Jumat, 12 Oktober 2012

SEKILAS KEBUDAYAAN BATAK TOBA SAMOSIR



SEKILAS KEBUDAYAAN BATAK TOBA SAMOSIR
Bumi, Sejarah dan Masyarakat

Bumi
Tano Batak atau tanah Batak meliputi daerah seluas 50.000 km2, berpusat di Tao Toba (danau Toba) dan sebagi­an dari pada pegunungan Bukit Barisan di propinsi Suma­tera Utara.
Terletak pada ketinggian 900 m, danau Toba adalah da­nau bekas kawah gunung berapi yang terluas di dunia, lagi pula danau yang terbesar di Asia Tenggara: permukaannya kira-kira 1300 km2, hampir dua kali luas permukaan danau Leman, dengan kedalaman sampai 450 m.
Danau itu dikelilingi oleh sederetan gunung berapi Bukit Barisan, dengan puncak-puncak yang mencapai ketinggian kira-kira 2000 m di atas permukaan laut. Puncak yang pa­ling terkenal adalah puncak Pusuk Buhit, menurut do­ngeng tempat asal suku Batak serta kediaman dewatanya. Menurut cerita, tempat tinggal pertama suku bangsa Batak adalah Si Anjur Mula-mula, yang terletak di sebelah barat lereng Pusuk Buhit yang disebut tadi. Danau Toba sendiri menurut dongeng orang Batak terjadi akibat suatu kutukan dewa, yang menengge­lamkan desa daerah tersebut karena tidak ditepatinya suatu janji yang suci.

Ada berbagai versi cerita itu, akan tetapi pada umumnya cerita itu menyimpulkan hal yang sama tentang asal usul tempat tinggal nenek moyang suku Batak (Si Raja Batak), yaitu di pulau Samosir, yang luasnya 630 km2 dan terletak di tengah danau Toba. Samosir sebenarnya adalah suatu se­menanjung, tetapi ketika orang Belanda pada awal abad ke­20 menggali sebuah terusan yang menyebabkan hubungan semenanjung tadi dengan daratan terputus, maka Samosir menjadi pulau.
Terusan tersebut dapat dilalui oleh kapal. Sekarang ada jalan aspal dan jembatan di atas terusan, se­hingga Samosir dapat dicapai dengan mobil. Suku Batak kemudian berkembang dari pusat asal itu sampai ke daerah pesisir barat Sumatera, antara Barus dan Sibolga, yang di­sebut "tirta nan indah" ("tapian na uli" asal nama Tapanu­li). Kira-kira bersamaan waktunya, suku serumpun dengan suku Batak mendatangi pulau Nias di seberang Sibolga, di mana kebudayaan megalitik dikembangkan.  .

Melalui pesisir inilah, terutama daerah Barus, suku bang­sa Batak sejak dini meng-adakan hubungan dengan orang India, kemudian dengan orang Persia dan Arab, serta akhirnya dengan orang Eropa.
Meskipun demikian, hubungan yang dini ini tidak berke­lanjutan dengan masuknya orang asing tersebut ke peda­laman. Walaupun ada perdagangan yang giat, hingga sekarang terbukti dengan adanya peninggalan porselen Tiongkok yang disimpan sebagai pusaka oleh suku Batak, ciri yang menonjol dari sejarah suku ini adalah berhasilnya ~ mereka mempertahankan pengasingan dirinya, sehingga berabad-abad lamanya tidak dikenali dunia luar.
Jika dilihat dari segi bumi dan sejarah, maka pengasing­an ini menjadikan tanah Batak semacam suatu "pulau" ter­pencil di pedalaman.

.
Sejarah
Sampai berabad-abad lamanya orang Batak berhasil mempertahankan swadayanya di bidang politik, kebudaya­an dan agama, meskipun mereka bertetangga dengan ma­syarakat Islam, baik di utara (Aceh) maupun di selatan (Mi­nangkabau). Proses islamisasi dae­rah selatan tanah Batak, yaitu daerah Mandailing, sudah mulai jauh sebelum hubungan pertama dilakukan antara orang Batak dengan dunia moderen. Proses islamisasi terse­but terjadi selama perang Paderi (1820 - 1837).
Pengasingan tanah Batak berlangsung sampai perte­ngahan abad ke-19. Pada tahun 1847, seorang ahli ilmu bu­mi berkebangsaan Jerman, Junghuhn, masih sempat me­nulis bahwa adanya danau Toba hanyalah suatu dongeng­an. Baru pada tahun 1853 danau ini "ditemukan" oleh seo­rang penyiar agama Kristen berbangsa Belanda, N. van der Tuuk.
Semenjak itulah sejarah dan hubungan suku Batak de­ngan dunia luar berkembang dengan pesat, setelah pada tahun 1861 seorang pendeta Jerman, Nommensen, yang kemudian terkenal dan tercatat secara abadi dalam sejarah Batak, menetap dalam rangka menyebarkan agama Kristen di sana.
Jauh sebelum berhubungan dengan para penjelajah dan misionaris Eropa, pusat suku Batak sejalan dengan waktu berpindah dari Pusuk Buhit dan pulau Samosir menuju ke tepi tenggara danau Toba, atau tepatnya ke lembah Bakka­ra.

Di Bakkara inilah berdiam kepala atau Raja pendeta suku Batak yang sangat terkenal, Si Singamangaraja. Kekuasa­annya diakui oleh semua kepala suku atau raja di seluruh tanah Batak. Konon Si Singamangaraja tersebut mempunyai beberapa kesaktian: dapat berkelana selama tujuh bulan tanpa makan, dapat meng-atur curah hujan dan membuat mata air, dapat melumpuhkan lawan hanya de­ngan pandangan matanya dan menaklukkannya dengan menjulurkan lidahnya yang berbercak bulu hitam. Selain menjadi raja sukunya, ia sekaligus merupakan bapak, bah­kan ompung (kakek) yang senantiasa melindungi dan men­jaga persatuan dan keadilan. la juga seorang pendeta yang menjaga keserasian hubungan dengan para dewata dan Dewa Tertinggi. la sendiri dianggap sebagai keturunan dan perantara dewata. Gagasan kepercayaan seperti ini menje­laskan mengapa dia sendiri juga dianggap sebagai dewata dan dipuji sebagai Dewa Raja.
Si Si­ngamangaraja, sebagai Raja ia mempunyai panglima perang yang bernama Ompu Babiat (Harimau), ia dikubur di kampung Harianboho – Samosir dan ia merupakan ompung (kakek) penyair / budayawan Sitor Situmorang.  
Sayang kesaktiannya Si Si­ngamangaraja ini tidak dapat mencegah pengam­bil alihan kekuasaan daerah Bakkara oleh tentara Belanda pada tanggal 30 April 1878, dalam  suatu serangan balas dendam yang berkobar sehubungan dengan terbunuhnya seorang pegawai pemerintah Belanda. Pihak serdadu Belan­da membakar dan menghancurkan desa-desa, sehingga Si Singamangaraja terpaksa mengungsi. Setelah melakukan perang gerilya selama 30 tahun, baru pada tahun 1907 Si Si­ngamangaraja XII akhirnya wafat, , akibat terbunuh dalam suatu pertempuran melawan Belanda. Pada saat penyusun­an naskah ini (1984), masih ada yang dapat menyan­dang gelar Si Singamangaraja XV, yang berdiam di kota Medan.
Setelah misionaris Nommensen, yang telah masuk ke ta­nah Batak lebih awal dari pada pihak militer Belanda, misio­naris lainnya menyusul dan melanjutkan usaha penyebaran agama Kristen serta mengubah kepercayaan suku Batak, yang sampai pada permulaan abad ke-20 masih menganut kepercayaan animisme.
Kepercayaan animisme ini dapat diketahui karena orang Batak memiliki tulisan (surat Batak) dengan aksara yang ber­asal dari India, sehingga ada peninggalan naskah-naskah tulis yang mencatat segi kemasyarakatan,dan kepercayaan suku tersebut di masa yang lalu. Selain itu, dari cerita dan catatan para pedagang dan penjelajah pertama telah dipero­leh keterangan yang sangat berharga. Tanpa catatan mere­ka ini, maka keterangan mengenai suku Batak mungkin ti­dak akan dikenal oleh dunia luar, atau akan hilang begitu saja. Berkat keterangan yang dikumpulkan, baik dari orang Batak sendiri maupun dari orang asing, maka sekarang ini kita mendapat pengetahuan yang cukup jelas mengenai se­gi duniawi dan rohani suku ini sebelum masuknya agama Islam (untuk penduduk daerah sebelah selatan) atau agama Kristen (untuk penduduk daerah sebelah utara).

