yang kaya dan indah. Ada juga gerabah dan jambangan rumah tangga, mata timbangan dan kepala pemintal benang, perhiasan-perhiasan termasuk gelang dari tulang dan kerang, manik-manik dari kaca dan lain-lain. Hampir semuanya benda tersebut diberi hiasan. Bentuk geometri merupakan ciri dasar dari kesenian ini di antaranya berupa jalinan arsir-arsir, segitiga dan spiral yang tepinya dihiasi garis-garis yang bersinggungan.

Peta pusat kebudayaan Bacson-Hoabinh, Dong Son, dan Sa Huynh di Vietnam.
Gambar 1. Peta pusat kebudayaan Bacson-Hoabinh, Dong Son, dan Sa Huynh di Vietnam.

Ciri-ciri kebudayaan Dongson terlihat di dalam budaya Toba hingga sekarang ini, tetapi bagaimana hubungan antara pendukung budaya Hoabinhian sebagaimana ditemukan di Pea Sim Sim dengan pendukung budaya Dongson ini masih memerlukan penjelasan melalui penelitian ilmiah. Mungkin saja telah terjadi percampuran antara para pendukung budaya Hoabinhian dengan pendukung budaya Dongson. Untuk itu masih diperlukan penelitian tentang kapan masuknya para pendukung budaya Dongson ini ke Tanah Batak (Toba) hingga terjadi percampuran tadi. Kalau percampuan antara pendukung budaya Hoabinhian dan Dongson itu yang terjadi, maka mereka jugalah yang membangun masyarakat di Sianjur Mula-mula. Masyarakat Toba ini kemudian membangun huta, horja, dan bius di Sianjur Mula-mula. Masyarakat dengan sistim organisasi bius yang hidup dari pertanian sawah di lembah-lembah sekitar Danau Toba dan juga di lembah-lembah Humbang dan Silindung tentulah sangat menarik untuk diteliti lebih jauh. Di masa lalu masyarakat Toba ini telah mampu menata hidup mereka dan mengorganisir masyarakatnya ke dalam sistim huta, horja, dan bius dengan mata pencaharian melalui bertani di sawah. Mereka hidup makmur, teratur dan damai di alam yang indah seperti disaksikan oleh penginjil Burton dan Ward dari Inggris ketika beberapa waktu melakukan misi-penginjilan di lembah Silindung. ***


Tulisan ini telah dimuat di:
Harian BATAK POS,
Edisi Sabtu, 28 Juli 2012







MENELUSURI JEJAK SEJARAH AWAL BATAK

MENELUSURI JEJAK SEJARAH AWAL BATAK
Oleh: Edward Simanungkalit


Sebagaimana diakui juga oleh Sitor Situmorang tentang adanya missing-link  dalam kepustakaan yang ada tentang berbagai bidang dari sejarah Batak dan Toba khususnya, maka hal itu dapat juga dirasakan oleh berbagai pihak termasuk penulis sendiri. Adapun yang penulis maksudkan ialah sejarah Batak-Toba yang masih perlu lebih jauh disingkapkan, sehingga terbuka dengan lebih terang benderang. Salah satu karya yang mencerahkan itu berupa buku berjudul “TOBA NA SAE: Sejarah Lembaga Sosial Politik Abad XIII-XX” (Komunitas Bambu, 2009) yang ditulis Sitor Situmorang berdasarkan hasil penelitiannya.

Pada awal abad ke-20, masyarakat Batak-Toba telah memiliki lebih dari 150 bius dengan perhitungan bahwa bius tersebut dihapus oleh Belanda pada tahun 1918 menjadi 150 negeri. Sebagian kecil dari ke-150 negeri tadi  merupakan penggabungan dari beberapa bius. Adapun bius Sianjur Mula-mula disebutkan sebagai bius pertama yang didirikan oleh keturunan Si Raja Batak. “Puluhan generasi sebelumnya, demikian bunyi silsilah para leluhur yang secara kolektif disebut Si Raja Batak, menurunkan suku bangsa Batak-Toba dan membangun sebuah paguyuban yang disebut bius, meliputi kedua lembah sebagai lembah otonom.” (Situmorang, 2009:11-12). Kedua lembah dimaksud adalah Lembah Limbong dan Lembah Sagala.

Si Raja Batak adalah nama kolektif untuk para founding fathers sebagaimana disebutkan oleh Sitor Situmorang: “Si Raja Batak: nama kolektif semua leluhur marga; adat yang mempribadi, pewaris kolektif tugas pengayoman adat dan kebudayaan dari Tuan Putri Deak Parujar, Bunda Utama, Si Raja Batak, dan tercantum di setiap silsilah sebagai manusia pertama.” (Situmorang, 2009:524). Dengan demikian, Si Raja Batak bukanlah seorang pribadi yang masa hidupnya sekitar abad ke-13 atau ke-14, melainkan nama kolektif  dari masa yang lebih jauh, yaitu dari awal Masehi.

