Monday, 4 May 2015

PESTA RONDANG BINTANG DI TANAH SIMALUNGUN

PESTA RONDANG BINTANG DI TANAH SIMALUNGUN
Oleh: Edward Simanungkalit


Salah satu budaya yang menarik dan memerlukan pelestarian adalah Pesta Rondang Bintang yang merupakan budaya Simalungun. Pesta ini diadakan pada saat terang bulan dan bintang, sehingga pesta ini memiliki pengertian terang-benderang. Acara pestanya dilaksanakan pada malam hari di saat bulan dan bintang menerangi bumi dengan terangnya.

Para tokoh adat bersama tokoh masyarakat Simalungun yang dikenal dengan Partuha Maujana yang berusaha menggali dan melestarikan budaya Simalungun ini. Partuha ialah tokoh adat, sedang Maujana ialah cendikiawan. Berkat upaya Partuha Maujana ini Pesta Rondang Bintang dapat terselenggara kembali. Upaya seperti ini patut dihormati dan perlu ditumbuhkembangkan di dalam masyarakat untuk melestarikan budaya.
http://sopopanisioan.blogspot.com
1.       Tradisi Pesta Rondang Bintang
Pesta Rondang Bintang merupakan pesta adat setelah musim panen untuk mengungkapkan rasa syukur  atas keberhasilan panen raya. Pesta ini juga dimanfaatkan para  muda-mudi sebagai satu kebiasaan tahunan menjadi acara pertemuan menjalin kasih atau mencari jodoh dan pengembangan semangat gotong-royong para muda-mudi tersebut.  Pada pesta ini di zaman dahulu para gadis keluar menumbuk padi bersama dan para pemuda datang membantu mereka. Bila pemuda memberikan perhatian, maka para gadis melakukan kegiatan maranggir yang menggambarkan pembersihan diri, yaitu: badan, hati, dan pikiran dengan menggunakan jeruk purut (Nurmaulita, 2012:1; Sihaloho, 2008:1-3).
 
Pengungkapan rasa syukur di dalam Pesta Rondang Bintang ini berhubungan dengan berhasilnya panen raya, sehingga pesta ini tidak terlepas dari daerah Simalungun sebagai daerah agraris. Demikian juga di dalam kegiatan pertanian itu, bahwa masyarakat Simalungun mengembangkan semangat marharoan, yaitu gotong-royong. Gotong-royong ini dilaksanakan pada saat menanam dan menuai padi serta mengambil kayu untuk membuat alat menumbuk padi maupun membuka jalan, membangun jaringan irigasi dan tempat pemandian. Sehabis panen, berdasarkan musyawarah dan bimbingan para orangtua, maka para muda-mudi mempersiapkan Pesta Rondang Bintang dengan belajar menari, menyanyi, berbalas pantun, dan mengenakan pakaian adat. Muda-mudi yang belum menikah akan menari khusus sebagai ucapan doa permohonan dengan harapan mendapat jodoh untuk cepat menikah, sedang pasangan suami-isteri yang belum mempunyai anak akan menari sebagai doa meminta diberikan anak (Siahaan, 2006:1-2; Sihaloho, 2008:1-3).
http://sopopanisioan.blogspot.com
2.       Pelaksanaan Pesta Rondang Bintang
Pelaksanaan Pesta Rondang Bintang ini diawali dengan mamuhun  yang memiliki makna sebaga  meminta ijin untuk melaksanakan acara adat kepada keturunan Raja Simalungun, yaitu Raja Siantar, Pane, Tanah Jawa, Purba, Dolok Silou, Silimakuta, dan Raja Raya, Saragih Garingging. Sarana dalam pesta ini diawali dengan demban  (sirih) menjadi media saling menghormati sesama. Demban sise, yaitu pemberian uang di bawah sirih dengan kelipatan 12, yang maknanya sebagai tanda sembah penghormatan. Kemudiaan diikuti dengan pemberian ayam serta beras sebagai bekal pelaksanaan adat, karena masyarakat Simalungun hidup dari usaha pertanian pada umumnya (Nurmaulita, 2012:2-3).