Masyarakat
Tanah Batak tidak mempunyai batas wilayah yang jelas, dan ada daerah pem-bauran antara suku Batak dengan su­ku-suku tetangganya, baik di sebelah utara maupun barat dan selatan.
Wilayah Toba meliputi pulau Sa­mosir dan bagian selatan pesisir danau Toba, wilayah Si­malungun di sebelah utara wilayah Toba, wilayah Karo di sebelah barat laut, wilayah orang Dairi atau Pakpak di se­belah barat, wilayah Angkola dan Mandailing di sebelah selatan. Dapat pula disebutkan kelompok Pardembanan Batak, yang mendiami wilayah sebelah timur danau Toba, tepatnya di daerah Asahan. Perbatasan berbagai kabupaten sekarang ini kira-kira ju­ga mengikuti pola pengelompokan suku-suku tersebut. Berbagai kelompok ini membentuk suatu kesatuan yang hampir sama dilihat dari sudut bahasa, yang dapat dibeda­kan atas dua kelompok utama: bahasa Toba, serta logat Angkola dan Mandailing yang serumpun (kelompok baha­sa selatan); bahasa Karo, bersama logat Dairi dan Pakpak yang serumpun (kelompok bahasa utara).
Sementara itu bahasa yang dipakai di Simalungun meru­pakan perpaduan kedua bahasa tersebut di atas. Pembagi­an kelompok yang demikian ini berlaku juga di bidang lain, seperti misalnya pola masyarakat dan tempat tinggal.
Jumlah penduduk suku bangsa Batak kira-kira tiga sam­pai tiga setengah juta orang, kira-kira separuhnya adalah orang Toba. Daerah kediaman orang Toba yang merupa­kan pusat tanah Batak, dan sekaligus pusat seni dan bu­daya Batak yang paling khas dan paling terkembang. Keutamaan tanah Toba sebagai wakil kebudayaan Batak tidak perlu diragukan,
Dari segi agama, kebanyakan orang Batak beragama Kristen: kira-kira dua juta beragama Protestan, dan sekitar 300.000 beragama Katolik. Orang Batak yang beragama Islam berkisar antara 500.000 sampai lebih dari satu juta, tergantung dari cara wilayah Batak diberi batas, terutama ke arah timur dan selatan. Selain itu, masih terdapat 200.000 penganut animisme, tetapi jumlah ini tidak pasti, karena masih adanya tingkat dan derajat dalam peralihan kepercayaan animisme menjadi monoteisme (mengakui keesaan Tuhan) yang dianut sekarang.
Akhirnya, selain agama pokok tersebut di atas masih ada kepercayaan asli lain sepefti Pormalim, suatu perpaduan antara kepercayaan animisme dan beberapa unsur agama Islam yang lahir pada abad yang lalu, dan masih mempu­nyai beberapa penganut.

Beberapa Ciri Khas Kebudayaan Asli Batak

Kebudayaan Batak adalah hasil pembauran kebudayaan pra-Hindu lama dan pengaruh dari India, yaitu agama Bu­dha dan Hindu, yang muncul pada abad ke-5.
Sejak abad ke-12 dan ke-13, sampai permulaan abad ke­20, kebudayaan ini boleh dikatakan luput dari pengaruh asing.
Kebudayaan pra-Hindu dapat disebut kebudayaan mega­litik kuno yang menjadi asal ciri-ciri khas seni dan budaya Batak sekarang.
Di antara beberapa ciri-ciri khas seni dan budaya Batak tersebut, yang pertama sekali harus disebutkan ialah kebu­dayaan megalitik ("batu besar"). Peninggalan kebudayaan megalitik ini sampai sekarang masih ada dalam bentuk kepala singa besar sebagai hiasan makam jaman sekarang. Pengaruh kebudayaan ini juga tercermin pada bentuk atap rumah berbentuk tanduk kerbau, sebagaimana bentuk ru­mah yang terlihat pertama kali pada nekara perunggu yang dijumpai dalam kebudayaan Dong-Son, yang dulu berkembang sejak abad ke-3 sebelum Masehi dari bagian utara Indocina ke seluruh Asia Tenggara. Patung manusia dengan sikap jongkok adalah juga salah satu pengaruh ke­budayaan megalitik, patung berbentuk sama juga ditemukan pada suku Naga di Assam, di Vietnam, Muangthai, Filipina, Toraja, Dayak dan pulau-pulau di Indonesia bagian Timur sampai ke kepulauan di Pasifik. Pendek kata pengaruhnya tersebar ke setiap daerah Asia Tenggara di mana terdapat sisa kebudayaan pra-Hindu. Pengaruh kebudayaan megalitik terlihat juga pa­da corak kesenian suku Batak serta pola kemasyarakatan, adat-istiadat, keper-cayaan dan agamanya.
Kebudayaan kuno ini juga ditemukan di pulau Nias. Se­dangkan daerah Pasemah di Sumatera Selatan, yang telah memiliki kebudayaan tersendiri yang sangat berbeda, tidak luput dari pengaruh kebudayaan kuno ini, meskipun ke­sannya hanya sedikit sekali.
Yang sangat mengejutkan penjelajah tanah Ba­tak pertama dari Eropa pada abad ke-19 ialah adanya kanibalisme "makan orang", suatu kebiasaan yang mungkin sudah ada sejak dahulu kala. Kalau kita melihat lebih jauh ke bela­kang, sebagian besar peradaban di dunia pernah mengenal kanibalisme, entah kebiasaan itu mempunyai makna tersen­diri untuk mendapatkan berkat atau perlindungan dari almarhum, atau mempunyai arti sebagai penangkal malapetaka, dengan menelan zat yang terkandung dalam salah satu bagian tubuh orang yang sudah meninggal. Ka­lau sekarang banyak orang menganggap bahwa upacara komuni dalam agama Kristen adalah bekas semacam upa­cara kanibalisme keagamaan, tidak demikian halnya pada abad ke-19, karena penjelajah pada saat itu sangat melebih­lebihkan makna dari pada kebiasaan tersebut.
Sulit untuk mengetahui secara tepat berapa besar penga­ruh India dalam kebu-dayaan megalitik: perihal apakah kani­balisme mungkin berasal dari India atau tepatnya pengaruh Budha Tantrayana, masih dalam pembahasan. Pengaruh India, baik itu besar maupun kecil, sempat menyelusup ke seluruh kepulauan Nusantara dan masih dapat dikenali, walaupun hanya di Jawa dan di Balilah pengaruh itu sam­pai sekarang masih merupakan ciri budaya utama. Penga­ruh ini sampai pada suku Batak tidak saja melalui daerah pesisir, tetapi juga dari selatan tanah Batak.
Puing-puing dari abad ke-11 dan ke-12 di Padanglawas, kabupaten Ta­panuli Selatan, merupakan bukti bagaimana jauhnya jang­kauan kerajaan Sriwijaya pada waktu itu. Sampai pada akhir abad ke-13, kerajaan Budha yang berpusat di “Palem­bang” ini berhasil menguasai sebagian besar Sumatera dan semenanjung Melayu.
Pengaruh India secara langsung, ataupun tidak langsung melalui kebudayaan Hindu-Jawa atau Hindu-Sumatera ini, memegang peranan penting dalam pem-bentukan kebu­dayaan Batak.
Pengaruh itu menurut peneliti Belanda, Gonda, terutama tampak dalam bahasa Batak, yang hampir 10% dari perbendaharaan kata-katanya berasal dari bahasa Sanskerta. Beberapa kata di bawah ini adalah contoh bukti adanya pengaruh bahasa Sanskerta, kemungkinan besar le­wat bahasa Melayu:

Sanskerta
Melayu
Batak
Hari
Hari
Ari
Arta
Harta
Arta
Agama
Agama
Ugamo
Arga
Harga
Arga
Dosa
Dosa
Dosa
Pustaka
Pustaka
Pustaha
Sri
Seri
Sori
Guru
Guru
Guru
Maharadja
Maharaja
Mangaraja
Kuta
Kota
Huta

Pengaruh bahasa Sanskerta lebih jelas terlihat pada tulis­an Batak, yang diambil langsung dari aksara India, seperti tulisan Jawa dan Bali, atau Bugis dan Makasar.
Penting diketahui bahwa orang Batak mempunyai sastra tertulis dalam bahasa dan aksara sendiri: sastra ini terdapat dalam pustaha (pustaka).
Pengaruh India dapat juga terlihat dalam segi agama: Brahma dan Wisnu dikenal suku Batak dengan nama Bor­ma dan Bisnu, Binatang keramat seperti singa dan kadal (Boraspati) yang akan dibicarakan nanti, juga di­ambil dari bahasa India: singha dan Bhraspati.
Demikian pula pengaruh India yang jelas terlihat dalam penanggalan dan ilmu bintang, kitab mantera dan ilmu gaib, dan juga dalam bidang bunyi-bunyian dan tari-tarian (seperti misalnya tari kuda-kuda).
Akhir kata, kenyataan bahwa orang Batak menganggap angka tujuh itu keramat mungkin juga boleh disebabkan oleh karena pengaruh India. Angka ini memang meme­gang peranan tersendiri dalam kebudayaan kuno di Timur Tengah (Sumeria, Babilonia, Yahudi, dan lain-lain) serta dalam kebudayaan yang merupakan ahli warisnya, seperti khususnya kebudayaan Yunani, Kristen dan India. Orang Batak percaya bahwa langit mempunyai tujuh lapisan, Si Singamangaraja yang pertama berada dalam kandungan ibunya selama tujuh tahun sebelum dilahirkan, pernikahan dibarengi dengan masa tabu selama tujuh hari, "pembap­tisan" dilakukan bila anak sudah berumur tujuh hari, tang­ga masuk rumah atau rak penyimpanan mempunyai tujuh anak tangga atau bertingkat tujuh, dan masih banyak con­toh lain yang menun-jukkan peranan khusus angka tujuh keramat ini dalam kepercayaan orang Batak.
Di samping kebudayaan megalitik lama dan pengaruh da­ri India yang menentukan beberapa ciri khas kebudayaan Batak, kebudayaan ini mempunyai kekhasan ter-sendiri, baik dari segi kemasyarakatan dan kekerabatan, maupun kepercayaan dan agama. Mengingat benda budaya adalah bentuk nyata suatu ke­budayaan, ada kecenderungan untuk dapat menentukan apa yang disebut sebagai corak atau gaya khas Batak. Na­mun corak tidak mudah diuraikan hanya dengan kata-kata.
Bila tetap harus dijelaskan, maka dapat dikatakan bahwa corak Batak sifatnya sederhana dan tegas, baik pada pahat­an kecil maupun besar, yang disertai ataupun tanpa hiasan pola geometris. Sebagai motif hiasnya, sering digunakan pilin berganda atau bentuk sulur sebagai pengisi ruang yang dapat dihias.
Terra juga dapat dipakai sebagai salah satu unsur untuk menjelaskan benda dari suatu kebudayaan tertentu. Perlu kiranya diuraikan secara singkat mengenai terra itu sebe­lum lebih lanjut menggambarkan garis besar kebudayaan Batak.
Di antara terra-terra ke­budayaan Batak, yang jelas paling banyak ditemui adalah terra singa. Tema lain juga secara agak luas dipakai, seperti misalnya kadal, gajah dan burung. Namun yang akan dibi­carakan adalah dua terra yang paling sering digunakan, yaitu singa dan kadal.

Dua pola hiasan yang umum dipakai Singa
Semua orang sudah mengenal lambang kota Singapura, yang namanya berasal dari bahasa Sanskerta. Namun singa Batak tidak mewujudkan secara utuh binatang nyata yang ada. Binatang ini adalah unsur kebudayaan Toba yang pen­ting. Penggambarannya paling sering hanya mengambil bagian mukanya, dan rupanya beraneka ragam antara bentuk kepala kerbau (malah kadang-kadang ditemukan singa yang bertanduk, dan kepala ma­nusia dengan bentuk yang tidak berkese-imbangan ukuran­nya: beberapa singa memperlihatkan dengan jelas kaki yang berdampingan dengan kepala, dan semua macam pembauran antara singa dan manusia dapat ditemukan.
Mengenai pertanyaan apakah penggambaran singa itu ada­lah bentuk singa atau harimau, kiranya tidaklah perlu terla­lu dipersoalkan.
Bentuk patung kepala singa berbagai ragam, tetapi ciri-ci­ri yang tetap ada ialah: simetri pada kedua bagian, muka panjang, mata membelalak, alis mata yang tebal menyeru­pai tanduk.
Pernah ada singa yang digambarkan mirip kepala gajah, disebut gaja dompak, biarpun kemiripannya tidak selalu jelas. Te­tapi di samping itu ada juga gajah yang dengan sangat jelas dipakai sebagai motif hias untuk beberapa perlengkapan, seperti gagang pisau.
Bagaimanapun juga singa adalah tema hias utama orang Batak, khususnya -dl Toba. Tema ini terlihat sebagai motif hias rumah, perabotan rumah-tangga, peti mati dari kayu, batu makam, perhiasan-dari kuningan dan tanduk tabung peluru.
Karena terdapat dimana-mana, tema ini kiranya mempunyai peranan pelindung.