Sejarah pantai Barat mengemukakan tentang Pliny yang berkunjung ke Barus mencatat di dalam bukunya "The Natural History" pada tahun 77 Masehi tentang keberadaan orang Batak. Kemudian pada sekitar tahun 150, Claudius Ptolomeus dari Alexandria (sekarang Mesir), mencatat adanya suatu Negara di wilayah masyarakat Batak yang sekarang. Negara itu disebutnya “Lima Pulau Barus” dan membuat peta Barus di dalam bukunya “Geographia”. Adapun orang-orang yang sudah menyebut Barus di masa lalu antara lain: I Tsing (692), Ibnu Chordhadhbeh (846), Marcopolo (1292), Ibnu Batutah (1345), dan lain-lain termasuk adanya prasasti Tamil di Lobu Tua, Barus bertarikh 1088.

Keberadaan bius-bius yang sudah tua tersebut memperlihat adanya lembaga masyarakat yang mengatur cara hidup masyarakat Toba sejak zaman dahulu kala. Sementara Barus sudah ada sebagai pintu bagi Toba di mana Barus merupakan pelabuhan niaga dengan komoditinya yang terkenal yaitu kamfer atau kapur barus. Melihat laporan dari para musafir-musafir yang pernah datang ke Sumatera di masa lalu, maka sangatlah mungkin akan keberadaan Batak-Toba yang sudah tua.

Lebih jauh lagi, kemungkinan akan keberadaan manusia di daerah Batak-Toba telah ditunjukkan lewat hasil penelitian arkeologi. Di dalam bukunya “Prasejarah Kepuluan Indo-Malaysia” (Gramedia: 2000), Peter Bellwood menulis: “Sebagai contoh, sebuah inti polen dari rawa Pea Sim Sim dekat Danau Toba di Sumatera bagian Utara (1.450 m di atas permukaan laut) menunjukkan bahwa pembukaan hutan kecil-kecilan mungkin sudah dimulai pada 4.500 Sebelum Masehi.” (Bellwood, 2000:339). Di sini Peter Bellwood sebenarnya mengutip dari laporan hasil penelitian Bernard Kevin Maloney di daerah Humbang, tepatnya di Tao Sipinggan dekat Silaban, Pea Sijajap di Simamora, Pea Bullok di dekat Sibisa - Siborong-borong, dan Pea Sim Sim di sekitar sebelah Barat dari Naga Saribu. Di dalam laporan penelitian itu diungkapkan tentang kemungkinan adanya kehidupan di Tao Sipinggan pada sekitar 2.500 tahun lalu, di Pea Sijajap pada sekitar 2.600 tahun lalu, Pea Bullock pada sekitar 2.700 tahun lalu. Sedang yang paling tua dari itu ditemukan kemungkinan kehidupan  di Pea Sim Sim pada sekitar 6.500 tahun lalu (http://ejournal.anu.edu.au/index.php/bippa/article/viewFile/432/421).

Apa yang dikemukakan oleh Peter Bellwood dan Bernard Kevin Maloney bukanlah sesuatu yang tidak mungkin. Bila menilik pada hasil penelitian yang sudah pernah dilakukan di sekitar daerah tersebut, maka hal itu semakin mungkin. Sebagaimana penelitian arkeologi yang pernah dilakukan telah ditemukan jejak-jejak manusia dari pendukung budaya Hoa Bin Hian di daerah pantai Timur sekitar Deli Serdang, Langkat, Aceh Tamiang, hingga Lhokseumawe. Pendukung budaya Hoa Bin Hian ini datangnya dari Vietnam bagian Utara pada masa Mesolitik, yaitu sekitar 10.000 – 6.000 tahun lalu. Dari pantai Barat ada juga kemungkinannya mengingat Pulau Nias juga sudah didatangani oleh para pendukung budaya Hoa Bin Hian ini pada masa Mesolitik dan kelompok lain yang lebih awal (Wiradnyana, 2011: 19-30; Wiradnyana & Setiawan, 2011:79-158).

Penelitian Maloney yang dipadukan dengan penelitian-penelitian di pantai Timur dan dari arah pantai Barat seperti Nias tadi memperlihatkan adanya kemungkinan yang besar tentang asal-usul Batak-Toba. Meskipun demikian masih diperlukan penelitian ilmiah selanjutnya untuk menjelaskan hubungan dari hasil penelitian barusan dengan masyarakat Toba yang memulai bius di Sianjur Mula-mula. Melihat kepada hasil-hasil penelitian tadi, maka semakin kuat dorongan agar dilakukannya penelitian arkeologi juga di daerah Samosir terutama di sekitar Sianjur Mula-mula dan Pusuk Buhit. Keahlian bertani di sawah dan kemampuan membangun organisasi bius sebagaimana telah berlangsung sejak awal Masehi memerlukan penelitian yang lebih jauh lagi. Adanya missing-link tentang berbagai bidang mengundang pertanyaan yang memerlukan jawaban, agar semuanya menjadi terang-benderang. Kiranya ini menjadi penantian kita bersama dan harapan hita bersama, agar peneliti-peneliti muncul untuk melakukan penelitian tentang berbagai hal di Tanah Batak. ***


Tulisan ini sudah dimuat di
Harian BATAK POS
Edisi Jumat, 20 Juli 2012