Sebelum acara pelaksanaan Pesta Rondang Bintang, maka pada siang harinya muda-mudi sudah harus maranggir dan marrudang. Maranggir ialah mandi dan membasuh rambut dengan jeruk purut, maknanya di samping bersih dan segar adalah menguras (mengusir segala kotoran badan, hati, dan pikiran). Marrudangialah memakai bunga di bagian kepala sebelah belakang bagi anak boru (perempuan) dan menyematkan bunga pada kantong baju pada laki-laki (Senovian, 2012:2).

Di dalam pelaksanaan Pesta Rondang Bintang itu bukan hanya menampilkan tari dan seni, tetapi juga ada kesempatan diberikan kepada muda-mudi untuk memperkenalkan tanaman dari masing-masing daerahnya. Sementara jenis tari yang ditampilkan muda-mudi pada umumnya mempunyai makna permohonan tersendiri serta tari khusus mohon keturunan bagi pasangan suami-istri yang belum dikaruniai anak. Kemudian dirangkaikan dengan kegiatan berbalas pantun di antara sesama muda-mudi.  Perkenalan pertama pada acara ini sering membuahkan kasih-sayang dan diakhiri dengan pernikahan sesama muda-mudi. Kalangan pemuda selalu menyampaikan niat dengan mengucapkan pantun ditujukan kepada seorang gadis dan si gadis akan menjawab mau atau menolak untuk dipersunting (Siahaan, 2006:2-4; Sihaloho, 2008:1-3).
http://sopopanisioan.blogspot.com
Senovian (2012:3) mencatat jenis gual (tortor) dalam Pesta Rondang Bintang sebagai berikut:
a. Gual Rambing-rambing, artinya ase roh dearni (semakin sempurna)
b. Gual Sayurmatua, artinya panjang umur
c. Gual Olop-olop, artinya segar tetap sukaria
d. Gual Parahot, artinya agar tetap utuh
e. Gual Sampang Apuran, artinya saling memaafkan
f. Gual Soroung Dayung, artinya agar tersalur rencana
g. Gual Boniala-boniala, artinya saling bermaafan
h. Gual Doding-doding, artinya bersuka-ria
i. Gual Lakkitang Mandipar Laut, artinya selamat diperjalanan
j. Gual Haporas ni Silokkung, artinya jangan anggap remeh
k. Gual Buyut Mangan Sihala, artinya gembira ria
l. Gual Pankail, artinya gembira ria
m. Gual Rintak Hotang, artinya gembira ria
n. Gual Bodat na Handuru, artinya gembira ria

Di antara jenis gual di atas dibagi 3 kelompok, yaitu:
a. Rambing-rambing ramos yaitu buah yang ramos janah marambing-rambing gabe malas ni uhur (doa sambil menari agar mudah rejeki dan tercipta hari esok yang cerah/kebahagiaan).
b. Sayurmatua (lanjut usia) yaitu di samping hari esok yang cerah juga umur yang panjang.
c. Parahot (tetap utuh) yaitu hari esok, panjang umur dan tetap utuh duniawi dan akhirat (Senovian, 2012:4).
http://sopopanisioan.blogspot.com
Pesta Rondang Bintang diadakan dengan mengenakan pakaian adat Simalungun yang menggunakan hiou (ulos) ditambah dengan ornament lainnya yang menggambarkan sumber kehangatan manusia selain api dan matahari. Dengan semangat marharoan, masyarakat mempersiapkan pesta ini secara gotong-royong sebagai bentuk kebersamaan di atas dasar falsafah Simalungun: “Habonaron Do Bona”. Selama ini telah 27 kali Pesta Rondang Bintang diadakan di Tanah Simalungun dan selanjutnya biarlah setiap tahunnya selalu menggema ajakan: “Eta Marrondang Bintang!”. ***


Telah dimuat di:
Harian BATAK POS
Edisi Sabtu, 12 Januari 2013
http://sopopanisioan.blogspot.com










MEJAN DARI TANAH PAKPAK

MEJAN DARI TANAH PAKPAK
Oleh: Edward Simanungkalit


Mejan merupakan peninggalan purbakala yang ditemukan di Tanah Pakpak berupa patung-patung yang diukir dari batu. Patung-patung ini berbentuk orang mengendarai binatang seperti: gajah, kuda, atau harimau.Mejan adalah suatu simbol kebanggaan dan kemashyuran bagi masyarakat Pakpak, karena diyakini bahwa patung-patung tersebut mengandung unsur mistik tersendiri. Selain mengandung nilai budaya yang tinggi, mejan ini juga merupakan lambang kebesaran marga Pakpak atau masyarakat Pakpak.