Kadal
Kadal (ilik atau Boraspati ni Tano) juga banyak dipakai sebagai tema hias Batak, baik di Karo sebagai motif peng­hias dinding kiri-kanan pintu masuk rumah, maupun di Toba sebagai motif hias pada patung batu, seperti "gudang perahu" di Panjo-muran dan Pagar Batu pintu sopo dari kayu yang diukir, kulit luar pustaha, tanduk pe­nyimpan peluru, tabung mesiu, atau perhiasan dari kuningan.
Boraspati ni Tano merupakan salah satu unsur kayangan Batak yang sekaligus melambangkan kemakmuran, kesu­buran tanah dan dunia bawah. la hampir selalu digambar­kan dengan kepala yang seolah-olah muncul dari dunia ba­wah untuk bergabung dalam dunia tengah, yaitu dunia ki­ta.
Namanya sendiri diambil dari bahasa Sanskerta "brihas­pati", yang menunjukkan sifat kedewaannya, karena nama itu dipakai oleh orang India untuk menyebut bintang Yupi­ter.
Ia juga merupakan salah satu dari tiga dewa yang bersa­ma dengan Boru Saniang Naga, dewa ular air, dan Debata Idup, dewa rumah.
Kepercayaan pada trimurti ini merupakan pokok dari pa­da kepercayaan Sipelebegu suku Batak, sebelum memeluk salah satu agama yang mengakui keesaan Tuhan: Islam atau Kristen. Selanjutnya akan diperlihatkan bahwa ada juga semacam trimurti yang lain di kayangan Batak, yaitu anak-anak dewa tertinggi Mulajadi na Bolon.

Marga

Salah satu ciri kebudayaan yang paling menonjol dari masyarakat Batak adalah susunan kekerabatan mereka da­lam marga. Pada mulanya setiap marga tinggal di satu huta (desa). Toga ialah sebutan untuk kelompok marga dari satu keturunan, dan bius ialah sebutan untuk kesatuan desa-de­sa yang dihuni marga satu keturunan.
Bius yang paling disegani ialah Bakkara, tempat tinggal marga Sinambela, yang kepala sukunya adalah Si Singama­ngaraja. Sebelumnya, telah diterangkan peranannya seba­gai Raja suku Toba dan sekitarnya.

Marga sejak dulu sampai sekarang memegang peranan penting dalam hubungan masyarakat dan kekerabatan Ba­tak. Kata "Horas" dipakai sebagai tegur sapa pada setiap orang yang dijumpai, yang disambung dengan pertanyaan "Anda dari marga mana?", apabila orang tersebut belum di­kenal.
Pentingnya menjadi bagian dalam kelompok kekerabat­an ini tercermin dari penulisan nama diri orang Batak: nama kecil dan nama keluarga sering disingkat-kan, se­dangkan nama marga ditulis penuh, menunjukkan penting­nya peranan rnarga sebagai "keluarga besar". Misalnya, pe­nulis mencantumkan nama Jamaludin S. Hasibuan: Jama­ludin adalah nama kecilnya, "S" adalah singkatan dari So­juangon, nama keluarganya, sedangkan Hasibuan adalah marga ayahnya, yang nenek moyangnya bernama Si Raja Hasibuan, asal Sigaol, daerah Uluan di wilayah Toba, yang kemudian bermukim ke daerah lembah Silindung, terus ke Padang Bolak dan Tapanuli Selatan.






.


Sebagai contoh akan disebut beberapa marga besar di Toba:

Bius                   Marga           Bius                           Marga
Onan Runggu     Nainggolan     Dolok Sanggul         Simamora
Pangururan        Nadeak          Si Borong-Borong    Hutasoit

Bius
Marga
Bius
Marga
Tarutung
Lumbantobing
Laguboti
Sibarani
Balige
Tampubolon
Sigaol
Butarbutar
Harianboho
Situmorang
Sabulan
Lumbantoruan
Simanindo
Sidauruk
Sibandang
Aritonang
Urat
Sinaga
Haunatas
Pasaribu
Bakkara
Sinambela



Orang Karo mempunyai lima marga pokok: Karo-karo, Tarigan, Ginting, Perangin-angin dan Sembiring.
Setiap marga dibagi lagi dalam kelompok, dan secara ke­seluruhan mencapai jumlah 300 marga yang membentuk sa­tu masyarakat Batak.
Bila pada mulanya tiap marga mendiami suatu wilayah tertentu, tidak demikian halnya sekarang ini.
Meskipun demikian, masih dapat dikatakan tanpa ragu bahwa seseorang yang marganya adalah Nasution atau Lu­bis berasal dari Mandailing, Harahap atau Siregar, dari daerah Angkola (walaupun nama ini terdapat juga di barat daya Toba), Panggabean, dari lembah Silindung, Sitorus atau Simanjuntak dari pesisir danau Toba, Nainggolan, da­ri pulau Samosir, bila hanya disebut nama yang sangat se­ring ditemui.
Untuk dapat memahami arti marga, penting sekali diketa­hui bahwa semua marga berasal dari dua marga induk, yaitu Sumba dan Lontung. Kedua marga induk ini diperkirakan berasal dari kedua putera Si Raja Batak, Raja pertama dari suku Batak, yang masing-masing bernama Guru Tateabu­lan dan Raja Isumbaon.
Si Raja Batak sendiri dianggap sebagai cucu Raja Ihat Manisia, yaitu manusia Batak pertama keturunan dewa, se­hingga semua orang Batak dapat mengaitkan asal usul ke­turunan mereka dengan manusia pertama tadi.
Hal ini mungkin dapat menerangkan mengapa orang Ba­tak mempunyai kegemaran akan segala hal yang berhubungan dengan asal usul keturunannya. Adalah suatu ke­wajiban bagi seorang Batak mempelajari nama nenek­-moyangnya. Bahkan sekarang pun, jika kita bertanya pada salah seorang penduduk suatu desa untuk menerangkan asalnya, ia akan langsung dapat menyebutkan secara terpe­rinci nama nenek moyangnya sampai empat atau lima, bahkan tujuh turunan ke belakang.
Sewaktu agama Nasrani masuk terutama ke Toba, Sima­lungun, Karo dan Pakpak, dan agama Islam memasuki Angkola dan Mandailing, ada orang Batak yang berhasil membaurkan kepercayaan asli mengenai silsilah ini dengan kepercayaan agama yang baru masuk tersebut. Raja Ihat Manisia dimasukkan ke dalam keturunan Daud, ditelusuri lebih ke belakang sampai pada Ishak, Ibrahim, Nuh, dan akhirnya Adam dan Hawa.

Kekerabatan
Pandangan orang Batak bahwa marga membentuk satu keluarga menimbulkan ketentuan ketat dalam perkawinan. Seorang pria harus mengawini perempuan dari marga lain. Ga­ris keturunan orang Batak menurut garis keturunan ayah, artinya susunan patrilineal. Tata ini ketat, perempuan yang su­dah kawin meninggalkan marganya, dan anak-anaknya se­cara langsung menyandang marga suaminya.
Bagi orang Batak, hanya keturunan laki-laki yang dianggap penting.
Kelangsungan eksogami (kawin di luar kelompok) dan pa­trilineal ini namun juga dilengkapi dengan adanya hubung­an antar marga melalui kaum perempuan yang agak rumit dipa­hami.
Sebagai akibat dari pada kebiasaan kekerabatan ini, se­tiap pria Batak sekaligus masuk dalam tiga "kelompok ke­dudukan": dongan sabutuha, hula-hula dan boru, yang mem­bentuk apa yang disebut dalihan na tolu.
Dongan sabutuha, sebagai kelompok pertama, terdiri dari namarsaompu  yaitu segenap keturunan dari nenek moyang yang sama, dengan pengertian keturunan laki-laki dari sa­tu marga. Kelompok kedua, hula-hula, adalah marga ayah mertua seorang pria, yang "memberikannya" isteri. Kelom­pok ketiga, boru, adalah marga menantu laki-laki si pria itu, dengan kata lain, marga yang "menerima" anak perem-pu­annya sebagai isteri.
Hubungan antara boru dan hula-hula, yang diberi nama umpungka partondongan, tidak saja melibat ayah, ibu, dan sang anak, tetapi juga menjalin hubungan yang kekal aba­di, baik antara anak dan keturunannya, maupun anta­ra anak tersebut serta keturunannya, dan keturunan dari pada ayah sang ibu.
Adatlah yang mengatur pantangan dan anjuran dalam pemilihan jodoh, asalkan jodoh itu dari marga lain. Oleh karena itu, seorang laki Batak akan mengutamakan pilihan isteri dari marga ibunya, dan yang paling diidam-idamkan adalah mengawini puteri saudara laki-laki ibunya (boru tu­lang).
Di samping itu, orang Batak mempunyai kebiasaan mono­gami (beristeri hanya satu saja) jauh sebelum masuknya agama Nasrani dan Islam. Namun terdapat beberapa pe­ngecualian yang diterima adat, seperti perkawinan seorang janda dengan adik suaminya, walaupun sang adik sendiri sudah menikah.
Seluruh bentuk kekerabatan dan hubungan sosial ini ten­tu berkaitan dengan kepercayaan asli orang Batak, yaitu gagasan yang sudah dianut sebelum masuknya agama Nasrani maupun Islam, dan yang sampai sekarang di sana­sini masih terlihat peninggalannya.
Beberapa peneliti mencoba melihat lebih dalam akan arti dalihan na tolu yang baru dijelaskan di atas, sebagai hu­bungan sosial yang menggambarkan ketiga dewa Debata na Tolu yang akan dibicarakan kemudian.
Soripada melambangkan dongan sabutuha, Batara Guru melambangkan hula­hula, dan Mangalabulan melambangkan boru. Kesimpulan bahwa bentuk kekerabatan Batak adalah semacam pencer­minan susunan dunia dewata itu sebenarnya lemah, oleh karena tidak dianut oleh suku Batak sendiri, paling tidak oleh orang Batak sekarang.

.
Upacara papurpur sapata dan tortor si gale-gale
Nasib paling buruk yang dapat menimpa seorang Batak adalah meninggalkan dunia fana ini tanpa keturunan, khu­susnya laki-laki. Dengan demikian, rohnya (begu) ter-paksa berkelana selama-lamanya di dunia tengah, tanpa adanya keluarga yang dapat memujanya, dan memberinya sajian serta makanan yang dapat memuas-kannya. Nasib yang demikian tidak saja merupakan suatu malapetaka bagi men-diang yang malang ini, melainkan bagi anggota kelompok­nya sedesa atau semarga juga. Begu yang kecewa dan ber­kelana ini akan merupakan ancaman bagi mereka.  
Untuk mengatasi ancaman ini, masyarakat Toba menjalankan suatu upacara kematian khusus, yang dinamakan papurpur sapata.
Dalam upacara ini, sebuah boneka dari kayu sebesar manusia, yang dikenakan pakaian Toba, termasuk ulos,  dan disebut si gale-gale, digerak-gerak­kan untuk melakukan tarian kematian khusus, yang dise­but tortor si gale-gale. Tujuan tarian ini adalah memberi ke­puasan sekaligus meredakan kekecewaan mendiang, mela­lui boneka yang melambangkan keturunan yang tidak ada padanya.
Si gale-gale ini dipancangkan di atas sebuah kotak kayu, dan digerak-gerakkan melalui tali-temali yang disembunyi­kan dalam kotak tersebut.
Dahulu kala seorang datu  yang mendapat kehormatan menarik tali-tali tersebut, dan menari-narikan si gale-gale itu. Perakitan penggerak si gale-gale begitu lengkap, sehing­ga boneka tidak saja dapat menggerakkan jari, tangan dan kakinya, tetapi juga memutar-mutar kepalanya, bahkan membuka dan menutup matanya. Boneka yang aneh ini sekarang sangat jarang ditemukan karena menurut adat, begitu upacara kematian usai boneka tersebut harus dihan­curkan.
Boneka dan tarian ini khusus terdapat di beberapa desa pesisir danau Toba, terutama di pulau Samosir. Suatu per­tunjukan yang menggambarkan kembali upacara lama tor­tor si gale-gale ini disajikan kepada para wisatawan yang mengunjungi "desa museum" Simanindo. Betapa pun ku­rang sempurnanya, namun pertunjukan ini merupakan sa­lah satu usaha untuk menggambarkan upacara yang cukup aneh ini pada pengunjung di tanah Batak