Secara khusus masyarakat Pakpak memaknai mejan sebagai simbol kepahlawanan. Pemahat yang membuat mejan ini adalah para pertaki dan mereka inilah pemilik mejan sekaligus pande tukangPembuatan mejan ini dahulu memakan waktu yang cukup lama disertai dengan mantra-mantra untuk mengisinya dengan roh yang biasa disebut masyarakat Pakpak dengan nangguru yang mengisi batu mejanItulah sebabnya mejan diyakini memiliki kekuatan gaib dan para pertaki inilah yang memiliki kualifikasi membuatnya.  
     
Warga yang memiliki mejan dahulu kala merupakan orang berada, karena dalam pembuatannya membutuhkan biaya yang lumayan besar dan memakan waktu lama juga. Selain itu, untuk pembuatan mejanini tidak sembarangan, karena dalam pembuatannya harus mengikuti banyak ritual sebagai syarat-syarat yang harus dipenuhi agar mejan tersebut nantinya memiliki kekuatan mistikSetelah rampung patung ini ditempatkan di  gerbang kampung sebagai  penangkal bala sekaligus penanda kekuasaan marga selaku pemangku kuta, yaitu pendiri kampung.

Pada zaman dulu, mejan berfungsi sebagai benteng pertahanan terhadap musuh yang akan masuk ke suatu daerah atau kampung. Konon, mejan dapat bersuara pada zaman dulu bila musuh datang memasuki kampung atau bila suatu kampung akan mengalami suatu kejadian. Suara ini diyakini berasal dari nangguru yang berdiam di dalam batu mejan tersebut. Nangguru yang tinggal di batu Mejan  dipercaya adalah roh nenek moyang yang dipanggil melalui suatu ritual. Di situlah letak sifat mistik daripada mejan yang telah disinggungsebelumnya (berbagai sumber).

1.    Pengaruh  Tamil dalam Masyarakat Pakpak
Patung Mejan yang masih ada ditemukan sekarang ini diperkirakan berumur 400–900 tahun. Menurut hasil penelitian para arkeolog yang pernah melakukan riset di daerah Pakpak Bharat, keberadaan mejan tidak terlepas dari pengaruh Hindu yang juga identik dengan budaya patungnya. Bentuk patung seperti gajah dan angsa adalah hasil kontak mereka dengan para pendatang dari IndiaBentuk seperti patung angsa yang berfungsi sebagai tutup batu pertulenan (penyimpanan abu jenazah) sebenarnya tidak lain adalah hasil interpretasi Pakpak terhadap ikonografi Hindu yang dikawinkan dengan bentuk mejan yang telah ada sebelumnya, sebagai simbol kendaraan arwah (Soedewo, 2008:1-10).

         ALBUM PAKPAK
Masuknya unsur-unsur budaya Hindu - Tamil ke dalam budaya Pakpak dimungkinkan oleh adanya kontak kedua budaya tersebut. Tempat yang paling memungkinkan terjadinya kontak itu di masa lalu adalah Barus, yang bukti-bukti sejarah maupun arkeologisnya menunjukkan tempat ini pernah berjaya sebagai bandar internasional. Para pedagang Tamil dari India mendatangi Barus untuk membeli kapur barus yang dihasilkan di daerah Pegunungan Bukit Barisan yang menjadi tempat tinggal orang-orang Pakpak (Basarsyah, 2009:1-3; Soedewo, 2008:1-10).