Tongkat berukir: tunggal panaluan dan tunggal malehat
Hampir setiap naskah atau karangan mengenai kebu­dayaan dan kepercayaan suku Batak sangat mengutama­kan tongkat-tongkat berukir, yaitu tunggal panaluan (di To­ba) atau tungkal penalun (di Karo), dan tunggal malehat (di Toba) atau tungkal malaikat (di Karo).
Ketenaran benda-benda ini, bagi orang yang pernah me­naruh perhatian pada kehidupan dan kepercayaan orang Batak, dapat didasarkan pada dua hal: keindahan benda tersebut, yang pahatannya mirip dengan tiang totem, dan kesaktian yang diharapkan kepadanya.
Pertama sekali akan diuraikan berupa apa tongkat-tongkat itu, baru akan dijelaskan secara singkat apa maksudnya.
Tongkat-tongkat ini panjangnya berkisar antara 1,40 m dan 1,70 m, dengan garis tengah kira-kira 5 cm, dan diukir dalam kayu istimewa yang keras, yaitu kayu donggala atau piu-piu tangguli. Kayu yang keras dan berwarna agak ke­hitam-hitaman ini tidak mudah busuk atau rusak, mempu­nyai serat yang halus, serta mudah dipahat dan diukir, lagi pula makin tua makin indah warnanya.
Biasanya ujung bagian atas tongkat dihiasi dengan su­rai rambut kuda berwarna hitam, atau seikatan bulu ayam berwarna tiga (putih, merah dan hitam: bonang mana­lu). Surai ini biasanya menutup kepala manusia ukiran. Di bawah manusia ukiran paling atas, dijumpai bersusun ke arah bawah ukir-ukiran lainnya, berbentuk manusia dan binatang, di antaranya terdapat naga, ular, kadal, kadang­kadang kerbau atau gajah, dan sebagainya. Ular dan kadal sebagai lambang dunia bawah, biasanya ditemukan di ba­gian ujung bawah tongkat. Paling bawah akhirnya, ujung besi runcing mempermudah totem ukuran kecil ini ditan­capkan ke tanah. Jumlah tokoh ukiran yang ada pada se­tiap tongkat, berbeda-beda, umumnya dijumpai sebanyak tujuh, tetapi ini bukan suatu keharusan.
Perlu dicatat bahwa pada satu atau lebih pahatan yang tumpang tindih pada beberapa tongkat, ada lubang-lubang kecil persegi pada bagian dada atau perut, sebagai tempat pupuk yang dimaksudkan untuk "menghidupkan" tongkat tersebut.
Bentuk yang paling sering ditemukan adalah pahatan yang bertingkat, seperti pada totem orang Indian di Ameri­ka. Jenis ini disebut tunggal panaluan. Bentuk lainnya biasa­nya lebih kecil, dan jumlah pahatannya terbatas, serta ha­nya terdapat pada bagian atas saja: tongkat ini disebut tunggal malehat. Untuk singkatnya, maka yang akan dibica­rakan hanyalah jenis yang paling umum, yaitu tunggal pa­naluan.

Peranan dan penggunaan tongkat dapat disimpulkan da­ri makna kalimat Batak berikut ini:
"Si paro udan molo porlu, si antak udan molo pagodanghu, si lehon poda di uhum dohot pangarajaion, si ambat tahi ni pa­nangko dohot panyamun".

Tulisan ini dapat diterjemahkan sebagai berikut:
"Untuk mendatangkan hujan bila diperlukan, dan meng­hentikannya bila melimpah ruah, untuk memberi nasehat dalam hukum dan pemerintahan, serta menghindari mala­petaka, pencuri dan penyamun".

Kepercayaan Batak hanya mengakui satu tunggal pana­luan yang asli, yaitu yang dimiliki Si Singamangaraja sendi­ri. Tongkat-tongkat lainnya menurut cerita, hanyalah me­rupakan tiruan dari tongkat asli itu, pada umumnya hanya Raja terpenting dan kepala suku dari berbagai bius yang boleh memilikinya.
Hak memiliki benda keramat ini kemudian dari masa ke masa berlaku bagi Raja-raja lain dan bagi para datu, sementara tugasnya juga menjadi serba guna, sampai mengiringi ber­bagai ragam upacara, seperti upacara kematian dan pesta panen. Lama-kelamaan tongkat ini menjadi lambang pe­ngenal seorang kepala suku atau datu, pada saat memim­pin upacara sihir atau keagamaan.
Banyak penelitian sudah diadakan untuk mengetahui arti dan peranan tunggal panaluan. Agar tidak terlalu ber­larut-larut, maka yang akan disebutkan di sini adalah suatu ringkasan kesimpulan yang sudah dapat diterima umum. Tongkat ini dianggap sebagai perlambang ketiga dunia dari alam kepercayaan Batak: dunia atas, tengah dan  bawah. Ketrimurtian tunggal panaluan ini tercermin dari namanya (panaluan diperkirakan asalnya dari kata tolu, yang berarti "tiga"), sedang arti pahatan yang pada umum­nya terdapat padanya, membenarkan kesimpulan ini. Tongkat ini dapat dianggap sebagai penggambaran pohon kehidupan, yang ikut menghubungkan ketiga dunia yang disebut di atas.
Kesimpulan yang demikian sebenarnya sudah diseder­hanakan. Tidak termasuk di dalamnya kepercayaan mau­pun dongeng-dongeng Batak tentang tunggal panaluan, misalnya mengenai kejadiannya sebagai hasil cinta sum­bang antara seorang laki-laki dengan saudara kembar pe­rempuannya, atau sebagai penggambaran borotan (pohon yang digunakan untuk mengikat binatang, kadang-kadang manusia, yang akan dikorbankan). Bila borotan itu diang­gap sebagai penggambaran pohon kehidupan, maka ini ha­nya merupakan suatu pengertian yang sedikit saja berbeda dari yang mendasar, dan bukan suatu kesimpulan yang berlainan atau berlawanan.
Lepas dari segala permasalahan mengenai tunggal panalu­an, tongkat ini merupa-kan hasil seni rupa yang indah dan sangat mempesonakan. Orang masa kini mungkin sulit da­pat mempercayai, bahwa pupuk yang mengisinya dapat memberi pahatan ini jiwa hidup dan kesaktian, namun ha­rus diakui, pemahatnya yang tidak dikenal ini berhasil menciptakan karya seni yang mencerminkan hayat yang kuat dan mendalam.
Dengan melihat diharapkan para pemba­ca akan langsung memahami arti dari kata animisme, yang pada umumnya kurang nyata: pahatan pada ujung atas tunggal panaluan ini dapat menggambarkan lebih jelas dari pada melalui kata-kata, adanya "jiwa" yang bersemayam dalam tongkat itu, terasa meskipun tidak tersentuh. Selain mampu menakutkan musuh, jiwa itu dapat menyembuh­kan penyakit.
Dapat dibayangkan bahwa untuk menghasilkan dampak sekuat itu, seorang pemahat harus menciptakan karyanya dengan segala semangatnya, bila diingatkan bahwa kata "semangat" juga berarti "jiwa".

Buku suci atau pustaha
Pustaha, atau laklak termasuk perlengkapan terpenting dari seorang datu, berupa buku dari lempengan kulit kayu yang panjang (laklak, dalam bahasa Batak berarti kulit kayu), dilipat seperti wiru, dan diapit dua lempengan kayu yang diikat dengan sepotong tali, atau tali kulit halus.
Jumlah lipatan dan ukuran buku berbentuk segi em­pat tersebut bermacam-macam, dari 3 cm x 4 cm sampai 30 cm x 40 cm sedang panjangnya, bila direntangkan selu­ruhnya, paling besar dapat mencapai 5 meter.
Dalam pembuatannya, digunakan kulit lapisan dalam dari kayu jenis hau alim, yang terlebih dahulu direndam da­lam kanji, lalu diratakan dengan penokok dari kayu, se­hingga permukaannya cukup licin dan kuat. Lapis bawah ini oleh para ahli tumbuh-tumbuhan Barat disebut liber, yang dalam bahasa Latin sekaligus berarti "kulit kayu" dan "buku". Arti ganda ini menunjukkan bahwa rupanya ke­budayaan Barat kuno pun pernah memakai cara pembuat­an pustaha.
Pustaha ini berupa karya tulis dalam bahasa Batak, yang aksaranya berasal dari India, seperti telah disinggung sebelumnya.

Kain Tenun
Seni tenun di Nusantara termasuk yang paling kaya dan beraneka ragam di dunia. Hal ini terbukti baik dari hasil te­nunan Indonesia yang diperagakan di pelbagai museum dan koleksi di seluruh jagat, maupun dari banyaknya ka­rangan mengenai kesenian ini. Keanekaragaman cara me­nenun dan pola hiasan disebabkan, karena Indonesia terdi­ri atas pulau-pulau yang terpisah satu sama lain.
Rintangan alam ini memungkinkan berkembangnya kebudayaan dae­rah, dengan corak dan wataknya sendiri-sendiri.
Seperti telah diterangkan, tanah Batak merupakan sema­cam "pulau dipedalaman", dan tidak mengherankan bi­la dikembangkan kerajinan tenun dengan ciri khas tersen­diri akan tetapi, berbeda dengan daerah lainnya di Nusan­tara, tidak menun-jukkan pengaruh dari India maupun Tiongkok.
Orang Batak hanya menggunakan kapas murni sebagai bahan utama, dulu hasil daerah setempat. Benang tenun pada masa lalu - dan kadang-kadang juga sampai se­karang - dibuat dalam lingkungan keluarga, yang masing­masing memiliki alat pemilinnya sendiri. Alat ini (di Toba disebut pamintalan ni bonang) sering dihias dengan ukiran yang indah.
memberi keindahan tersendiri pada kain tenun lama, sesuatu yang tidak dapat diperoleh dengan warna buatan. Pentingnya pembuatan tenun, dilihat dari segi keagamaan, tampak dari mulainya pewarnaan benang itu. Di daerah Toba, tahap pekerjaan ini disertai pengorbanan dan doa khusus, untuk memohon agar sukma nenek moyang datang merestui pekerjaan te­nun mereka ini.
Ciri khas yang biasa terlihat pada kain Batak adalah se­derhananya gubahan dan warna, sehingga sering memberi kesan suram. Warna yang paling banyak ditemui adalah hitam, merah tua, coklat dan biru keabu-abuan. Pemakaian kapas sebagai-bahan utama mungkin mengherankan, kare­na sebenarnya tanah Batak diapit oleh dua daerah yang kaya kerajinan suteranya: Aceh di sebelah Utara, dan Minang-kabau di sebelah Selatan. Dua alasan antara lain,  pertama, iklim yang dingin di dataran tinggi tempat tinggal orang Batak, tidak cocok untuk mengembangbiakkan ulat sutera. Kedua, masyarakat yang sejahtera memungkinkan meluasnya peng-gunaan kain sutera, setidaknya untuk tingkatan ma­syarakat tertentu. Namun ada beberapa kain yang kelihat­an lebih mewah, dengan ditambahkannya hiasan dari ma­nik-manik, kerang-kerang kecil, pecahan logam atau kaca.
Bertenun kain di tanah Batak merupakan kerajinan yang dikerjakan di kalangan keluarga, khususnya kaum perempuan, walaupun pekerjaan sulaman kadang-kadang dilakukan kaum pria. Setiap rumah mempunyai alat tenunnya sendi­ri, dan setiap perempuan telah mengenal penggunaannya jauh sebelum memasuki usia pernikahan. Sampai saat ini masih mungkin terlihat perempuan Batak menggunakan alat tenun­nya di depan rumah adat, tetapi sayang hal semacam ini semakin jarang disaksikan.
Orang bertenun dengan me­makai alat sederhana sekali, yang diletakkan mendatar kira-kira 50 cm di atas lantai. Lungsin dibentuk dari benang sinambung, dan tegangan diatur dengan papan yang di­sandari si penenun. Patut diperhatikan bahwa jenis alat te­nun ini dapat disamakan dengan jenis yang terdapat pada kebudayaan kuno lainnya di Nusantara, seperti di tanah Dayak atau Nusa Tenggara Timur.
Tenunan Batak secara umum memakai cara ikat: sebelum ditenun, benang-benang sudah dicelup dalam bahan pe­warna, dengan bagian yang tidak ingin diwarnai diikat tali. Cara ikat ini kiranya berasal dari kebudayaan Dong-Son, dan pemakaiannya tersebar di hampir seluruh pelosok Nu­santara. Orang Batak menggunakan cara yang paling se­derhana dan umum dipakai, yaitu ikat lungsin, yang juga dipakai orang Dayak, Toraja, di pulau Sumba dan pulau­pulau lain di bagian timur Nusantara. Benang-benang dice­lup bahan pewarna berulang kali, sehingga pada waktu di­tenun membentuk pola hias yang umumnya di tanah Batak berupa garis-garis geometris.
Dari sekian banyak kain yang sering dipakai, perlu dise­butkan lebih dahulu ulos yang terkenal itu. Ulos adalah kain persegi panjang, yang sampai saat ini masih sering di­gunakan, baik oleh pria maupun perempuan. Pada kain ikat ini paling banyak terlihat warna hitam dan coklat keungu-­unguan (di daerah Toba) dan merah tua (di daerah Karo, Simalungun dan Mandailing). Bila warnanya memberi kesan suram, pekerjaan tenunnya sebenarnya justru amat halus. Di luar daerah Toba, warna kain lebih beragam dan hidup (misalnya kain sadum di Angkola sering berwarna bi­ru terang, dengan hiasan warna-warni).
Bila marga Batak dapat dipersamakan dengan dan Skot­landia, maka dapat dikatakan bahwa ulos memegang peranan yang sama dengan tartan, yaitu sekaligus sebagai pakaian, lambang kedudukan, tanda pengenal kelompok, dan benda keupacaraan dan keagamaan.
Bagi orang Batak, kain sangat penting peranannya seba­gai lambang, dan diberikan sebagai hadiah pada upacara adat dari pihak sang isteri kepada pihak sang suami. Kebiasaan upacara tukar-menukar antara pihak perempuan dan pihak pria ini, dimana kain memegang peranan yang penting sekali, terdapat di lain pelosok Nusantara. Misalnya peraturan mengenai "hadiah pernikahan" dalam adat orang Sumba, mirip sekali dengan kebiasaan orang Batak.
Segala bentuk hadiah dari pihak perempuan disebut ulos, wa­laupun bukan dalam bentuk kain, seperti umpamanya ta­nah. Sedangkan hadiah dari pihak pria disebut piso, walau­pun bukan dalam bentuk pisau atau senjata tajam lainnya: malah pemberian berbentuk senjata rupanya sangat lang­ka, dan piso itu biasanya berupa beras, ternak atau uang.
Penukaran hadiah antar garis keturunan terutama dila­kukan dalam upacara kelahiran, perkawinan dan kemati­an. Misalnya, puncak upacara perkawinan Batak adalah acara mangulosi, di mana kedua pengantin bersama-sama disampiri kain, suatu lambang yang terdapat pada berbagai kebudayaan dan agama.
Beberapa jenis kain yang mempunyai peranan keupaca­raan sudah tidak ada lagi, seperti kain berbentuk lingkar hijo mars itogu-toguan, yang dahulunya dipakai untuk upacara kelahiran, dan ulos lobu-lobu untuk upacara perka­winan. Tetapi masih juga ada beberapa kain keupacaraan yang tetap dibuat, seperti ulos ragi hotang, ulos godang (di Angkola), sibolang dan ragidup. Para ahli mengelompokkan lebih dari duapuluh macam kain Batak.
Di tanah Batak berlaku penilaian jenis kain yang diha­diahkan berdasarkan kedudukan serta umur orang yang menerima kain ini dan jenis upacara. Kain yang paling di­hargai adalah ragidup, yang berarti "kain yang hidup" (ragi idup). Kata idup telah disebut pada nama Debata Idup, dewa kehidupan. Pada kedua contoh ter-sebut idup berarti "memberi hidup" atau "menjamin kelangsungan hidup". Oleh karena itu, dewa ini sering dipanggil bila ada perempuan yang mandul.
Pada pesta perkawinan misalnya, kain ragidup ini oleh ayah pengantin perempuan diberikan kepada ibu pengantin pria. Bila seorang perempuan Batak memasuki bulan ketujuh dalam mengandung anak pertama, oleh keluarganya ia di­berikan ulos ni tondi yang diharapkan membawa anaknya kekuatan dan semangat dari marga sang ibu. Kain yang di­anggap sakti ini juga termasuk ragidup, digunakan dalam upacara keagamaan agar melindungi sang ibu atau anak­nya dari penyakit ataupun malapetaka. Ragidup adalah sehelai kain,dengan bidang tengah yang diapit pola lain pada kedua sisinya. Bidang tengah ini dibuat dengan cara pakan ganda, yang bila digabungkan dengan cara ikat lungsin memberi aneka ragam pola, namun selalu berupa garis geometris. Pola ini berupa lajur, berwarna gelap di tengah dan putih pada kedua ujungnya.