Bukti kehadiran orang-orang Tamil dari India adalah Prasasti Lobu Tua, yang ditemukan di Barus. Prasasti berangka tahun 1010 Saka (1088 M) ini dikeluarkan oleh suatu serikat dagang yang bernama Ayyāvole 500 (Perkumpulan 500) (Sastri,1932:326 dan Subbarayalu,2002:24). Prasasti dengan tulisan Tamil ini ditemukanoleh pejabat Belanda GJJ Deutz tahun 1872. Setelah diterjemahkan oleh Prof. Dr. KA Nilakanda dari Universitas Madras India pada tahun 1931, menurutnya perkumpulan dagang etnik Tamil tersebut memiliki pasukan keamanan, aturan perdagangan dan ketentuan lainnya. Anggotanya terdiri dari berbagai aliranBrahmanaWisnuMulabhadra dan lain-lain. Berdasarkan penggalian arkeologi yang dilakukan oleh Daniel Perret bersama tim dari Ecole Francaise d Extreme-Orient (EFEO) membuktikan bahwa pada abad ke-8 sampai ke-12 di Lobu Tua, Barus telah terdapat perkampungan multi-etnik terdiri dari etnik Tamil, Cina, Arab dan sebagainya (Kumar, 2011:1).

Barus, yang merupakan bandar niaga internasional di masa lalu tidak jauh dari Kelasan, yang berada di pegunungan Bukit Barisan dan dulu menjadi persinggahan para pedagang yang datang dari Kailasem di pegunungan Himalaya, India. Oleh karena itu, bukan tidak mungkin bahwa penduduk Kelasan yang sekarang dikenal sebagai salah satu suak di Tanah Pakpak adalah keturunan dari hasil percampuran mereka. Orang-orang Tamil ini juga masuk terutama ke daerah Simsim dan Boang.  Inilah yang menyebabkan adanya anggapan  bahwa orang Pakpak berasal dari India. Apalagi di lapihen laklak Pakpak (buku laklak dari kulit kayu) ada tertulis "Enmo tambo si Sewu si roh Indiha nari arap-arapen kayu mbellen sah mi Barus" (inilah tambo si Sewu yang datang dari India dengan memakai rakit kayu besar sampai ke Barus).

2.    Keberadaan Mejan Kini
Mejan tetap masih ada ditemukan di wilayah Tanah Pakpak meskipun sudah lumayan banyak juga yang hilang dicuri orang. Setidaknya di daerah seperti Tungtung Batu,  Berampu, Bangun, Tinada, Kerajaan, Kuta Nangka, Kuta Deleng, Kuta Kersik, Penanggalan, Lebuh Simangun, Lebuh Nusa, Ronding, Sibande, dan Kaban Tengah patung ini masih ada sampai sekarang. Di luar Dairi dan Pakpak Bharat ada juga  di daerah Parlilitan, Humbang Hasundutan (berbagai sumber).

Menurut data dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pakpak Bharat bahwa mejan tersebut ada di daerah sebagai berikut: Mejan Berutu Kuta Ujung dan Mejan Kesogihen di PardomuanMejan Berutu Ulu Merah  dan Mejan Berutu Tandak  di Ulu Merah,  Mejan Berutu Kuta Kersik dan Mejan Marga Sinamo di SilimakutaMejan Bancin Penanggalan Jehe  di BoangMejan Boangmanalu  di BoangmanaluMejan Manik Arituntun dan Mejan Manik Aornakan Tao di AornakanMejan Manik Lagan dan Mejan Manik Gaman    serta Mejan Gajah  di Simerpara, Mejan Manik Kecupak di Kecupak I, Mejan Sanggar dan Mejan Pandua di Pangindar, Mejan Marga Sinamo Siantar Julu di Perongil, Mejan Padang di Jambu, Mejan Padang Kuta Babo di Kuta Babo, Mejan Solin Lae Meang di Mahala, Mejan Solin Tamba di Majanggut II, Mejan Solin Kuta Delleng dan Mejan Tinendung di Sukarame.
             
Mejan, sebagaimana telah dikemukakan di atas, adalah kekayaan budaya Pakpak, sehingga perlu dijaga dan dipelihara dari usaha-usaha pencurian dan perusakan. Pemerintah dan masyarakat harus bekerja sama untuk menjaga dan memelihara mejan-mejan yang masih tersisa. ***



Telah dimuat di:
Harian BATAK POS
Edisi Sabtu, 05 Januari 2013