Gendang atau Gordang
Gong yang paling besar dianggap sebagai benda keramat, dan oleh karena itu diwariskan turun-temurun, sebagai tanda kebesaran keluarga yang memilikinya. Gendang (gordang), biasanya berbentuk tabung panjang. Nadanya dapat diatur melalui tali pengikat, yang diguna­kan untuk mengencangkan atau mengendorkan selaput gendang dari kulit kambing atau sapi. Selaput gendang ini ditabuh dengan tembung kecil. Jumlah gendang pada perangkat dapat berbeda: kadang-kadang hanya ada dua buah, tetapi lebih sering terdiri dari tujuh (di Toba) bahkan sembilan buah di Mandailing, dirangkaikan dengan tali serabut atau rotan (gondang sambilan), seruling, seperti sordam di Toba dan surdarn di Karo, atau (sarunai), juga di Karo, yang bentuknya serupa dengan suling asal Persia, yang nama aslinya pun tetap dipakai, alat bersenar yang asalnya dari Arab, disebut arbab di Toba, murbab di Karo, adalah serupa dengan rebab, se­perti halnya rebec, semacam biola pada jaman abad perte­ngahan di Eropa.

Perlu dicatat bahwa sebagian besar alat musik Batak ti­dak khusus terdapat pada kebudayaan mereka, karena gong, gendang, suling dan rebab juga ditemukan di be­berapa daerah lain di Nusantara.
Persamaan yang lebih erat terdapat pada beberapa kebudayaan lain. Misalnya di Sulawesi, ditemukan sarunai berlubang enam seperti yang terdapat di tanah Batak. Demikian pula tidak, diragukan lagi bahwa keroncong ber­senar ganda di Toraja adalah serupa dengan hasapi  Batak, sedangkan persamaannya dengan kecapi Jawa tidak begitu menonjol.
Tiap daerah di tanah Batak mempunyai perangkat bunyi­-bunyian sesuai dengan kebiasaan setempat, dan dimain­kan dengan tujuan tertentu.
Di daerah Toba dapat dibeda­kan dua jenis utama: gondang bolon dan gondang hasapi, yang susunannya akan diuraikan sebagai contoh;
Gondang bolon biasanya terdiri dari: gendang besar (gordang) satu, gendang ukuran sedang (taganing) lima, masing-masing bernada do, re, mi,  gendang kecil (odap-odap) satu, untuk memberi irama, kadang-kadang digantikan dengan sebuah lempengan logam, gong dari tembaga atau perunggu dan seruling (sarune atau sarunai).. Sedangkan gondang hasapi umumnya terdiri dari: hasapi dua, sarune kecil satu, seruling (sulim) satu, bumbung kecil (garantung) satu dengan lempeng kayu lima, bernada do, re, mi,  yang peranannya sama dengan kelima taganing pada gondang bolon.
Bunyi-bunyian Batak dimainkan pada berbagai upacara, dan sering kali mengiringi tarian adat (tortor Batak) yang dibawakan oleh pria atau perempuan. Seperti halnya lagu asli, tarian ini juga sudah mulai hilang, kalau pun belum punah.
Orang Batak, sebagaimana telah disebut sebelumnya, mengenal berbagai tarian kematian, seperti tari kuda, enggang dan si gale-gale, yang diiringi lagu dan seperangkat bunyi-bunyian.
Bila bunyi-bunyian serta tari-tarian dulu pada hakekat­nya berhubungan dengan agama, keduanya sekarang men­cerminkan perubahan mendalam, yang disebabkan oleh munculnya agama baru dan dunia masa kini, dengan segala pergolakannya yang semakin pesat.



Bibliografi:
Hadipurnomo,
            Film dan Foto, 1976
            Peliputan tertulis untuk Ford Foundation, 1978

Hadipurnomo, dikutip dari buku
            Seni Budaya Batak
            Dr. Jamalludin S. Hasibuan – 1985
            diterbitkan oleh Total Indonesie, Paris.

Koentjaraningrat, dkk.
            Manusia dan Kebudayaan di Indonesia
            Pajung Bangun,hal.94
            Penerbit Djmbatan 2007



Sumber:
http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=4&sqi=2&ved=0CDIQFjAD&url=http%3A%2F%2Fshare.uc.ac.id%2FDepartment%2FFEH%2FPrivate%2FDokumen%2520MKU%2FISBD%2F219%2520UC%2520KEBUDAYAAN%2520BATAK.doc&ei=GUd4ULSkMM7NrQfqvYHACA&usg=AFQjCNHRd8_kkPZieW8L-5qv_SUCX2hJKQ

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar